Rekan-rekan Alumni ITB yth.,

Sebelumnya mohon maaf, saya ingin berkeluh-kesah di forum ini, siapa tahu ada 
yang juga merasakan hal yang sama atau ada yang bisa memberikan solusi maupun 
sumbang-saran. Saya kira kalau saja memang betul ITB adalah universitas kelas 
dunia, maka sudah saatnya dan sudah seharusnya ranah online dikelola dengan 
baik -- especially since *technology* is our middle name. Sorry, ini normatif 
saja. 

Sekarang alumni ITB -- kecuali yang kerja atau menjadi dosen di ITB -- sangat 
sulit untuk mendapat email address "@....itb.ac.id" semisal 
"@alumni.itb.ac.id", padahal konon "janji virtual"-nya sudah setahun lebih, 
namun tetap tidak ada follow-up dan sosialisasi yang nyata ke alumni. Padahal, 
ini penting sebagai sarana sosialisasi dan otentikasi diri antar alumni, bahkan 
sangat memudahkan universitas untuk menghubungi alumni yang ingin berkarya atau 
menyumbang ke almamater kita tercinta. 

Kalaulah kita pikir, apakah wajar alumni ITB pakai email "yahoo.com" untuk 
berinteraksi dengan sesama? Beri sajalah email "@itb.ac.id", kalau harus bayar 
bulanan pun bolehlah! Atau,  apakah ITB memang perlu dibantu untuk 
men-setup-nya? Waduh, bukankah "dedengkot IT" sudah banyak dihasilkan ITB?

Institusi pendidikan kelas dunia umumnya (kalau tidak semuanya) selalu punya 
dedicated email untuk alumninya -- kecuali sudah dinyatakan bangkrut, bagian 
IT-nya tidak dikaryakan dengan baik, atau pengelolanya korup (misalnya). 
Bahkan, majalah alumni bulanan dari fakultas terkait di-send ke email 
masing-masing alumni (atau bisa di-download di website) walaupun ybs. sudah 
bertahun-tahun meninggalkan universitas dan berdomisili di luar negeri -- dan, 
oh ya, ada yang dikirim via pos juga! Dan, you know what: it's free, mate!

Bila alasannya adalah sulit sekali untuk mendata dan mengotentikasi bahwa 
seseorang adalah benar alumni ITB, waduh, kok minimal 2 bank justru sudah 
bergerak lebih maju dengan kartu kredit alumni? Opo tumon? Quo vadis 
"Teknologi"?

Jadi, bila hal kecil seperti ini tidak juga bisa dipenuhi, mungkin wajar saja 
deh kalau ITB terdepak dari sekian besar universitas dunia, apalagi kalau 
ditambah adanya indikasi bahwa penghasil lumpur terbesar di dunia juga pernah 
menjejakkan kaki di sini. :-)

Salam,
CA
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Kirim email ke