Temans,
 
Mnurut saya hal ini merupakan kegagalan ITB secara institusi dalam menangani 
OS. Penanganan OS dimata Rektorat tidak serius dan dari kasus ini yang dicari 
hanya kambing hitamnya. Urusan kambing hitam itu lebih baik diselesaikan kepada 
polisi dan pengadilan saja. Mereka adalah lembaga yang kompeten di Republik ini 
dan hal ini juga untuk membuktikan bahwa TIDAK ADA SEORANGPUN KEBAL HUKUM.
 
Saya masih melihat bahwa OSPEK merupakan sumberdaya kemahasiswaan yang masih 
belum digarap atau tergarap dengan sempurna.Hal ini dikarenakan karena ketidak 
samaan pandangan antara pihak ITB dan pihak mahasiswa. Alangkah baiknya 
andaikata pihak mahasiswa dan pihak Rektorat dan juga Jurusan mengadakan suatu 
workshop terbuka untuk merumuskan bagaimana OS yang baik itu, Apa saja 
objective yang diharapkan dari OS, dlsb. Mungkin sebagai loose juklak. Didalam 
juklah itu juga harus ditekankan bahwa keselamatan adalah hal nomor satu untuk 
dijalankan. Untuk itu diperlukan test kesehatan yang memadai, dlsb. Kegiatan 
fisik bukanlah merupakan tujuan dari OS. Akan tetapi OS itu sendiri harus 
memberikan pencerahan terhadap pesertanya itu sendiri. Seperti LKO-LKO yang 
banyak dilakukan di masa saya dulu, kami mendapatkan sesuatu setelah menghadiri 
LKO itu.
 
Kalau dahulu, ada tekanan politik dari penguasa (Suharto dan antek-anteknya). 
Kalau sekarang tentu tekanan politik ini tidak ada lagi dan inilah saatnya 
untuk berbenah diri agar kita bisa maju dan menjadi world class institute.
 
Jika penyamaan pendapat antara rektorat/Jurusan dengan pihak kemahasiswaan 
tidak dilakukan, maka masalah OS ini tidak akan selesai dan korban di Jurusan 
Geodesi bukanlah yang terakhir. Akankah ITB ini menjadi institusi yang 
disamakan dengan STPDN, dimana usaha pencegahan jatuhnya korban tidak dilakukan 
dengan serius dan korban yang berjatuhan menjadi lebih banyak lagi?
 
Mungkin pihak Rektorat/Jurusan dan juga Mahasiswa perlu merenung-renung dan 
melihat masalah OS ini dengan lebih bijak sehingga tidak terjadi lagi korban 
berikutnya. .
 
Wassallam,
 
 
Joefrizal

--- On Sun, 2/15/09, setiawan wahyu <[email protected]> wrote:

From: setiawan wahyu <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: Saya percaya, Mereka Tidak Bersalah!
To: [email protected]
Date: Sunday, February 15, 2009, 10:08 PM






OK brothers,

Segala sesuatu harus dipertanggung jawabkan, apalagi ini nyawa manusia, 
walaupun umur itu Allah yang ngatur, tapi proses meninggalnya harus bisa 
dijelaskan secara medis.

Jadi memang tak boleh ada kambing hitam, tapi harus ada yang bertanggung jawab.

Jika yang bersangkutan mendapat tekanan mental maka harus dipertanggung 
jawabkan oleh yang memberikan tekanan itu, jika ybs meninggal karena tekanan 
fisik yang nggak wajar, maka pelakunya harus diganjar yang setimpal.

Yang perlu diingat apakah OS itu atas dasar suka rela atau paksaan, jika 
paksaan maka yang memaksa itu yang harus bertanggung jawab, jika OS itu 
sukarela, lihat saja perjanjian pada saat masuknya apakah risiko ditanggung 
sendiri.

Ingin melatih fisik dan mental ? 

tak sembarangan bro, 

AQ di tahun 1980 ikut Mahaharwan YON I ITB, sebelum masuk saja ada test yang 
tak mudah, ada keterangan dokter yang menyatak fisik dan mental boleh ikutan 
yang begini (standard militer terendah mungkin), tapi setelah itu kalau tetap 
ikut harus nandatangan bahwa itu adalah sukarela. INGAT SUKARELA.

Masih inget diujung latihan, setelah melewati perjalanan panjang yang disebut 
Long March, melewati rawa laut, ketika di Barak di Cilacap, ada teman sebarak, 
kebetulan waktu itu tidurnya disebelah AQ, malemnya dilihat hilang, dan sehari 
setelah kami diwisuda (penyematan baret), kami diperintahkan ke Jakarta dan 
ternyata untuk menghadiri pemakamannya yang dilakukan secara militer (walaupun 
dipemakaman sipil).  Itulah cara mereka menghormati nyawa manusia.

Dari peristiwa ini, bisa dibayangkan, orang yang sudah dipersiapkanpun bisa 
tewas, tentu penyebabnya diselidiki dan bisa dipertanggung jawabkan oleh 
Komandan.

Jadi jangan main-mainlah dengan pembinaan fisik dan mental, lebih baik serahkan 
pembinaan fisik dan mental kepada ahlinya.

Silahkan fikir bolak-balik Ospek semacam itu apa masih ada gunanya ?

Tindakan rektor yang tegas menghentikan para pelaku pelaksana baik dosen atau 
mahasiswa dari statusnya sangat tepat dan harus didukung oleh kita alumninya, 
dan nggak usah hawatir ini sementara saja, sampai penyelidikan tuntas, setelah 
penyelidikan tuntas sampai ke akar-akarnya, maka akan ketahuan yang paling 
bertanggung jawab dan dihukum dengan setimpal maka yang tak bersalah posisinya 
dikembalikan, mengembalikan posisi yang tak bersalah mudah bro, jadi bantu cari 
penyebabnya agar peristiwa menyepelekan nyawa manusia tak perlu terjadi.

Fakta, ada orang meninggal tak wajar, harus diusut tuntas.

Di biarkan ? Enak saja ! minimum OS saja dihentikan dulu, evaluasi ulang dan 
yang penting yang bersalah ditindak. 

OK selamat mencari penyebabnya agar tahun selanjutnya tak terulang lagi.

wass
AQ The Old Samurai.








From: Nita Meilani <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, February 15, 2009 9:56:30 AM
Subject: [indonesia] Re: Saya percaya, Mereka Tidak Bersalah!





bener banget, sepertinya hampir semua pihak menyudutkan img dan alumninya, 
padahal mereka juga berhak untuk mendapatkan keadilan.
bukannya saya tidak turut berdukacita atas meninggalnya dwiyanto. saya juga 
tidak bisa membayangkan kalau hal ini terjadi pada keluarga sendiri. tapi 
masalahnya, almarhum tidak diijinkan oleh keluarganya untuk diotopsi, jadi 
bagaimana caranya mencari penyebab kematian almarhum ? 
dan sepertinya banyak pihak harus diingatkan kembali akan adanya asas praduga 
tak bersalah.

--- On Sat, 2/14/09, Priyo Pribadi Soemarno 
<[email protected]> wrote:

From: Priyo Pribadi Soemarno <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: Saya percaya, Mereka Tidak Bersalah!
To: [email protected]
Date: Saturday, February 14, 2009, 7:45 AM

Ebonk dan saudara2ku Ysh.,

Cukup panjang diskusi milis ini saya ikuti dan semakin melelahkan , 
karena se-olah2 yang dicari adalah kambing hitamnya , bukan inti 
persoalan sebenarnya . Tulisan Ebonk , menggugah hati saya untuk 
menulis , terimakasih Ebonk 

Yang pertama , tidak mungkin anak2 kita punya keinginan merusak masa 
depan apalagi membuat  mati adik2nya sendiri . Pasti ada kesalahan dalam 
penanganan sampai ada kejadian ini .

Kedua , diperlukan hati yang tenang dan pikiran jernih , untuk mendengar 
bagaimana saudara2ku yang menjadi panitia , senior atau semua yang hadir 
menceritakan secara utuh kejadian sebenarnya dengan hati yang jujur .
Kejujuran akan tumbuh , kalau tidak ada ancaman apalagi tuduhan bahwa 
perbuatan tersebut adalah illegal .

Ketiga , kita perlu mengkaji kembali kondisi kesehatan adik
 kita
 yang 
menjadi korban , termasuk misalnya melihat keadaannya sehari-hari ketika 
belum masuk ITB . Kondisi bawaan yang tidak kita ketahui , mungkin 
menjadi salah satu sebab , karena sebagai senior atau Panitia kita alpa 
dalam memeriksa latar belakang kesehatan ybs .
Pemeriksaan dokter lengkap seharusnya dilakukan ketika ybs dinyatakan 
meninggal , sehingga diketahui sebab2 klinis yang menyebabkan kematian.

Keempat , ketika semua persoalan menjadi jelas , maka sudah menjadi 
kewajiban pimpinan dan penanggung jawab untuk menyatakan permohonan 
maafnya kepada orangtua korban , kepada siapapun juga yang kehilangan 
adik kita tersebut yang berarti pula kehilangan masa depan yang 
diimpikannya .

Kadangkala , kita bertindak terlalu cepat , untuk menunjukkan eksistensi 
dalam menangani suatu perkara . Kesalahan dalam membuat keputusan karena 
kurangnya pertimbangan , dapat menyebabkan persoalan
 melebar
 kemana-mana 
dan tidak menyelesaikan masalah .
Kita harus memahami kondisi adik2 (anak2) kita saat ini , dimana tingkat 
kematangan , kedewasaan dan ke-samapta-annya sangat berbeda dengan waktu 
tahun 70'an atau bahkan sebelumnya . Anak2 kita sekarang nampak kurang 
memelihara kesehatannya dan mungkin kurang tidur karena bergadang , bukan 
karena tirakat atau bertafakur seperti jaman orangtua-orangtua kita dulu .
Latihan pendahuluan sangat diperlukan sebelum anak2 kita dicemplungkan 
dalam kawah chandra-dimuka. 
Juga , pemahaman tentang loyalitas dan pelatihan kedisiplinan saat ini 
sudah agak berbeda , karena tidak ada lagi gerakan Pramuka atau Scout 
yang dulu kita alami sejak SMP-SMA .

Saran saya , hentikanlah kita saling menyalahkan . Mulailah duduk bersama 
untuk mencari satu  persatu persoalan yang ada untuk memperbaiki 
keputusan yang keliru . Saran ini juga berlaku bagi ITB , sebagai
 
Perguruan
 Tinggi yang masih kita junjung tinggi sebagai GARBA ILMIAH , 
bukan lembaga Kehakiman atau Penguasa .

Salam hangat penuh semangat ,
Priyo Pribadi



-----Original Message-----
From: ebonk <[email protected]>
To: [email protected]
Date: Sat, 14 Feb 2009 05:04:08 +0700
Subject: [indonesia] Saya percaya, Mereka Tidak Bersalah!

> Saya membaca berita di koran,media elektronik dan televisi yang
> menyebutkan bahwa anak-anak IMG telah melakukan kekerasan dalam
> kegiatan kaderisasi. Saya juga mendengar bahwa pihak kampus telah
> menyatakan mereka bersalah dan akan dikenakan sanksi. Walaupun
> demikian, dalam hati kecil saya percaya bahwa MEREKA TIDAK BERSALAH!
> 
> Saya juga melihat WRMA, dengan kekuasaan yang dimilikinya, melakukan
> character assasination dengan menyatakan bahwa anak-anak IMG mengalami
> gangguan jiwa dan perlu
 menjalani psikotest.
 Saya berusaha untuk
> memahami hal ini. Walaupun demikian, saya tidak mempercayai pernyataan
> tersebut. Hati kecil saya berkata: Saya percaya anak-anak IMG waras
> dan sehat akalnya!
> 
> Pun berbagai pihak yang kebingungan, shock, atau kecewa, ikut
> menghakimi dan percaya bahwa anak-anak IMG itu biang kerok, pembunuh,
> maniak, suka kekerasan, dengan referensi pribadi yang belum tentu
> relevan. Saya bisa memahami pendapat-pendapat tersebut. Walaupun
> demikian, hati kecil saya berkata: Saya percaya anak-anak IMG bukan
> maniak, bukan pembunuh dan bukan pelaku kekerasan!
> 
> Belum lagi, pernyataan AMP Unpad ikut membuat posisi teman-teman IMG
> semakin sulit. Dihantam dari segala arah seperti itu, banyak orang
> yang makin yakin bahwa mereka memang melakukan penganiayaan. Namun
> demikian, saya tidak percaya media. Hati kecil saya
 berkata: Mereka
> tidak
 menganiaya orang!
> 
> Mengapa demikian? Karena saya kenal mereka. Bahkan salah satu dari
> mereka, Dilvo (salah satu korlap), saya kenal dengan dekat. Saya tahu
> watak Dilvo dkk. Saya lebih percaya kepada mereka dari pada media.
> 
> Mereka memang keras kepala, tidak mudah dipengaruhi begitu saja dan
> lebih suka dengan jalan pikirannya sendiri. Namun dari pengalaman
> saya, mereka adalah teman diskusi yang baik. Mudah diajak kerjasama
> dan berpartisipasi, asal tahu caranya.
> 
> Kasus ini bukan kasus STPDN yang titik beratnya adalah penganiayaan.
> Apakah sodara-sodara melihat atau mengetahui adanya penganiyaan dalam
> kasus ini?
> 
> Saya bisa memahami, banyak pihak yang terusik dan tidak senang, karena
> dianggap telah mencoreng nama baik almamater. Tapi sebaiknya, lebih
> dulu kita tahu persis apa penyebab
 kematian Wisnu. Sebaiknya kita
>
 sabar menunggu hasil penyelidikan.
> 
> Saya sungguh menyayangkan tindakan Pak Widyo menjatuhkan sanksi,
> memblacklist alumni, menyatakan mereka mengalami gangguan jiwa,
> memecat ketua prodi, apalagi akan menghentikan penerimaan mahasiswa
> baru. Padahal kita semua belum tahu hasil penyelidikannya. Tapi hajat
> hidup dan masa depan banyak orang mau dikorbankan. Coba lihat, mengapa
> Bapak bertindak gegabah seperti itu? Untuk apa semua tindakan yang
> terburu-buru dan mengikuti hawa nafsu itu? Untuk siapa?
> 
> Jika demi nama baik, atau apapun, lakukanlah dengan benar. Demi nama
> baik ITB, usut tuntas sampai ketemu kebenarannya seperti apa. Demi
> nama baik IMG, katakan saja apa yang benar, buatlah pernyataan yang
> baik. Kita butuh kebenaran. Bukan kambing hitam!
> 
> Jika ternyata mereka tidak bersalah, pertanyaan saya
 adalah, apakah
> ITB (dalam hal ini
 Pak Widyo) mau membersihkan nama baik mereka,
> mengembalikan jabatan ketua prodi, menyatakan menyesal telah menyebut
> mereka mengalami gangguan jiwa? Dan tentu saja, bersedia mengundurkan
> diri dari jabatannya?
> 
> Mungkin saya sendirian, tapi saya orang yang yakin bahwa:
> MEREKA TIDAK BERSALAH!
> 
> Mohon maaf, jika ada kata-kata yang salah. Mari kita tunggu progress
> hasil penyelidikan.
> 
> -- 
> nenek moyangku bukan pelaut, tapi seorang rocker...
> http://www.ebonk.org/blog/
> 
> -- 
> Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi
> serta
> kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
> akhirat.
> 
> Info pengelolaan milis Indonesia next better :
> http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt



-- 
Berlombalah dalam karya, bersinergi,
 terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt





      

Kirim email ke