Assalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Terima kasih Kang Zainal, sebenarnya teknologi besi baja  ada 2 kelompok 
besar yaitu yang konvensional dan non konvensional seperti route ( Direct 
reduction - EAF -rolling ) yang sudah kita kuasai, tetapi untuk pengembangan 
kedepan karena keterbatasan gas alam sebagai bahan baku proses ( seperti 
pabrik pupuk yang kekurangan suplai hingga terpaksa slow down) perlu 
pengembangan dengan jalur yang berbeda , yang membutuhkan investasi cukup 
besar dan perlu adanya ketersediaan bahan baku lokal yang sesuai agar tidak 
tergantung dari impor, jika investornya yang mempunyai  teknologi ini maka 
kita dapat membangun pabrik baja baru dengan kapasitas hingga 10 juta ton 
dengan patner yang saling menguntungkan bagi bangsa Indonesia, bukan sekedar 
investor yang hit and run, mengingat nilai investasi industri ini cukup 
besar, jadi bukan membatasi investor yang sekedar mencari keuntungan jangka 
pendek
Mengenai kualitas produk KS cukup dapat bersaing dipasaran, di Australia 
prouduk HRC KS dikenal sebagai Volcano Steel.
sekedar info untuk bgmn penguasaan teknologi baja di Indonesia,ttp kita 
harus tetap belajar untuk meningkatkan diri supaya tidak ketinggalan dari 
orang lain.
Wassalam 
Tri Wibowo. S.Purnomo
 


-----Original Message-----
From: Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Date: Thu, 15 May 2008 15:46:35 +0700
Subject: [indonesia] Re: Mengapa harus jual KS ?

Mas Tri Wibowo, Pardi dan Rekans, 

Menteri Perindustrian mengatakan yang akan membeli sebagian saham PT. KS 
harus telah mempunyai teknologi tinggi sehingga bisa meningkatkan effisiensi 
PT.KS.
Apakah persyaratan tersebut hanya bertujuan membatasi calon investor atau 
memang dalam hal teknologi produksi besi dan baja PT. KS dianggap 
ketinggalan ? atau bahkan para insinyur Indonesia termasuk alumni ITB 
dianggap belum kuasai teknologinya ? :-(

Salam,
Zaenal   
 
At 11:08 05/05/2008, tri wibowo wrote:

Assalamu 'alaikum
Mohon maaf Mas Pardi , saya coba telepon ke kantor minggu yang lalu tetapi , 
sudah tidak ada ditempat.
Saya mencoba menjelaskan apa yang ingin diketahui topik hangat tentang KS 
yang hingga sekarang masih banyak menjadii berita  nasional.
Prinsipnya Industri baja dinegara manapun akan menjadi kekuatan nasional , 
oleh sebab itu kebijakan nasional tentang industri baja seharusnya dilakukan 
 secara terstruktur, terintegrasi dengan industri terkait ( hulu - hilir) 
merupakan pohon industri yang harus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan 
nasional, seperti yang telah dilakukan oleh Korea Selatan, India dan Cina 
tetapi tidak demikian untuk Indonesia, sehingga dalam kurun waktu yang 
bersamaan berdirinya dengan PT KS, Pohang Steel KOrea mampu tumbuh menjadi 
Indutri baja yang cukup disegani di Asia, krn. ada komitmen dan kebijakan 
pemerintah dalam mengembangkan industri baja dalam negeri, tidak hanya untuk 
PT KS tetapi juga untuk Pabrik baja dalam negeri lainnya.
Kebijakan tentang pembangunan industri baja / industri berat tidak dilakukan 
berkesinambungan , baik mengenai industri hulu maupun industri hilirnya , 
pengamanan bahan baku dan teknologi yang hrs. dikembangkan termasuk 
pengamanan produk yang dihasilkan, kebijakan kita masih berorientasi sebagai 
pedagang/trading bukan sebagai industriawan yang dalam mempersiapkan 
pengembangan industrinya seharusnya sampai ketingkat pendidikan generasi 
mudanya ( sumber daya manusia) Indonesia yang bermental baja yang 
berorientasi jangka panjang.
Mengenai bahan baku memang hampir 70 % masih impor, tidak berbeda jauh 
dengan Korea dan Jepang dengan sumber yang hampir sama , toh yang lebih 
penting adalah bagaimana meninkatkan added valuenya menjadi produk yang 
competitive.
Perlu diketahui opsi menggunakan bahan baku dari dalam negeri sudah 
dilakukan sejak tahun  1984 yang lalu PT KS bekerjasama dengan BPPT, PPTM 
dan perguruan Tinggi tetapi karakteristik sumber dari dalam negeri belum 
sesuai dengan kebutuhan PT KS dengan teknologi reduksi langsung, harus ada 
proses benefication untuk meningkatkan kandungan Fe  sampai diatas 65%, 
harus ada investor yang masuk ke Industri Iron making,padahal kita ketahui 
iklim investasi dengan adanya otonomi daerah sekarang ini masih mensyaratkan 
adanya kepastian usaha bagi investor krn proyek ini bersifat jangka panjang.
Bagi rekan rekan metalurgi /TK  atau jurusan lain yang belum pernah terlibat 
dalam industri baja melihat masalah ini tentu bertanya apa sich sulitnya ? 
Tetapi bagi yang memahami bisnis sektor pertambangan akan faham bahwa 
ekploitasi mineral membutuhkan investasi yang besar dan jangka waktu yang 
cukup panjang, tidak seperti  membuat kacang goreng.
Potensi bahan baku ada di Kalimantan dan Sulawesi, daerah lain di Jawa, 
Bangka Belitung cadangannya relatif sedikit.
Yang diharapkan dari PT KS dengan adanya investor baru untuk pengembangan PT 
KS kedepan adalah investor yang tidak saja mempunyai dana tetapi mempunyai 
teknologi yang diperlukan dan berinvestasi di Indonesia ( Kalimantan / 
Sulawesi ) karena untuk mencapai kapasitas produk diatas 10 juta ton ,ada 
keterbatasan sumber daya jika lokasinya di Cilegon disamping untuk 
pemerataan pembangunan dan dekat dengan sumber bahan baku.
Skenario terbaik adalah melalui IPO dengan saham yang ditawarkan lebih 
kurang 35 %, untuk membiayai Proyek pengadaan bahan baku di Kalimantan 
Selatan  dalam hal ini PT KS bekerjasama dengan PT Antam yang berpengalaman 
dibidang pertambangan.Prioritas utama adalah menyeimbangkan suplai bahan 
baku dan kapasitas produksi hulu hilir dengan memanfaatkan potensi dari 
dalam negeri dengan memilih teknologi proses yang sesuai.
Peminat -Investor tidak hanya Mittal saja ,masih ada yang lain yaitu Tata 
Steel ( India ) dan BHP ( Australia ) sehingga keputusannya dikembalikan ke 
Pemegang Saham untuk dicarikan solusi terbaik bagi KS kedepan, mengingat 
posisi strategis PT KS saat ini untuk mengemban tugas negara dan bisnis baja 
di dalam negeri dan kinerja perusahaanPT KS dan grup  cukup  hingga bulan 
April 2008 ini masih cukup baik.
Demikian penjelasan singkat saya , Terima kasih atas perhatiannya dan salam 
buat rekan rekan yang ikut peduli terhadap masa depan PT Krakatau Steel 
sebagai asset nasional
Wassalamu 'alaikum
 
Tri Wibowo S. Purnomo
 


-----Original Message-----

From: Supardi Zainal <[EMAIL PROTECTED]>

To: [email protected], Tri Wibowo <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Tue, 29 Apr 2008 00:33:14 -0700 (PDT)

Subject: Re: [indonesia] Re: Mengapa harus jual KS ?


Saya perlu sharing dengan Pak Tri Wibowo (TK 73) yang sudah malang melintang 
di KS. Apa pendapatnya. Tolong kasih komentar terhadap pertanyaan2 saya dan 
kawan2 yang lain.

Terimakasih Pak Tri


--- On Tue, 29/4/08, ibnu utama <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: ibnu utama <[EMAIL PROTECTED]>

Subject: [indonesia] Re: Mengapa harus jual KS ?

To: [email protected]

Date: Tuesday, 29 April, 2008, 12:34 PM



Nimbrung ya,  Perspektif dalam meninjau KS dan Mittal
haruslah dalam 

kerangka lingkungan industri dunia saat ini yang bersifat
kapitalistik. 

Mittal itu adalah Singa Besar, dan KS itu adalah Kucing
Rumahan.  Posisi 

Mittal adalah posisi strategis yang dapat mengunci KS dari berbagai
sisi, 

baik supply bahan baku, pasar, maupun sumber daya manusia. Dengan 

menggandeng Antam, berarti Mittal dapat mengunci KS dari sisi supply
bahan 

baku. Dan bisa jadi manuver-manuver bisnis lain yang dapat mengunci
KS.  

Yang realistis adalah harus kita terima Mittal, karena biar
bagaimanapun KS 

butuh Mittal dari sisi finansial dan pasar. Hanya kemudian harus
dibuatkan 

regulasi industri strategis seperti KS bahwa investasi asing tidak
akan 

melebihi 50% atau angka yang lain yang lebih realistis. 
Masalahnya kemudian 

adalah kemampuan bermitra KS terhadap Mittal. Bisakah manajemen KS
mendapat 

manfaat optimal dari masuknya Mittal ke KS.  Tidak ada cara
lain, kalau yang 

ekstrim ya...perekonomian kita tutup dari pengaruh luar, seperti
zaman 

kaisar Jepang dahulu kala.  Salam,  Ibnu Utama TI
91   --- On Tue, 4/29/08, 

Supardi Zainal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  > From:
Supardi Zainal 

<[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [indonesia] Re: Mengapa
harus jual 

KS ? > To: [email protected] > Date: Tuesday, April 29,
2008, 

11:06 AM > Industri Logam dunia sekarang ini lagi buming. Sayang
kalau 

> saham KS dijual. Jika mau meningkatkan kapasitas, mengapa >
harus 

menggandeng Mittal? Kalau mau meningkatkan supply > bahan baku
kenapa 

Mittal mau menggaet ANTAM? Jika demand > domestik sampai 7 Juta
tpy  tapi 

produksi KS hanya 2,5 Juta > tpy maka domestic market terbuka
lebar. Ini 

peluang yang > sangat besar. >   > Pertanyaan saya
: > 

1.Darimana supply bahan baku untuk KS ? Apakah biji besi >
Indonesia 

cukup potensial  >    untuk memenuhi kebutuhan
KS? >    Jika deposit 

biji besi Indonesia cukup untuk memenuhi > kebutuhan KS sampai
kapasitas  

>    7 juta tpy maka sebaiknya diolah sendiri oleh
ANTAM dan > KS agar 

Added Value bisa  >    dinikmati 100 % oleh
bangsa ini >    Jika 

depositnya kurang, cari melalui import. Saya yakin > KS bisa cari. 

Sekarang yang  >    sedang mengamankan supply
bahan baku untuk negerinya 

> adalah China dan India.  >    Industri
Pertambangan yang sedang 

gencar memperluas > sayapnya untuk mengamankan 
>    supply misalnya 

Rio Tinto bersama China mengakuisisi BHP > Australia. jadi hati2.
Mittal  

>    sebenarnya mau mengamankan supply untuk siapa?
> 2.Jika KS akan 

meningkatkan kapasitas produksi, apa > kendalanya? Modal? Kalau
SDM,  

>    yakinlah orang Indonesia mampu. Proses? Saran
saya ganti > saja 

bahan reduktornya  >    yang sekarang pakai
Gas diganti dengan Kokas 

(Karbon) > dari Batubara dengan  >   
membuat Coke Oven karena hasil 

sampingnya (Coal Tar > Pitch) sangat diharapkan untuk 
>    supply ke 

Pabrik Aluminium Asahan, harganya juga mahal > sekitar 450
USD/ton, .   

>    Kokasnya bisa disupply ke Pabrik Aluminium dan
Pabrik2 > 

Peleburan Besi yang lain,  >    harganya juga
hahal sekitar 400 USD/ton, 

jadi sekalian > meningkatkan added value 
>    Batubara. >    

Modal? Katanya bank2 di Indonesia sedang banyak uang > tidur,
bingung  

>    menyalurkannya. Kalau ANTAM yang beli saham KS
baru > cocok. > 

  > Jadi kalau KS menolak menjual saham ke Mittal saya pikir
> 

baguslah >  > --- On Mon, 28/4/08, Harlizon MBAu > 

<[EMAIL PROTECTED]> wrote: >  > From: Harlizon MBAu 

<[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [indonesia] Re: Apa
sebenarnya yang 

diperlukan KS > ? was Re: Heboh KS: Senyum manis Fahmi... > To: 

[email protected] > Cc: [EMAIL PROTECTED] > Date:
Monday, 28 

April, 2008, 11:54 PM >  >  > Wah... Mana ngerti
aku Mas... Tanyain 

ke KS dong...! > Yang saya tahu, setiap yang berbau pembangunan
fisik dan 

> teknologi pasti menggunakan besi atau baja. > Jadi jika masih
ada 

pembangunan fisik dan teknologi akan > "SELALU"
tergantung (diperes) jika 

Mittal jadi > mbeli... > Apalagi dia minta macam-macam yang
lain 

sepagai supporting > industri bajanya seperti dalam paragraph
artikel 

email yang > Mas kirimkan sebelumnya: >  > "Dalam
pertemuan itu, 

menurut Fahmi Idris, Lakshmi > menyampaikan tiga opsi kepada
Presiden 

SBY. Pertama, Mittal > akan mengembangkan sendiri usaha
pertambangan yang 

berkaitan > dengan industri baja. Kedua, Mittal menawarkan diri
menjadi 

> mitra strategis >  bagi KS. Ketiga, Mittal akan
mendirikan 

perusahaan > patungan bersama KS. Selain menggandeng BUMN baja
itu, > 

Mittal juga berniat menjalin kerja sama dengan PT Aneka > Tambang
Tbk 

(Antam) untuk memasok bahan baku. Presiden SBY > kata Fahmi Idris, 

menanggapi positif semua opsi yang > diajukan Mittal." > 


http://www.rusdimathari.wordpress.com >  > Hebat kan...!
Mittal yang 

mengajukan opsi ke SBY > (mudah-mudahan ini cuma bahasanya si
pengarang 

artikel > saja), bukannya SBY yang menyajukan opsi ke Mittal.
>  > 

Mas kan nga minta macam-macam yang lain to...??? >  > Apa
suratnya 

jadi dikirim ke Meneg BUMN??? > Jadi di follow >  up
nga??? >  > 

Salam Z >  >  >  > 2008/4/26 Achmad Zaenal
Abidin > 

<[EMAIL PROTECTED]>: >  >  > Harlizon
dan Temans,  >  

> Sebenarnya ada latar belakang apa sehingga PT. KS harus >
dijual 

sebagian sahamnya ? apakah murni ingin meningkatkan > kapasitas 

produksinya dengan 7-8 juta ton/tahun ? > Apakah benar selama ini
baja 

yang diimport belum diproduksi > di KS ? sehingga perlu nambah
investasi 

untuk sebagai > substitusi baja import ? > Apakah dengan
penambahan 

kapasitas produksi KS, industri > Nasional benar benar akan bisa 

menyerapnya ? atau mesti > diexport sebagian ? >  >
Salam, > 

Zaenal  >  > At 23:23 25/04/2008, Harlizon MBAu
wrote: >  >  

> Bener kan Mas... >  > Senyum  manis  Fahmi
itu lho... >  >  

>

http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=114147 >  >
Tekad 

Baja Menolak Sang Raja >  > Keinginan Lakshmi Mittal masuk
ke Krakatau 

Steel mengundang > reaksi negatif dari karyawan hingga komisaris.
Pekerja 

> Krakatau tak sudi menjalin kerja sama dengan Mittal. >
"Kami meminta 

komisaris dan direksi memperjuangan > privatisasi lewat IPO. Itu
harga 

mati," kata Budi > Santoso, Ketua Umum Serikat Karyawan
Krakatau Steel. 

>  >

http://www.gatra.com/images/gambar/239/18.jpg >  > Sepuluh 

tahun lalu, Mittal yang terkenal ke seantero dunia > setelah
membeli 

pabrik baja terbesar di Eropa, Arcelor, > pada 2006 sesungguhnya
hampir 

saja bisa mempersunting > Krakatau. Ketika itu, lewat bendera
>  Ispat 

International, Mittal meneken nota kesepahaman (MoU) > dengan
Menteri 

Negara BUMN, Tanri Abeng. Mittal sepakat > membeli 49% saham
Krakatau. 

>  > Keinginan Mittal itu gagal setelah manajemen Krakatau
> 

melakukan perlawanan. Manajemen merasa tidak diajak > berrembuk
dan tidak 

sreg dengan cara Menteri BUMN > menggandeng Mittal. Skenario Tanri
melego 

Krakatau pun > buyar setelah anggota DPR-RI ikut menentang.
>  > 

Untuk sementara, upaya Mittal meminang Krakatau gagal. > Namun
pengusaha 

yang kini menetap di Inggris itu tidak > patah hati. Sejak
kegagalan itu, 

ia tetap melakukan > sejumlah langkah untuk mengambil hati sang
pujaan 

dan > orangtuanya. Pendekatan terus dilakukan, baik kepada >
manajemen 

Krakatau maupun Menteri BUMN, orangtua Krakatau. > Di masa
Presiden 

Megawati Soekarnoputri, Mittal mencoba > masuk ke Krakatau, tapi
gagal. 

