Wahyu Setiawan kalau begitu Angkatan-14 yang ke Cilacap ,yaa..? Sekarang ada dimana , katanya lagi nyawah di Inggris ,..?
Salam Hangat, PriyoPS -----Original Message----- From: joefrizal joefrizal <[email protected]> To: [email protected], [email protected] Date: Mon, 16 Feb 2009 07:38:59 -0800 (PST) Subject: [indonesia] Re: Saya percaya, Mereka Tidak Bersalah! > Temans, > > Mnurut saya hal ini merupakan kegagalan ITB secara institusi dalam > menangani OS. Penanganan OS dimata Rektorat tidak serius dan dari kasus > ini yang dicari hanya kambing hitamnya. Urusan kambing hitam itu lebih > baik diselesaikan kepada polisi dan pengadilan saja. Mereka adalah > lembaga yang kompeten di Republik ini dan hal ini juga untuk > membuktikan bahwa TIDAK ADA SEORANGPUN KEBAL HUKUM. > > Saya masih melihat bahwa OSPEK merupakan sumberdaya kemahasiswaan yang > masih belum digarap atau tergarap dengan sempurna.Hal ini dikarenakan > karena ketidak samaan pandangan antara pihak ITB dan pihak mahasiswa. > Alangkah baiknya andaikata pihak mahasiswa dan pihak Rektorat dan juga > Jurusan mengadakan suatu workshop terbuka untuk merumuskan bagaimana OS > yang baik itu, Apa saja objective yang diharapkan dari OS, dlsb. > Mungkin sebagai loose juklak. Didalam juklah itu juga harus ditekankan > bahwa keselamatan adalah hal nomor satu untuk dijalankan. Untuk itu > diperlukan test kesehatan yang memadai, dlsb. Kegiatan fisik bukanlah > merupakan tujuan dari OS. Akan tetapi OS itu sendiri harus memberikan > pencerahan terhadap pesertanya itu sendiri. Seperti LKO-LKO yang banyak > dilakukan di masa saya dulu, kami mendapatkan sesuatu setelah > menghadiri LKO itu. > > Kalau dahulu, ada tekanan politik dari penguasa (Suharto dan > antek-anteknya). Kalau sekarang tentu tekanan politik ini tidak ada > lagi dan inilah saatnya untuk berbenah diri agar kita bisa maju dan > menjadi world class institute. > > Jika penyamaan pendapat antara rektorat/Jurusan dengan pihak > kemahasiswaan tidak dilakukan, maka masalah OS ini tidak akan selesai > dan korban di Jurusan Geodesi bukanlah yang terakhir. Akankah ITB ini > menjadi institusi yang disamakan dengan STPDN, dimana usaha pencegahan > jatuhnya korban tidak dilakukan dengan serius dan korban yang > berjatuhan menjadi lebih banyak lagi? > > Mungkin pihak Rektorat/Jurusan dan juga Mahasiswa perlu > merenung-renung dan melihat masalah OS ini dengan lebih bijak sehingga > tidak terjadi lagi korban berikutnya. . > > Wassallam, > > > Joefrizal > > --- On Sun, 2/15/09, setiawan wahyu <[email protected]> wrote: > > From: setiawan wahyu <[email protected]> > Subject: [indonesia] Re: Saya percaya, Mereka Tidak Bersalah! > To: [email protected] > Date: Sunday, February 15, 2009, 10:08 PM > > > > > > > OK brothers, > > Segala sesuatu harus dipertanggung jawabkan, apalagi ini nyawa manusia, > walaupun umur itu Allah yang ngatur, tapi proses meninggalnya harus > bisa dijelaskan secara medis. > > Jadi memang tak boleh ada kambing hitam, tapi harus ada yang > bertanggung jawab. > > Jika yang bersangkutan mendapat tekanan mental maka harus dipertanggung > jawabkan oleh yang memberikan tekanan itu, jika ybs meninggal karena > tekanan fisik yang nggak wajar, maka pelakunya harus diganjar yang > setimpal. > > Yang perlu diingat apakah OS itu atas dasar suka rela atau paksaan, > jika paksaan maka yang memaksa itu yang harus bertanggung jawab, jika > OS itu sukarela, lihat saja perjanjian pada saat masuknya apakah risiko > ditanggung sendiri. > > Ingin melatih fisik dan mental ? > > tak sembarangan bro, > > AQ di tahun 1980 ikut Mahaharwan YON I ITB, sebelum masuk saja ada test > yang tak mudah, ada keterangan dokter yang menyatak fisik dan mental > boleh ikutan yang begini (standard militer terendah mungkin), tapi > setelah itu kalau tetap ikut harus nandatangan bahwa itu adalah > sukarela. INGAT SUKARELA. > > Masih inget diujung latihan, setelah melewati perjalanan panjang yang > disebut Long March, melewati rawa laut, ketika di Barak di Cilacap, ada > teman sebarak, kebetulan waktu itu tidurnya disebelah AQ, malemnya > dilihat hilang, dan sehari setelah kami diwisuda (penyematan baret), > kami diperintahkan ke Jakarta dan ternyata untuk menghadiri > pemakamannya yang dilakukan secara militer (walaupun dipemakaman > sipil). Itulah cara mereka menghormati nyawa manusia. > > Dari peristiwa ini, bisa dibayangkan, orang yang sudah dipersiapkanpun > bisa tewas, tentu penyebabnya diselidiki dan bisa dipertanggung > jawabkan oleh Komandan. > > Jadi jangan main-mainlah dengan pembinaan fisik dan mental, lebih baik > serahkan pembinaan fisik dan mental kepada ahlinya. > > Silahkan fikir bolak-balik Ospek semacam itu apa masih ada gunanya ? > > Tindakan rektor yang tegas menghentikan para pelaku pelaksana baik > dosen atau mahasiswa dari statusnya sangat tepat dan harus didukung > oleh kita alumninya, dan nggak usah hawatir ini sementara saja, sampai > penyelidikan tuntas, setelah penyelidikan tuntas sampai ke > akar-akarnya, maka akan ketahuan yang paling bertanggung jawab dan > dihukum dengan setimpal maka yang tak bersalah posisinya dikembalikan, > mengembalikan posisi yang tak bersalah mudah bro, jadi bantu cari > penyebabnya agar peristiwa menyepelekan nyawa manusia tak perlu > terjadi. > > Fakta, ada orang meninggal tak wajar, harus diusut tuntas. > > Di biarkan ? Enak saja ! minimum OS saja dihentikan dulu, evaluasi > ulang dan yang penting yang bersalah ditindak. > > OK selamat mencari penyebabnya agar tahun selanjutnya tak terulang > lagi. > > wass > AQ The Old Samurai. > > > > > > > > > From: Nita Meilani <[email protected]> > To: [email protected] > Sent: Sunday, February 15, 2009 9:56:30 AM > Subject: [indonesia] Re: Saya percaya, Mereka Tidak Bersalah! > > > > > > bener banget, sepertinya hampir semua pihak menyudutkan img dan > alumninya, padahal mereka juga berhak untuk mendapatkan keadilan. > bukannya saya tidak turut berdukacita atas meninggalnya dwiyanto. saya > juga tidak bisa membayangkan kalau hal ini terjadi pada keluarga > sendiri. tapi masalahnya, almarhum tidak diijinkan oleh keluarganya > untuk diotopsi, jadi bagaimana caranya mencari penyebab kematian > almarhum ? > dan sepertinya banyak pihak harus diingatkan kembali akan adanya asas > praduga tak bersalah. > > --- On Sat, 2/14/09, Priyo Pribadi Soemarno > <[email protected]> wrote: > > From: Priyo Pribadi Soemarno <[email protected]> > Subject: [indonesia] Re: Saya percaya, Mereka Tidak Bersalah! > To: [email protected] > Date: Saturday, February 14, 2009, 7:45 AM > > Ebonk dan saudara2ku Ysh., > > Cukup panjang diskusi milis ini saya ikuti dan semakin melelahkan , > karena se-olah2 yang dicari adalah kambing hitamnya , bukan inti > persoalan sebenarnya . Tulisan Ebonk , menggugah hati saya untuk > menulis , terimakasih Ebonk > > Yang pertama , tidak mungkin anak2 kita punya keinginan merusak masa > depan apalagi membuat mati adik2nya sendiri . Pasti ada kesalahan > dalam > penanganan sampai ada kejadian ini . > > Kedua , diperlukan hati yang tenang dan pikiran jernih , untuk > mendengar > bagaimana saudara2ku yang menjadi panitia , senior atau semua yang > hadir > menceritakan secara utuh kejadian sebenarnya dengan hati yang jujur . > Kejujuran akan tumbuh , kalau tidak ada ancaman apalagi tuduhan bahwa > perbuatan tersebut adalah illegal . > > Ketiga , kita perlu mengkaji kembali kondisi kesehatan adik > kita > yang > menjadi korban , termasuk misalnya melihat keadaannya sehari-hari > ketika > belum masuk ITB . Kondisi bawaan yang tidak kita ketahui , mungkin > menjadi salah satu sebab , karena sebagai senior atau Panitia kita alpa > dalam memeriksa latar belakang kesehatan ybs . > Pemeriksaan dokter lengkap seharusnya dilakukan ketika ybs dinyatakan > meninggal , sehingga diketahui sebab2 klinis yang menyebabkan kematian. > > Keempat , ketika semua persoalan menjadi jelas , maka sudah menjadi > kewajiban pimpinan dan penanggung jawab untuk menyatakan permohonan > maafnya kepada orangtua korban , kepada siapapun juga yang kehilangan > adik kita tersebut yang berarti pula kehilangan masa depan yang > diimpikannya . > > Kadangkala , kita bertindak terlalu cepat , untuk menunjukkan > eksistensi > dalam menangani suatu perkara . Kesalahan dalam membuat keputusan > karena > kurangnya pertimbangan , dapat menyebabkan persoalan > melebar > kemana-mana > dan tidak menyelesaikan masalah . > Kita harus memahami kondisi adik2 (anak2) kita saat ini , dimana > tingkat > kematangan , kedewasaan dan ke-samapta-annya sangat berbeda dengan > waktu > tahun 70'an atau bahkan sebelumnya . Anak2 kita sekarang nampak kurang > memelihara kesehatannya dan mungkin kurang tidur karena bergadang , > bukan > karena tirakat atau bertafakur seperti jaman orangtua-orangtua kita > dulu . > Latihan pendahuluan sangat diperlukan sebelum anak2 kita dicemplungkan > dalam kawah chandra-dimuka. > Juga , pemahaman tentang loyalitas dan pelatihan kedisiplinan saat ini > sudah agak berbeda , karena tidak ada lagi gerakan Pramuka atau Scout > yang dulu kita alami sejak SMP-SMA . > > Saran saya , hentikanlah kita saling menyalahkan . Mulailah duduk > bersama > untuk mencari satu persatu persoalan yang ada untuk memperbaiki > keputusan yang keliru . Saran ini juga berlaku bagi ITB , sebagai > > Perguruan > Tinggi yang masih kita junjung tinggi sebagai GARBA ILMIAH , > bukan lembaga Kehakiman atau Penguasa . > > Salam hangat penuh semangat , > Priyo Pribadi > > > > -----Original Message----- > From: ebonk <[email protected]> > To: [email protected] > Date: Sat, 14 Feb 2009 05:04:08 +0700 > Subject: [indonesia] Saya percaya, Mereka Tidak Bersalah! > > > Saya membaca berita di koran,media elektronik dan televisi yang > > menyebutkan bahwa anak-anak IMG telah melakukan kekerasan dalam > > kegiatan kaderisasi. Saya juga mendengar bahwa pihak kampus telah > > menyatakan mereka bersalah dan akan dikenakan sanksi. Walaupun > > demikian, dalam hati kecil saya percaya bahwa MEREKA TIDAK BERSALAH! > > > > Saya juga melihat WRMA, dengan kekuasaan yang dimilikinya, melakukan > > character assasination dengan menyatakan bahwa anak-anak IMG > mengalami > > gangguan jiwa dan perlu > menjalani psikotest. > Saya berusaha untuk > > memahami hal ini. Walaupun demikian, saya tidak mempercayai > pernyataan > > tersebut. Hati kecil saya berkata: Saya percaya anak-anak IMG waras > > dan sehat akalnya! > > > > Pun berbagai pihak yang kebingungan, shock, atau kecewa, ikut > > menghakimi dan percaya bahwa anak-anak IMG itu biang kerok, pembunuh, > > maniak, suka kekerasan, dengan referensi pribadi yang belum tentu > > relevan. Saya bisa memahami pendapat-pendapat tersebut. Walaupun > > demikian, hati kecil saya berkata: Saya percaya anak-anak IMG bukan > > maniak, bukan pembunuh dan bukan pelaku kekerasan! > > > > Belum lagi, pernyataan AMP Unpad ikut membuat posisi teman-teman IMG > > semakin sulit. Dihantam dari segala arah seperti itu, banyak orang > > yang makin yakin bahwa mereka memang melakukan penganiayaan. Namun > > demikian, saya tidak percaya media. Hati kecil saya > berkata: Mereka > > tidak > menganiaya orang! > > > > Mengapa demikian? Karena saya kenal mereka. Bahkan salah satu dari > > mereka, Dilvo (salah satu korlap), saya kenal dengan dekat. Saya tahu > > watak Dilvo dkk. Saya lebih percaya kepada mereka dari pada media. > > > > Mereka memang keras kepala, tidak mudah dipengaruhi begitu saja dan > > lebih suka dengan jalan pikirannya sendiri. Namun dari pengalaman > > saya, mereka adalah teman diskusi yang baik. Mudah diajak kerjasama > > dan berpartisipasi, asal tahu caranya. > > > > Kasus ini bukan kasus STPDN yang titik beratnya adalah penganiayaan. > > Apakah sodara-sodara melihat atau mengetahui adanya penganiyaan dalam > > kasus ini? > > > > Saya bisa memahami, banyak pihak yang terusik dan tidak senang, > karena > > dianggap telah mencoreng nama baik almamater. Tapi sebaiknya, lebih > > dulu kita tahu persis apa penyebab > kematian Wisnu. Sebaiknya kita > > > sabar menunggu hasil penyelidikan. > > > > Saya sungguh menyayangkan tindakan Pak Widyo menjatuhkan sanksi, > > memblacklist alumni, menyatakan mereka mengalami gangguan jiwa, > > memecat ketua prodi, apalagi akan menghentikan penerimaan mahasiswa > > baru. Padahal kita semua belum tahu hasil penyelidikannya. Tapi hajat > > hidup dan masa depan banyak orang mau dikorbankan. Coba lihat, > mengapa > > Bapak bertindak gegabah seperti itu? Untuk apa semua tindakan yang > > terburu-buru dan mengikuti hawa nafsu itu? Untuk siapa? > > > > Jika demi nama baik, atau apapun, lakukanlah dengan benar. Demi nama > > baik ITB, usut tuntas sampai ketemu kebenarannya seperti apa. Demi > > nama baik IMG, katakan saja apa yang benar, buatlah pernyataan yang > > baik. Kita butuh kebenaran. Bukan kambing hitam! > > > > Jika ternyata mereka tidak bersalah, pertanyaan saya > adalah, apakah > > ITB (dalam hal ini > Pak Widyo) mau membersihkan nama baik mereka, > > mengembalikan jabatan ketua prodi, menyatakan menyesal telah menyebut > > mereka mengalami gangguan jiwa? Dan tentu saja, bersedia mengundurkan > > diri dari jabatannya? > > > > Mungkin saya sendirian, tapi saya orang yang yakin bahwa: > > MEREKA TIDAK BERSALAH! > > > > Mohon maaf, jika ada kata-kata yang salah. Mari kita tunggu progress > > hasil penyelidikan. > > > > -- > > nenek moyangku bukan pelaut, tapi seorang rocker... > > http://www.ebonk.org/blog/ > > > > -- > > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi > > serta > > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan > > akhirat. > > > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > > > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, > terapkan kaidah ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan > akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > > > > > > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
