Sebetulnya test kesehatan belumlah cukup untuk mengetahui apakah seseorang itu cukup punya kemampuan untuk melakukan latihan fisik yang cukup berat. Kalau di US Army, setelah seseorang lulus test kesehatan, mereka ditampung dahulu di tempat yang disebut sebagai, sorry saya lupa namanya..:), dimana mereka selama 1-2 minggu dilatih fisik yang di bawah standard, misalnya lari 1 miles, atau push-up 10 kali karena bisa saja walaupun kesehatannya baik, akan tetapi tubuhnya belum siap latihan fisik yang keras..mungkin karena jarang atau nggak pernah olah raga..Latihan fisik perlahan2 dinaikkan, sampai mencapai standard tertentu (yang masih di bawah standard seorang tentara)..dan kalau lulus test bisa langsung terus ke Basic Combat Training (BCT) buat digojlok:). Di BCT kemudian latihan fisiknya perlahan2 digenjot lagi sampai mampu ikut latihan terakhir, dimana mereka di suruh merayap dengan kondisi sekitar 20 cm di atas mereka dihujani dengan tembakan2 Machine Gun (M60) yang lumayan cukup jauh jaraknya.
salam, -Irsal ________________________________ From: yorga effendi <[email protected]> To: [email protected] Sent: Friday, February 13, 2009 7:40:28 AM Subject: [indonesia] Re: Tentang Ospek: Kita butuh Fakta, bukan tuduhan Saya setuju dengan dhita. Komentar2 yang bermunculan sekarang lebih berupa tuduhan daripada fakta. Saya bukan anak GD, tetapi sedikit banyak saya tahu prosedur kesehatan yang harus dijalani oleh anak2 GD sebelum berangkat OS. mereka diwajibkan untuk medikal check up hingga 4 kali, untuk meyakinkan bahwa tidak ada peserta yang sakit atau mengidap penyakit yang berpotensi fatal. dan ini adalah SOP dari setiap pelaksanaan OS. kawan sekosan sy hari ini kebetulan anak GD, Dia menceritakan bhwa kegiatan OS tahun ini sudah dikonsep sedemikian sehingga tidak ada sama sekali gamparan atau kekerasan fisik lainnya. Yang dilakukan hanyalah long march dari kampus hingga ke Gunung Batu, Lembang. Yang saya tunggu sebenarnya kejelasan dari pihak2 berwenang ttg kronologi dan sebab2 kematian Nugroho. Namun hingga hari ini saya hanya melihat tindakan dan keputusan reaktif pihak rektorat yang (menurut saya) sangat tidak bijak. Kemungkinan besar Purek 3 sekarang, Dr Ir Widyo Nugroho, yang memang dosen GD (dan pastinya mantan Mhs GD, juga kemungkinan besar korban OS ganas di zaman itu) telah bias dalam menilai. meminjam kata2 mas Andri, kemungkinan "proyeksi pikiran" beliau ttg OS hari ini masih seperti OS di angkatannya, sehingga keputusannya terlihat emosional dan berlebihan. Sayang sekali. wassalam Yorga ________________________________ From: Dhita Yudhistira <[email protected]> To: [email protected] Sent: Friday, February 13, 2009 7:17:45 PM Subject: [indonesia] Tentang Ospek: Kita butuh Fakta, bukan tuduhan Saya kurang happy dengan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan. Saya pribadi mengikuti perkembangan OS dari jaman saya (96) sampai dengan tahun 2000-an. Bukan hanya mengikuti, dalam scope tertentu ikut 'berkelahi' agar OS melunak. Oleh karena itu saya berani bilang, rekan-rekan 90-an jangan lagi berpikir OS ITB seperti jaman sampai dengan 90-an akhir. Sangat berbeda. ITB sekarang berbeda. Saya ambil contoh sederhana. Saya diundang oleh angkatan 2003-an untuk mengisi acara dan diperkenalkan sebagai,"Ini dulu dari jaman waktu ITB suka berantem dan pukul-pukulan". Sungguh, saya tidak mengira bahwa akan ada generasi muda yang melihat ITB masa saya sebagai tukang berantem dan pukul-pukulan. Beberapa rekan geodesi 2000-an mengatakan bahwa memang tidak ada kekerasan fisik dan terus terang sampai saat ini saya belum baca satu pun berita yang mengatakan bahwa terjadi kekerasan fisik. Yang dilakukan oleh orang-orang di milis ini adalah merefleksikan Ospek mereka dengan yang sedang ramai dibicarakan. Kalau yang terjadi kelelahan, apakah kelelahan bisa terakumulasi menjadi kematian dalam periode yang pendek? Bagai mana standar pengujian kesehatan? Saya tidak bilang bahwa tidak terjadi apa-apa di ospek. Yang saya katakan adalah, kita sampai saat ini belum tahu kenapa almarhum meninggal. Apakah dipukuli? Apakah terlalu lelah? Apakah memang terpeleset dan jatuh? Apakah ini memang hanya seperti yang dikatakan oleh orang-orang,"Shit happens?" Sampai hal itu terungkap, sebaiknya tidak usah terlalu banyak omong, apalagi bertindak. Memblacklist 52 alumni, membekukan ikatan alumni geodesi, menutup jurusan Geodesi selama setahun, menurut saya adalah tindakan gegabah. Mahasiswa ITB berganti setiap tahun, tapi dosen tidak. Masa sih pihak jurusan/rektor tidak punya pengetahuan terakumulatif dan kolektif yang bisa dipakai untuk mengajak/membujuk/mengakali mahasiswa untuk mengganti metoda? Rekan-rekan 2003-2004 sempat mengeluhkan. Memanggil anak TPB untuk sekedar mentoring (kuliah) atau buka puasa bersama saja sulit. Karena takut dituduh meng-OS. Dan karena sifat anak-anak jaman sekarang yang cenderung individualis. Buat saya, dan buat rekan-rekan yang sudah merasakan pentingnya network, ini bukan gejala yang baik. Apakah ITB tidak bisa, menegosiasikan hilangnya OS misalkan dengan kewajiban untuk ikut Unit Kegiatan Mahasiswa seperti di tahun 70-an? Atau untuk jurusan Geodesi (Geologi), ketika senior benar-benar merasa bahwa kegiatan outdoor perlu, tidakkah ini bisa diakomodasi jurusannya? Apakah ITB masih merasa bahwa mahasiswa sekarang adalah musuh, seperti waktu jaman Orba? Ospek tidak pernah hilang karena ITB tidak menanggapinya dengan serius. Pelarangan tidak akan pernah efektif untuk sesuatu yang memang tidak perlu ijin. Ancaman bukanlah jawaban untuk komunitas yang mengaku sebagai intelektual terbaik di negeri ini. Kalau memang ITB serius, ITB harus bisa membuat acara pengenalan kampus yang memang mengakomodasi banyak pemikiran, dan bukan hanya sebuah acara yang dibuat karena harus menggantikan OSPEK yang ada. Sementara itu, 3 orang mahasiswa terancam drop out: Ketua IMG, Ketua Panitia, dan Korlap. Padahal dalam beberapa tahun terakhir, Ketua Himpunan menjadi ujung tombak perubahan Ospek ke arah yang lebih baik. Dan jika ITB sedikit saja perhatian akan isu besar ini, maka ITB harusnya paham tentang hal tersebut. .Dhita Yudhistira. --- On Fri, 2/13/09, Supardi Zainal <[email protected]> wrote: From: Supardi Zainal <[email protected]> Subject: [indonesia] Re: Panitia Ospek ITB Mengaku Takut kepada Senior To: [email protected] Date: Friday, February 13, 2009, 5:42 PM Panitia Ospek dan Seniornya perlu "dilatih" dulu sebelum memplonco adik2 kelasnya. Supaya tahu kalau yang dirasakannya tidak enak. Contohnya, suruh dia latihan mematahkan beton cor /besi cor dulu sebelum tangannya dipakai memukul adik kelasnya. Kalau tangannya bengkak, dia tahu sakitnya. Kelihatannya kok seperti kurang kerjaan, memplonco adik kelasnya sampe mati. Bikin malu saja. --- On Fri, 13/2/09, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> wrote: From: Mohammad Andri Budiman <[email protected]> Subject: [indonesia] Panitia Ospek ITB Mengaku Takut kepada Senior To: [email protected] Date: Friday, 13 February, 2009, 3:14 PM Para swasta brutal ini kan sebenarnya hanya (terlihat) berani dengan orang yang bisa ditakut-takutinya.. para mahasiswa baru yang masih ABG -- yang menyitir Britney Spears "not a boy, not yet a man". Tunggu sajalah habis lulus, giliran swasta itu mungkin yang mati ketakutan. Kriminalitas ini, tahun berapapun mereka melakukannya di ITB, harus mereka pertanggungjawabkan secara hukum. Dan lebih baik menyerahkan diri sajalah dan minta maaf secara terbuka (tidak perlu jalur hukum dan lainnya), daripada masih ada di antara eks-juniornya yang hendak menyelesaikan ini dengan caranya sendiri-sendiri. Salam, Andri HMS93 UKSU93 Source: http://regional.kompas.com/read/xml/2009/02/13/11375183/Panitia.Ospek.ITB.Mengaku.Takut.Kepada.Senior ---begins--- Panitia Ospek ITB Mengaku Takut kepada Senior JUMAT, 13 FEBRUARI 2009 | 11:37 WIB JAKARTA, JUMAT — Pihak panitia penyelenggara ospek Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Geodesi mengakui bahwa mereka berlaku keras kepada junior karena takut kepada alumni senior. Mereka takut dianggap tidak melanggengkan tradisi jika berlaku lembek kepada para junior. Hal tersebut dikatakan oleh Dr Ir Widyo Nugroho, Wakil Rektor ITB bidang Kemahasiswaan dan Alumni, pada talk show "Ospek Maut Terulang Lagi" di Jakarta, Jumat (13/2). "Setelah kejadian itu, saya memanggil panitia dan mereka mengatakan, 'kami takut, Pak kepada senior-senior alumni," kata Widyo. Talk show itu menyusul kematian Dwiyanto Wisnu Nugroho saat menjalani OS Ikatan Mahasiswa Geodesi ITB di Desa Pager Wangi, Lembang, Bandung. Diketahui, tanggal 8 Februari, Dwiyanto diberitakan sakit saat mengikuti opspek dan panitia terlambat membawanya ke rumah sakit. Widyo menyayangkan bahwa pihak fakultas memberikan izin pada kegiatan tersebut. "Setelah ITB menjadi BHMN, kegiatan OS sebenarnya sudah dilarang meskipun itu sudah ada sejak dulu," katanya. ---ends--- -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt ________________________________ New Email addresses available on Yahoo! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does!