>  > Upaya itu terus ia lanjutkan di masa Presiden Susilo
> Bambang 

Yudhoyono. Mittal mengirim surat ke Menteri BUMN, > Sugiharto.
Tujuannya, 

>  ingin bertemu dengan Pak Menteri untuk membicarakan >
keinginannya 

masuk ke Krakatau. Oleh Sugiharto, surat itu > diteruskan ke
manajemen 

Krakatau untuk mendapat > pertimbangan. Hasilnya, lagi-lagi Mittal
belum 

bertemu > jodoh. >  > Rencana penjualan Krakatau
terakhir dibahas 

pada akhir > Maret lalu dalam rapat dengar pendapat antara
manajemen > 

Krakatau dan Komisi XI DPR. Dalam rapat itu, suara lebih > banyak 

mendukung IPO. Sebagian yang lain lebih condong pada > strategic
sale. 

Toh, rapat itu belum memutuskan pola yang > akan dipilih.
>  > Yang 

pro-IPO antara lain Dradjad Wibowo. Anggota dewan dari > Partai
Amanat 

Nasional itu menilai, Krakatau sebaiknya > dikembangkan oleh
bangsa 

sendiri. Dana pengembangan > Krakatau, selain dari IPO, juga bisa
didapat 

dari lembaga > keuangan lainnya. >  > Sedangkan yang
pro-strategic 

sale antara lain Habil Marati, > anggota Komisi XI DPR dari Partai 

Persatuan Pembangunan. > "Namun tidak harus Mittal, ya,"
katanya. Pola 

>  strategic sale ini pada prinsipnya harus mencari pembeli
> yang 

punya kemampuan mengembangkan usaha, punya teknologi. >
"Sedangkan Mittal 

kemungkinan hanya untuk memperkuat > pasarnya. Mittal bukanlah
tipe 

pengusaha baja yang > mengembangkan teknologi," ujarnya.
Karena itu, > 

prosesnya harus lewat tender terbuka. >  > Menteri
Perindustrian Fahmi 

Idris menyatakan, kemitraan > strategis dengan Mittal akan
meningkatkan 

produksi Krakatau > menjadi 8 juta hingga 10 juta ton pada 2011.
Selama 

30 tahun > --sejak berdiri-- kinerja Krakatau Steel tidak optimal.
BUMN 

> baja ini hanya mampu menghasilkan 2,5 juta ton baja. Itu tak
> 

sebanding dengan kebutuhan baja yang mencapai 7 juta ton per >
tahun. 

Akibatnya, Indonesia sangat bergantung pada baja > impor.
"Yang kita 

butuhkan adalah peningkatan produksi > sehingga menguasai pasar, 

efisiensi, dan mememuhi kebutuhan > nasional," kata Fahmi.
>  > 

Fahmi mengambil contoh ketergantungan industri otomotif > pada
baja 

impor. "Padahal, kan >  besi dan pelat baja untuk
kebutuhan otomotif itu 

captive > market," katanya. Pemerintah, kata Fahmi, berharap
> Arcelor 

Mittal, yang setiap tahun memproduksi 120 juta ton > baja, bisa 

menggenjot produksi Krakatau Steel. Pernyataan > Fahmi itu
kemudian 

memunculkan dugaan bahwa dialah yang > mengundang Mittal masuk ke 

Krakatau. >  > Irwan Andri Atmanto, Syamsul Hidayat, dan
Mukhlison S. 

> Widodo > [Laporan Utama, Gatra Nomor 24 Beredar Kamis, 24
April > 

2008] >  >  > Send instant messages to your online
friends > 


http://uk.messenger.yahoo.com >  > -- > Berlombalah
dalam karya, 

bersinergi, terapkan kaidah > ilmu/teknologi serta > kasih
sayang dan 

manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan > dunia dan akhirat.
>  

> Info pengelolaan milis Indonesia next better : > 



http://pub.nextbetter.net/files/info-milist-indonesia.txt
         


____________________________________________________________________________________
 


Be a better friend, newshound, and  know-it-all with Yahoo!
Mobile.  Try it 

now. 

http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 
--  

Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi
serta 

kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan 

akhirat.  Info pengelolaan milis Indonesia next better : 



http://pub.nextbetter.net/files/info-milist-indonesia.txt




Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke