Seperti yang saya katakan ... yang memulai duluan "memukul" (kekerasan
fisik) itu akan menjadi tertuduh. Silahkan saja baca undang2 yang ada.

Ibaratnya, kalau seseorang terprovokasi (melalui tulisan, ejekan,
suara) ... lalu yang terprovokasi itu membalas dgn "pukulan"
(kekerasan fisik) ... maka tetap yang salah adalah yang melakuan
"tindak kekerasan" lebih dulu. Kalau provokasi dgn ejekan ... ya balas
juga dgn ejekan.

Dimana-mana hukum ya begitu. Di negara maju juga begitu ... ;-)

Masak ... orang mukul dibilang wajar ? Itu hukum rimba namanya ...

salam,

-ai-


On Fri, Jun 6, 2008 at 9:44 AM, Joko Julianto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Halo Mas Adi......postingan sebelumnya sudah dibaca belum ya.....? Saya
> salin lagi di bawah ini.
> Analogi sederhananya...kalau tiba2 Anda memukul kawan Anda, apakah Anda
> melakukan ini tanpa sebab? Kalau polisi mengurung Anda karena hasil pukulan
> Anda, apakah Anda hanya akan diam saja? Bukankah Anda akan melakukan argumen
> bahwa pukulan yang Anda lakukan pasti ada sebabnya? Singkat kata, Anda pun
> akan berusaha mencari pembenaran dari apa yang Anda lakukan.
>
> Sebaiknya kita melihat dari berbagai sudut....bukan sekedar 'pokoknya
> pemukul kudu dihukum' tanpa melihat dan mencari tahu sebab. Kok terlalu
> dangkal pola pikir semacam ini...
>
> Joko Julianto
> _______________________________
>
>  Penyerangan FPI terhadap AKK-BB dapat dikatakan sebagai tindakan yang
> wajar. Asumsi ini disandarkan kepada siapa yang pertama kali yang meyulut
> api. Saat melakukan orasi anggota AKK-BB memancing kemarahan dengan
> mengatakan "FPI laskar setan" dan ucapan sarkasme lainnya. Selain itu
> kemarahan FPI semakin terbakar ketika anggota AKK-BB mengeluarkan senjata
> dan menembakkan ke udara.
>
> Kebanyakan media hanya mengekspos kejadian puncak, saat terjadi pemukulan
> yang dilakukan FPI. Rekaman itu disiarkan berulang-ulang di beberapa stasiun
> televisi. Tentu saja, reaksi yang muncul bertambah bencinya masyarakat atas
> aksi-aksi yang dilakukan FPI.
>
> Tulisan ini tidak hendak melakukan pembelaan terhadap FPI. Namun, sebagai
> manusia yang cerdas, kita mesti melihat persoalan secara komprehensif. Kita
> harus memilah suatu fakta dengan merujuk pada apa penyebabnya, kemudian
> harus ada penyampaian data dari berbagai versi beserta penyerahan bukti
> (FPI, AKK-BB dan saksi yang berada di dekat kejadian), kemudian proses
> penyesuain data dari masing-masing pihak, setelah itu barulah merujuk pada
> ideologi yang dibawa oleh masing-masing kelompok.
>
> Pengambilan kesimpulan yang serta merta langsung mengerucut kepada term
> "Islam tidak mengenal kekerasan", adalah tindakan terburu-buru yang
> mereduksi fakta-fakta yang ada. Meskipun FPI mengusung simbol-simbol Islam,
> namun kita harus meletakkan kelompok ini sebagai komunitas massa objektif
> yang juga memiliki sifat marah jika diejek.
>
> Mungkin kita hanya tersenyum sinis ketika melihat ketidaksabaran yang
> berujung kepada tindakan anarkis. Namun, kita juga mesti memahami dalam
> kondisi yang emosional, di tengah terik semangat yang mengebu-gebu,
> seringkali kesabaran dan rasionalitas memudar. Hal inilah yang tidak
> diperhatikan oleh AKK-BB yang sengaja membangkitkan kemarahan FPI dengan
> tindakan arogan menggunakan senjata api.
>
> Jangankan FPI, seorang intelektual, anggota DPR bahkan Presidenpun ketika
> disulut emosinya, akan marah dan melakukan tindakan yang pada kondisi normal
> akan kita nilai sebagai tindakan yang berlebihan. So, marilh kita ikuti
> kelanjutan cerita ini dengan jernih…
>
>
>
> From: azhari musa <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Thu, 5 Jun 2008 12:40:08 -0700 (PDT)
>
> Sangat memprihatinkan, saudara-saudara kita se-iman di Tanah Air sedang
> dihadapi konflik yang bisa menyulut pergelutan antar sesama ummat Islam, dan
> lagi-lagi yang jadi korban adalah akar rumput=Muslimin=rakyat. Sedang pucuk2
> Pimpinan mereka  dengan hidden agendanya hanya dengan modal cuap-cuap di
> hadapan Media dapat meraup aliran dana yang tidak sedikit.
> FPI (Front Pembela Islam) siapa yang membela FPI???
> Tak perlu komentar panjang lebar deh, silakan saja antum baca dua topic yang
> saya cuplik dari eramuslim.com rubrik Ust. Mejawab, Mohon maaf bagi yang
> telah membaca tapi untuk mengingatkan kembali taka pa deh
> Allahuma arinal-haqqo haqqo, warzuqnat-tibaa’ah wa arinal-baathila
> baathila warzuqnaj tinaabah.
> Apa yang anda lihat tentang 'aksi-aksi anarkis' Front Pembela Islam (FPI) di
> media, tidak pernah lepas dari penilaian subjektif dan objektif media itu
> sendiri. Kalau kesannya aksi-aksi itu anarkis, memang liputanya memang
> dibuat sedemikian rupa, setidaknya kesan anarkis itu memang diekspose, entah
> tujuannya untuk memojokkan posisi FPI, atau untuk menggambarkan betapa umat
> Islam itu anarkis atau memang sekedar kerjaan insan media yang haus sensasi.
> Yang terakhir itu dimungkinkan karena karekteristik media, terutama televisi
> memang butuh liputan dan gambar yang sensasional. Gambar-gambar yang
> menampilkan proses awal di mana para anggota FPI sedang melakukan negosiasi
> kepada para pemilik tempat hiburan yang secara hukum memang melanggar
> peraturan resmi, nyaris tidak menarik untuk ditampilkan.
> Tetapi ketika pihak pengelola tempat hiburan melakukan pelemparan dan
> provokasi, lalu FPI mempertahankan diri atau balas menyerang, secara gambar
> memang merupakan momen yang cukup menarik. Gambar para aktifis merusak
> tempat hiburan itulah yang dinaikkan di layar kaca. Karena secara visual,
> gambar itu lebih menarik ketimbang gambar orang sedang diskusi yang terlihat
> hanya pasif dan itu-itu saja.
> Namun tidak tertutup kemungkinan ada unsur kesengajaan dalam penayangan
> gambar anarkisme yang terjadi. Sangat dimungkinkan bahwa pihak media
> dimanfaatkan oleh para cukong pemilik tempat hiburan yang bergelimang dengan
> harta itu untuk menampilkan kesan seolah-olah FPI itu tidak lebih dari
> segerombolan orang yang bertindak anarkis.
> Â Tidak pernah diulas kenapa sampai terjadi tindakan itu. Media seolah-olah
> bagai macan ompong ketika harus bicara tentang para pengusaha tempat hiburan
> yang melanggar Perda dan perundangan. Yang dimunculkan selalu kesan bahwa
> FPI adalah pelaku tindak anarki. Namun pengusaha tempat maksiat yang
> jelas-jelas melanggar hukum negara dan sekaligus hukum agama, sama sekali
> tidak pernah diungkap
> Mengapa tidak pernah diungkap?
> Karena para cukong itu punya uang tak terhingga jumlahnya untuk bisa membuat
> para wartawan, jurnalis bahkan pemred media sekalipun untuk duduk manis dan
> tenang, tidak mengorek kesalahan para pengusaha maksiat. Sebaliknya, uang
> juga bisa membuat mereka lebih fasih untuk mengatakan bahwa biang keroknya
> adalah FPI.
> Â
> Â
>
>
> ________________________________
>> Date: Fri, 6 Jun 2008 09:09:14 +0700
>> From: [EMAIL PROTECTED]
>> To: [email protected]
>> Subject: [indonesia] Re: Fwd: [anggotaicmi] Membongkar Jaringan AKKBB
>> (Bag.1)
>>
>> Apapun latar belakang AKKBB ... kalau satu pihak sudah mulai menyerang
>> secara fisik duluan ... ya yang menyerang itulah yang salah. Menurut
>> saya FPI sudah melanggar aturan dan bermain dgn cara "kasar" ... .
>> Mereka main hakim sendiri ...
>>
>>
>> salam,
>>
>> -ai-
>>
>>
> ________________________________
> Click here Search for local singles online @ Lavalife.

--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke