Sorry..maksudnya cukup jauh jaraknya adalah jarak merayapnya, bukan jarak 
tembakan.  Kalau jarak tembakan jauh chance mengenai kepala lumayan besar 
karena kita tahu bahwa machine gun kemampuan tembakannya tidak sejauh senjata 
M16 yang bisa mencapai 1200 m dan jarak efektif (kalau kena orang bisa mati) 
adalah 800 m.


salam,

-Irsal




________________________________
From: irsal imran <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Friday, February 13, 2009 2:30:08 PM
Subject: [indonesia] Re: Tentang Ospek: Kita butuh Fakta, bukan tuduhan


Sebetulnya test kesehatan belumlah cukup untuk mengetahui apakah seseorang itu 
cukup punya kemampuan untuk melakukan latihan fisik yang cukup berat.  Kalau di 
US Army, setelah seseorang lulus test kesehatan, mereka ditampung dahulu di 
tempat yang disebut sebagai, sorry saya lupa namanya..:), dimana mereka selama 
1-2 minggu dilatih fisik yang di bawah standard, misalnya lari 1 miles, atau 
push-up 10 kali karena bisa saja walaupun kesehatannya baik, akan tetapi 
tubuhnya belum siap latihan fisik yang keras..mungkin karena jarang atau nggak 
pernah olah raga..Latihan fisik perlahan2 dinaikkan, sampai mencapai standard 
tertentu (yang masih di bawah standard seorang tentara)..dan kalau lulus test 
bisa langsung terus ke Basic Combat Training (BCT) buat digojlok:).  Di BCT 
kemudian latihan fisiknya perlahan2 digenjot lagi sampai mampu ikut latihan 
terakhir, dimana mereka di suruh merayap dengan kondisi sekitar 20 cm di atas 
mereka dihujani dengan tembakan2
 Machine Gun (M60) yang lumayan cukup jauh jaraknya.


salam,

-Irsal  




________________________________
From: yorga effendi <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Friday, February 13, 2009 7:40:28 AM
Subject: [indonesia] Re: Tentang Ospek: Kita butuh Fakta, bukan tuduhan


Saya setuju dengan dhita. Komentar2 yang bermunculan sekarang lebih berupa 
tuduhan daripada fakta. 

Saya bukan anak GD, tetapi sedikit banyak saya tahu prosedur kesehatan yang 
harus dijalani oleh anak2 GD sebelum berangkat OS. mereka diwajibkan untuk 
medikal check up hingga 4 kali, untuk meyakinkan bahwa tidak ada peserta yang 
sakit atau mengidap penyakit yang berpotensi fatal. dan ini adalah SOP dari 
setiap pelaksanaan OS.

kawan sekosan sy hari ini kebetulan anak GD, Dia menceritakan bhwa kegiatan OS 
tahun ini sudah dikonsep sedemikian sehingga tidak ada sama sekali gamparan 
atau kekerasan fisik lainnya. Yang dilakukan hanyalah long march dari kampus 
hingga ke Gunung Batu, Lembang. 

Yang saya tunggu sebenarnya kejelasan dari pihak2 berwenang ttg kronologi dan 
sebab2 kematian Nugroho. 

Namun hingga hari ini saya hanya melihat tindakan dan keputusan reaktif pihak 
rektorat yang (menurut saya) sangat tidak bijak. 

Kemungkinan besar Purek 3 sekarang, Dr Ir Widyo Nugroho, yang memang dosen GD 
(dan pastinya mantan Mhs GD, juga kemungkinan besar korban OS ganas di zaman 
itu) telah bias dalam menilai. meminjam kata2 mas Andri, kemungkinan "proyeksi 
pikiran" beliau ttg OS hari ini masih seperti OS di angkatannya, sehingga 
keputusannya terlihat emosional dan berlebihan. Sayang sekali.

wassalam
Yorga



________________________________
From: Dhita Yudhistira <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Friday, February 13, 2009 7:17:45 PM
Subject: [indonesia] Tentang Ospek: Kita butuh Fakta, bukan tuduhan



Saya kurang happy dengan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan. Saya pribadi 
mengikuti perkembangan OS dari jaman saya (96) sampai dengan tahun 2000-an. 
Bukan hanya mengikuti, dalam scope tertentu ikut 'berkelahi' agar OS melunak. 
Oleh karena itu saya berani bilang, rekan-rekan 90-an jangan lagi berpikir OS 
ITB seperti jaman sampai dengan 90-an akhir. Sangat berbeda. 

ITB sekarang berbeda. Saya ambil contoh sederhana. Saya diundang oleh angkatan 
2003-an untuk mengisi acara dan diperkenalkan sebagai,"Ini dulu dari jaman 
waktu ITB suka berantem dan pukul-pukulan". Sungguh, saya tidak mengira bahwa 
akan ada generasi muda yang melihat ITB masa saya sebagai tukang berantem dan 
pukul-pukulan.

Beberapa rekan geodesi 2000-an mengatakan bahwa memang tidak ada kekerasan 
fisik dan terus terang sampai saat ini saya belum baca satu pun berita yang 
mengatakan bahwa terjadi kekerasan fisik. Yang dilakukan oleh orang-orang di 
milis ini adalah merefleksikan Ospek mereka dengan yang sedang ramai 
dibicarakan.

Kalau yang terjadi kelelahan, apakah kelelahan bisa terakumulasi menjadi 
kematian dalam periode yang pendek? Bagai mana standar pengujian kesehatan?

Saya tidak bilang bahwa tidak terjadi apa-apa di ospek. Yang saya katakan 
adalah, kita sampai saat ini belum tahu kenapa almarhum meninggal. Apakah 
dipukuli? Apakah terlalu lelah? Apakah memang terpeleset dan jatuh? Apakah ini 
memang hanya seperti yang dikatakan oleh orang-orang,"Shit happens?"

Sampai hal itu terungkap, sebaiknya tidak usah terlalu banyak omong, apalagi 
bertindak. Memblacklist 52 alumni, membekukan ikatan alumni geodesi, menutup 
jurusan Geodesi selama setahun, menurut saya adalah tindakan gegabah.

Mahasiswa ITB berganti setiap tahun, tapi dosen tidak. Masa sih pihak 
jurusan/rektor tidak punya pengetahuan terakumulatif dan kolektif yang bisa 
dipakai untuk mengajak/membujuk/mengakali mahasiswa untuk mengganti metoda?

Rekan-rekan 2003-2004 sempat mengeluhkan. Memanggil anak TPB untuk sekedar 
mentoring (kuliah) atau buka puasa bersama saja sulit. Karena takut dituduh 
meng-OS. Dan karena sifat anak-anak jaman sekarang yang cenderung individualis. 
Buat saya, dan buat rekan-rekan yang sudah merasakan pentingnya network, ini 
bukan gejala yang baik.

Apakah ITB tidak bisa, menegosiasikan hilangnya OS misalkan dengan kewajiban 
untuk ikut Unit Kegiatan Mahasiswa seperti di tahun 70-an? Atau untuk jurusan 
Geodesi (Geologi), ketika senior benar-benar merasa bahwa kegiatan outdoor 
perlu, tidakkah ini bisa diakomodasi jurusannya? Apakah ITB masih merasa bahwa 
mahasiswa sekarang adalah musuh, seperti waktu jaman Orba?

Ospek tidak pernah hilang karena ITB tidak menanggapinya dengan serius. 
Pelarangan tidak akan pernah efektif untuk sesuatu yang memang tidak perlu 
ijin. Ancaman bukanlah jawaban untuk komunitas yang mengaku sebagai intelektual 
terbaik di negeri ini.

Kalau memang ITB serius, ITB harus bisa membuat acara pengenalan kampus yang 
memang mengakomodasi banyak pemikiran, dan bukan hanya sebuah acara yang dibuat 
karena harus menggantikan OSPEK yang ada.

Sementara itu, 3 orang mahasiswa terancam drop out: Ketua IMG, Ketua Panitia, 
dan Korlap. Padahal dalam beberapa tahun terakhir, Ketua Himpunan menjadi ujung 
tombak perubahan Ospek ke arah yang lebih baik. Dan jika ITB sedikit saja 
perhatian akan isu besar ini, maka ITB harusnya paham tentang hal tersebut.
 


.Dhita Yudhistira.


--- On Fri, 2/13/09, Supardi Zainal <[email protected]> wrote:

From: Supardi Zainal <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: Panitia Ospek ITB Mengaku Takut kepada Senior
To: [email protected]
Date: Friday, February 13, 2009, 5:42 PM


Panitia Ospek dan Seniornya perlu "dilatih" dulu sebelum memplonco adik2 
kelasnya. Supaya tahu kalau yang dirasakannya tidak enak. Contohnya, suruh dia 
latihan mematahkan beton cor /besi cor dulu sebelum tangannya dipakai memukul 
adik kelasnya. Kalau tangannya bengkak, dia tahu sakitnya. Kelihatannya kok 
seperti kurang kerjaan, memplonco adik kelasnya sampe mati. Bikin malu saja.

--- On Fri, 13/2/09, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> wrote:

From: Mohammad Andri Budiman <[email protected]>
Subject: [indonesia] Panitia Ospek ITB Mengaku Takut kepada Senior
To: [email protected]
Date: Friday, 13 February, 2009, 3:14 PM


Para swasta brutal ini kan sebenarnya hanya (terlihat) berani dengan
orang yang bisa ditakut-takutinya.. para mahasiswa baru yang masih ABG
-- yang menyitir Britney Spears "not a boy, not yet a man".

Tunggu sajalah habis lulus, giliran swasta itu mungkin yang mati ketakutan.
Kriminalitas ini, tahun berapapun mereka melakukannya di ITB, harus
mereka pertanggungjawabkan secara hukum.

Dan lebih baik menyerahkan diri sajalah dan minta maaf secara terbuka
(tidak perlu jalur hukum dan lainnya), daripada masih ada di antara
eks-juniornya yang hendak menyelesaikan ini dengan
 caranya
sendiri-sendiri.

Salam,
Andri
HMS93
UKSU93


Source:
http://regional.kompas.com/read/xml/2009/02/13/11375183/Panitia.Ospek.ITB.Mengaku.Takut.Kepada.Senior

---begins---

Panitia Ospek ITB Mengaku Takut kepada Senior

JUMAT, 13 FEBRUARI 2009 | 11:37 WIB
JAKARTA, JUMAT — Pihak panitia penyelenggara ospek Institut Teknologi
Bandung (ITB) jurusan Geodesi mengakui bahwa mereka berlaku keras
kepada junior karena takut kepada alumni senior. Mereka takut dianggap
tidak melanggengkan tradisi jika berlaku lembek kepada para junior.

Hal tersebut dikatakan oleh Dr Ir Widyo Nugroho, Wakil Rektor ITB
bidang Kemahasiswaan dan Alumni, pada talk show "Ospek Maut Terulang
Lagi" di Jakarta, Jumat (13/2).

"Setelah kejadian itu, saya memanggil
 panitia dan
 mereka mengatakan,
'kami takut, Pak kepada senior-senior alumni," kata Widyo.

Talk show itu menyusul kematian Dwiyanto
 Wisnu Nugroho saat menjalani
OS Ikatan Mahasiswa Geodesi ITB di Desa Pager Wangi, Lembang, Bandung.
Diketahui, tanggal 8 Februari, Dwiyanto diberitakan sakit saat
mengikuti opspek dan panitia terlambat membawanya ke rumah sakit.

Widyo menyayangkan bahwa pihak fakultas memberikan izin pada kegiatan
tersebut. "Setelah ITB menjadi BHMN, kegiatan OS sebenarnya sudah
dilarang meskipun itu sudah ada sejak dulu," katanya.


---ends---

--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
 
________________________________
New Email addresses available on Yahoo! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! 


      

Kirim email ke