Menurut apa yang diajarkan kepada saya, yang juga sudah saya yakini, suatu
kejadian itu "perintah-Nya" sudah "diturunkan" 40 hari sebelumnya ("Qadar") dan
segalanya diatur (siapa memikirkan dan melakukan apa, situasi dan kondisi dan
lain-lain) oleh para Malaikat agar terjadi "perintah" yang sudah "diturunkan"
itu, dan waktu terjadi itu dinamakan "Taqdir". Dan kalau sudah "diturunkan"
akan sukar ditolak dengan do'a, kecuali oleh do'a para Nabi. Kalau belum
"diturunkan" namanya adalah "Qodho", yang merupakan "rencana-Nya" dan masih
mungkin/ bisa berubah dengan do'a.
Nah, termasuk semua itu ya antara lain, persetujuan, adanya AMP dan lain-lain
yang ada dalam informasi kejadian, sudah menjadi ketentuan-Nya.
Dan sekarang tinggal kelanjutannya, kita belum tahu apa "perintah" yang sudah
"diturunkan".
Ini keyakinanku lho.
Salam.
========================
________________________________
From: Dhita Yudhistira <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, February 15, 2009 11:12:50 PM
Subject: [indonesia] Re: Tentang Ospek: Kita butuh Fakta, bukan tuduhan
Gua kurang ngerti Bas. AMP itu sepemahaman gua ngasih bantuan untuk tindakan
P3K kalau-kalau terjadi sesuatu. Mungkin mereka kurang kompeten, dibandingkan
dokter. Tapi dari pada panitia, ya lebih bagusan.
Masalahnya untuk test kesehatan, sebetulnya standarnya apa. Kalau terus
dibilang, test kesehatan nggak bisa menjamin, ya repot juga ya. Kita jangan
kuliah kalau gitu, siapa yang menjamin melihat rumus-rumus sebanyak itu
mahasiswa nggak serangan jantung?
Justru ini sudah 20 tahun, masa ITB tidak bisa membantu mahasiswanya merumuskan
gimana standar kesehatan itu.
Yang mau jadi menteri siapa?
.Dhita Yudhistira.
--- On Sat, 2/14/09, Tri Basoeki Soelisvichyanto <[email protected]> wrote:
From: Tri Basoeki Soelisvichyanto <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: Tentang Ospek: Kita butuh Fakta, bukan tuduhan
To: [email protected]
Date: Saturday, February 14, 2009, 12:00 PM
Dhita...
Faktanya
pada korban ada mulut berbusa, dan ada tndakan resustasi jantung.
dialin sisi, ada yang ngotot jadi mentri...
dilain pihak, ada yang bermaksud memanfaatkan untuk kepentingan politik..
pada kronologis AMP, juga jelas terlihat ketidak Kompetensian Mereka (bila ini
benar, apakah ini berarti semua Dokter Umum lulusan UNPAD adalah dokter yang
in-kompeten?)
gitu ajah kok repot.
On Fri, Feb 13, 2009 at 7:17 PM, Dhita Yudhistira <[email protected]>
wrote: