Namanya manusia, jelas sumber berbuat salah. Karena itu perlu senantiasa memohon untuk diampuni dosa dan dimaafkan kesalahannya. Tuhan maha tahu. Tetapi manusia terbatas pengetahuannya sehingga seseorang bisa dianggap bersalah berdasarkan aturan yang dibuat, yang dibuat dengan banyak kekurang tahuan dan kurang mampuan.
Kalau sampai dinyatakan bersalah, menurut aturan manusia, itu mungkin karena kekurang hati-hatian, sok tahu, atau kurang lengkap pertimbangan, atau kurang runtut (ada urutan yang terlewat) dalam bertindak, dan banyak kemungkinan lain. Walaupun tidak ada niat sampertindak ai menghilangkan nyawa rekannya. Jadi kalau dinilai bersalah, ya semoga sanksinya sesuai dengan kesalahannya. Mudah2an tidak akan menghancurkan hari depan mereka. Saya yakin mereka benar-benar tidak ingin dan sangat menyesal sampai hal ini terjadi. Tentu mereka sangat ingin bisa memutar balik waktu agar dapat bertindak lebih berhati-hati. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Seperti juga mereka yang mengalami kecelakaan lalu lintas, waktu berangkat dari rumah tidak ingin mencelakakan orang. Tetapi karena kurang hati-hati, secara tidak sengaja jadi mencelakakan orang lain. ________________________________ From: setiawan wahyu <[email protected]> To: [email protected] Sent: Monday, February 16, 2009 11:08:44 AM Subject: [indonesia] Re: Saya percaya, Mereka Tidak Bersalah! OK brothers, Segala sesuatu harus dipertanggung jawabkan, apalagi ini nyawa manusia, walaupun umur itu Allah yang ngatur, tapi proses meninggalnya harus bisa dijelaskan secara medis. Jadi memang tak boleh ada kambing hitam, tapi harus ada yang bertanggung jawab. Jika yang bersangkutan mendapat tekanan mental maka harus dipertanggung jawabkan oleh yang memberikan tekanan itu, jika ybs meninggal karena tekanan fisik yang nggak wajar, maka pelakunya harus diganjar yang setimpal. Yang perlu diingat apakah OS itu atas dasar suka rela atau paksaan, jika paksaan maka yang memaksa itu yang harus bertanggung jawab, jika OS itu sukarela, lihat saja perjanjian pada saat masuknya apakah risiko ditanggung sendiri. Ingin melatih fisik dan mental ? tak sembarangan bro, AQ di tahun 1980 ikut Mahaharwan YON I ITB, sebelum masuk saja ada test yang tak mudah, ada keterangan dokter yang menyatak fisik dan mental boleh ikutan yang begini (standard militer terendah mungkin), tapi setelah itu kalau tetap ikut harus nandatangan bahwa itu adalah sukarela. INGAT SUKARELA. Masih inget diujung latihan, setelah melewati perjalanan panjang yang disebut Long March, melewati rawa laut, ketika di Barak di Cilacap, ada teman sebarak, kebetulan waktu itu tidurnya disebelah AQ, malemnya dilihat hilang, dan sehari setelah kami diwisuda (penyematan baret), kami diperintahkan ke Jakarta dan ternyata untuk menghadiri pemakamannya yang dilakukan secara militer (walaupun dipemakaman sipil). Itulah cara mereka menghormati nyawa manusia. Dari peristiwa ini, bisa dibayangkan, orang yang sudah dipersiapkanpun bisa tewas, tentu penyebabnya diselidiki dan bisa dipertanggung jawabkan oleh Komandan. Jadi jangan main-mainlah dengan pembinaan fisik dan mental, lebih baik serahkan pembinaan fisik dan mental kepada ahlinya. Silahkan fikir bolak-balik Ospek semacam itu apa masih ada gunanya ? Tindakan rektor yang tegas menghentikan para pelaku pelaksana baik dosen atau mahasiswa dari statusnya sangat tepat dan harus didukung oleh kita alumninya, dan nggak usah hawatir ini sementara saja, sampai penyelidikan tuntas, setelah penyelidikan tuntas sampai ke akar-akarnya, maka akan ketahuan yang paling bertanggung jawab dan dihukum dengan setimpal maka yang tak bersalah posisinya dikembalikan, mengembalikan posisi yang tak bersalah mudah bro, jadi bantu cari penyebabnya agar peristiwa menyepelekan nyawa manusia tak perlu terjadi. Fakta, ada orang meninggal tak wajar, harus diusut tuntas. Di biarkan ? Enak saja ! minimum OS saja dihentikan dulu, evaluasi ulang dan yang penting yang bersalah ditindak. OK selamat mencari penyebabnya agar tahun selanjutnya tak terulang lagi. wass AQ The Old Samurai. ________________________________ From: Nita Meilani <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sunday, February 15, 2009 9:56:30 AM Subject: [indonesia] Re: Saya percaya, Mereka Tidak Bersalah! bener banget, sepertinya hampir semua pihak menyudutkan img dan alumninya, padahal mereka juga berhak untuk mendapatkan keadilan. bukannya saya tidak turut berdukacita atas meninggalnya dwiyanto. saya juga tidak bisa membayangkan kalau hal ini terjadi pada keluarga sendiri. tapi masalahnya, almarhum tidak diijinkan oleh keluarganya untuk diotopsi, jadi bagaimana caranya mencari penyebab kematian almarhum ? dan sepertinya banyak pihak harus diingatkan kembali akan adanya asas praduga tak bersalah. --- On Sat, 2/14/09, Priyo Pribadi Soemarno <[email protected]> wrote: From: Priyo Pribadi Soemarno <[email protected]> Subject: [indonesia] Re: Saya percaya, Mereka Tidak Bersalah! To: [email protected] Date: Saturday, February 14, 2009, 7:45 AM Ebonk dan saudara2ku Ysh., Cukup panjang diskusi milis ini saya ikuti dan semakin melelahkan , karena se-olah2 yang dicari adalah kambing hitamnya , bukan inti persoalan sebenarnya . Tulisan Ebonk , menggugah hati saya untuk menulis , terimakasih Ebonk Yang pertama , tidak mungkin anak2 kita punya keinginan merusak masa depan apalagi membuat mati adik2nya sendiri . Pasti ada kesalahan dalam penanganan sampai ada kejadian ini . Kedua , diperlukan hati yang tenang dan pikiran jernih , untuk mendengar bagaimana saudara2ku yang menjadi panitia , senior atau semua yang hadir menceritakan secara utuh kejadian sebenarnya dengan hati yang jujur . Kejujuran akan tumbuh , kalau tidak ada ancaman apalagi tuduhan bahwa perbuatan tersebut adalah illegal . Ketiga , kita perlu mengkaji kembali kondisi kesehatan adik kita yang menjadi korban , termasuk misalnya melihat keadaannya sehari-hari ketika belum masuk ITB . Kondisi bawaan yang tidak kita ketahui , mungkin menjadi salah satu sebab , karena sebagai senior atau Panitia kita alpa dalam memeriksa latar belakang kesehatan ybs . Pemeriksaan dokter lengkap seharusnya dilakukan ketika ybs dinyatakan meninggal , sehingga diketahui sebab2 klinis yang menyebabkan kematian. Keempat , ketika semua persoalan menjadi jelas , maka sudah menjadi kewajiban pimpinan dan penanggung jawab untuk menyatakan permohonan maafnya kepada orangtua korban , kepada siapapun juga yang kehilangan adik kita tersebut yang berarti pula kehilangan masa depan yang diimpikannya . Kadangkala , kita bertindak terlalu cepat , untuk menunjukkan eksistensi dalam menangani suatu perkara . Kesalahan dalam membuat keputusan karena kurangnya pertimbangan , dapat menyebabkan persoalan melebar kemana-mana dan tidak menyelesaikan masalah . Kita harus memahami kondisi adik2 (anak2) kita saat ini , dimana tingkat kematangan , kedewasaan dan ke-samapta-annya sangat berbeda dengan waktu tahun 70'an atau bahkan sebelumnya . Anak2 kita sekarang nampak kurang memelihara kesehatannya dan mungkin kurang tidur karena bergadang , bukan karena tirakat atau bertafakur seperti jaman orangtua-orangtua kita dulu . Latihan pendahuluan sangat diperlukan sebelum anak2 kita dicemplungkan dalam kawah chandra-dimuka. Juga , pemahaman tentang loyalitas dan pelatihan kedisiplinan saat ini sudah agak berbeda , karena tidak ada lagi gerakan Pramuka atau Scout yang dulu kita alami sejak SMP-SMA . Saran saya , hentikanlah kita saling menyalahkan . Mulailah duduk bersama untuk mencari satu persatu persoalan yang ada untuk memperbaiki keputusan yang keliru . Saran ini juga berlaku bagi ITB , sebagai Perguruan Tinggi yang masih kita junjung tinggi sebagai GARBA ILMIAH , bukan lembaga Kehakiman atau Penguasa . Salam hangat penuh semangat , Priyo Pribadi -----Original Message----- From: ebonk <[email protected]> To: [email protected] Date: Sat, 14 Feb 2009 05:04:08 +0700 Subject: [indonesia] Saya percaya, Mereka Tidak Bersalah! > Saya membaca berita di koran,media elektronik dan televisi yang > menyebutkan bahwa anak-anak IMG telah melakukan kekerasan dalam > kegiatan kaderisasi. Saya juga mendengar bahwa pihak kampus telah > menyatakan mereka bersalah dan akan dikenakan sanksi. Walaupun > demikian, dalam hati kecil saya percaya bahwa MEREKA TIDAK BERSALAH! > > Saya juga melihat WRMA, dengan kekuasaan yang dimilikinya, melakukan > character assasination dengan menyatakan bahwa anak-anak IMG mengalami > gangguan jiwa dan perlu menjalani psikotest. Saya berusaha untuk > memahami hal ini. Walaupun demikian, saya tidak mempercayai pernyataan > tersebut. Hati kecil saya berkata: Saya percaya anak-anak IMG waras > dan sehat akalnya! > > Pun berbagai pihak yang kebingungan, shock, atau kecewa, ikut > menghakimi dan percaya bahwa anak-anak IMG itu biang kerok, pembunuh, > maniak, suka kekerasan, dengan referensi pribadi yang belum tentu > relevan. Saya bisa memahami pendapat-pendapat tersebut. Walaupun > demikian, hati kecil saya berkata: Saya percaya anak-anak IMG bukan > maniak, bukan pembunuh dan bukan pelaku kekerasan! > > Belum lagi, pernyataan AMP Unpad ikut membuat posisi teman-teman IMG > semakin sulit. Dihantam dari segala arah seperti itu, banyak orang > yang makin yakin bahwa mereka memang melakukan penganiayaan. Namun > demikian, saya tidak percaya media. Hati kecil saya berkata: Mereka > tidak menganiaya orang! > > Mengapa demikian? Karena saya kenal mereka. Bahkan salah satu dari > mereka, Dilvo (salah satu korlap), saya kenal dengan dekat. Saya tahu > watak Dilvo dkk. Saya lebih percaya kepada mereka dari pada media. > > Mereka memang keras kepala, tidak mudah dipengaruhi begitu saja dan > lebih suka dengan jalan pikirannya sendiri. Namun dari pengalaman > saya, mereka adalah teman diskusi yang baik. Mudah diajak kerjasama > dan berpartisipasi, asal tahu caranya. > > Kasus ini bukan kasus STPDN yang titik beratnya adalah penganiayaan. > Apakah sodara-sodara melihat atau mengetahui adanya penganiyaan dalam > kasus ini? > > Saya bisa memahami, banyak pihak yang terusik dan tidak senang, karena > dianggap telah mencoreng nama baik almamater. Tapi sebaiknya, lebih > dulu kita tahu persis apa penyebab kematian Wisnu. Sebaiknya kita > sabar menunggu hasil penyelidikan. > > Saya sungguh menyayangkan tindakan Pak Widyo menjatuhkan sanksi, > memblacklist alumni, menyatakan mereka mengalami gangguan jiwa, > memecat ketua prodi, apalagi akan menghentikan penerimaan mahasiswa > baru. Padahal kita semua belum tahu hasil penyelidikannya. Tapi hajat > hidup dan masa depan banyak orang mau dikorbankan. Coba lihat, mengapa > Bapak bertindak gegabah seperti itu? Untuk apa semua tindakan yang > terburu-buru dan mengikuti hawa nafsu itu? Untuk siapa? > > Jika demi nama baik, atau apapun, lakukanlah dengan benar. Demi nama > baik ITB, usut tuntas sampai ketemu kebenarannya seperti apa. Demi > nama baik IMG, katakan saja apa yang benar, buatlah pernyataan yang > baik. Kita butuh kebenaran. Bukan kambing hitam! > > Jika ternyata mereka tidak bersalah, pertanyaan saya adalah, apakah > ITB (dalam hal ini Pak Widyo) mau membersihkan nama baik mereka, > mengembalikan jabatan ketua prodi, menyatakan menyesal telah menyebut > mereka mengalami gangguan jiwa? Dan tentu saja, bersedia mengundurkan > diri dari jabatannya? > > Mungkin saya sendirian, tapi saya orang yang yakin bahwa: > MEREKA TIDAK BERSALAH! > > Mohon maaf, jika ada kata-kata yang salah. Mari kita tunggu progress > hasil penyelidikan. > > -- > nenek moyangku bukan pelaut, tapi seorang rocker... > http://www.ebonk.org/blog/ > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi > serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan > akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
