Penting ya mas [email protected] ini ya?  Wong saya yg di dalam saja,
malah lebih suka pakai @gmail.com ;-)  Maklum, karena dulu sering
masalah emailnya dan sulit diakses dari luar, makanya pakai yg umum
;-)

Kalau ITB mau memberikan layanan "jasa internet" ke umum, perlu banyak
pembenahan pengelolaannya.  Apalagi kalau pakai bayar ... wah makin
berat beban layanannya. Pasti dituntut Service Level tinggi juga.
Mungkin belum siap ... kan belum menjadi world class university, baru
mau ke situ ;-)

ITB begitu besar ya dilihat dari luar? ;-)


salam,

-ai-


2010/5/24  <[email protected]>:
> Rekan-rekan Alumni ITB yth.,
>
> Sebelumnya mohon maaf, saya ingin berkeluh-kesah di forum ini, siapa tahu ada 
> yang juga merasakan hal yang sama atau ada yang bisa memberikan solusi maupun 
> sumbang-saran. Saya kira kalau saja memang betul ITB adalah universitas kelas 
> dunia, maka sudah saatnya dan sudah seharusnya ranah online dikelola dengan 
> baik -- especially since *technology* is our middle name. Sorry, ini normatif 
> saja.
>
> Sekarang alumni ITB -- kecuali yang kerja atau menjadi dosen di ITB -- sangat 
> sulit untuk mendapat email address "@....itb.ac.id" semisal 
> "@alumni.itb.ac.id", padahal konon "janji virtual"-nya sudah setahun lebih, 
> namun tetap tidak ada follow-up dan sosialisasi yang nyata ke alumni. 
> Padahal, ini penting sebagai sarana sosialisasi dan otentikasi diri antar 
> alumni, bahkan sangat memudahkan universitas untuk menghubungi alumni yang 
> ingin berkarya atau menyumbang ke almamater kita tercinta.
>
> Kalaulah kita pikir, apakah wajar alumni ITB pakai email "yahoo.com" untuk 
> berinteraksi dengan sesama? Beri sajalah email "@itb.ac.id", kalau harus 
> bayar bulanan pun bolehlah! Atau,  apakah ITB memang perlu dibantu untuk 
> men-setup-nya? Waduh, bukankah "dedengkot IT" sudah banyak dihasilkan ITB?
>
> Institusi pendidikan kelas dunia umumnya (kalau tidak semuanya) selalu punya 
> dedicated email untuk alumninya -- kecuali sudah dinyatakan bangkrut, bagian 
> IT-nya tidak dikaryakan dengan baik, atau pengelolanya korup (misalnya). 
> Bahkan, majalah alumni bulanan dari fakultas terkait di-send ke email 
> masing-masing alumni (atau bisa di-download di website) walaupun ybs. sudah 
> bertahun-tahun meninggalkan universitas dan berdomisili di luar negeri -- 
> dan, oh ya, ada yang dikirim via pos juga! Dan, you know what: it's free, 
> mate!
>
> Bila alasannya adalah sulit sekali untuk mendata dan mengotentikasi bahwa 
> seseorang adalah benar alumni ITB, waduh, kok minimal 2 bank justru sudah 
> bergerak lebih maju dengan kartu kredit alumni? Opo tumon? Quo vadis 
> "Teknologi"?
>
> Jadi, bila hal kecil seperti ini tidak juga bisa dipenuhi, mungkin wajar saja 
> deh kalau ITB terdepak dari sekian besar universitas dunia, apalagi kalau 
> ditambah adanya indikasi bahwa penghasil lumpur terbesar di dunia juga pernah 
> menjejakkan kaki di sini. :-)
>
> Salam,
> CA
> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke