Kepanjangan..malas bacanya.

Harris BI 86

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]: Tue, 25 May 2010 16:03:18 
To: Mohammad Andri Budiman<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [indonesia] Ikut Semut Yuk! ;-) (was: Quo Vadis E-mail 
"@....itb.ac.id"untuk Alumni?)

HA:
Prinsipnya berbunyi, "Ada gula ada semut", maka pertanyaannya adalah kenapa 
"semut"-nya (baca: "orang-orang yang akan menjadi administer email 
@....itb.ac.id untuk alumni") cuma tersedia 4 orang? Mungkin perlu ditinjau 
ulang gula macam apa yang bisa menarik semut sebanyak mungkin. (HA, rephrased, 
2010)

CA:
Karena "gula" sebagai "insentif hakiki" bagi "para semut pekerja" mulai 
diungkit-ungkit oleh Mas HA, maka sebelum membahas apa dan bagaimana sistem 
email untuk alumni ini hendak dirancang, ada baiknya kita gunakan salah satu 
ide dari domain kecerdasan alami buatan (artificial intelligence). Tidak sulit 
kok, dijamin deh! ;-)

Kali ini kita akan  mengulang pelajaran yang (seharusnya) ada di diktat "ilmu 
alamiah dasar" tentang bagaimana sekawanan semut menyelesaikan masalah mereka 
sendiri: menemukan lintasan termudah untuk mendapatkan gula!

Semut lazimnya akan melewati lintasan yang acak untuk sampai ke sumber "gula" 
(baca: "makanan") dan mengeluarkan zat bernama "pheromone" sebagai pertanda 
agar rekan-rekan sekoloninya mengikuti "jejak"-nya tersebut. Dengan demikian, 
semut-semut berikutnya dapat diprediksi tidak akan bergerak "seacak" para semut 
"pendahulu"-nya lagi. 

Bila semakin banyak semut melewati suatu lintasan, maka akumulasi pheromone 
pada lintasan tersebut akan semakin besar. Dan bila semakin banyak suatu 
lintasan mengandung pheromone, maka secara heuristik (baca: "experience-based") 
semakin besar kemungkinan lintasan tersebut merupakan lintasan "termudah" -- 
untuk tidak secara vulgar mengatakan "terpendek" -- untuk mencapai sumber 
makanan tadi. 

Mengapa demikian? Karena akumulasi pheromone pada hakikatnya adalah suatu 
bentuk "sharing experience" bagi sekawanan semut untuk menyatakan, "Ikuti aku 
saja yuk, ini lintasannya pendek, murah, dan cepat". Jadi, mungkin hal ini 
adalah semacam "collective conscious" makhluk primitif sebagai pelengkap term 
"collective unconscious"-nya Carl Jung untuk manusia. ;-)

***

Lalu, bagaimana bila akumulasi pheromone di suatu lintasan terlalu banyak -- 
meskipun kita (manusia) selaku "pengamat para semut" yakin dengan pasti bahwa 
lintasan tersebut bukan lintasan optimum? Singkatnya, bila terjadi hal 
demikian, apakah lintasan tersebut dapat langsung dinobatkan menjadi the 
"easiest" -- can we now just bluntly say "shortest"?! -- path? Bukankah hal ini 
sedikit bertentangan dengan "common sense"? 

Well, thanks to a process called "evaporation", there should never be a problem 
like that. Lingkungan (panas matahari, kelembaban, dll.) dapat menyebabkan 
pheromone berevaporasi (baca: menguap). Dengan demikian, maka penumpukan 
pheromone dalam suatu lintasan sub-optimum yang mengakibatkan lintasan tersebut 
menjadi "terlalu menarik" bagi semut lain bisa diekspektasi amat jarang terjadi.

***

Metode heuristik seperti "ant algorithm" di atas banyak digunakan untuk 
memecahkan "the shortest path problem" karena tidak perlu menempuh semua 
lintasan untuk mendapatkan "lintasan termudah menuju makanan" -- seperti ide 
dalam metode konvensional seperti metode brute force -- sehingga terminasinya 
cepat dan hasilnya pun dapat. 

Memang betul, cara heuristik sering tidak mencapai solusi yang "global 
optimum", namun setidaknya selalu ada solusi "local optimum" yang amat 
mendekati "global optimum" tersebut bagi makhluk hidup yang waktu (pikir, 
kerja, hidup) dan energi-nya terbatas sehingga tidak mungkin selalu bisa 
menunggu solusi dari metode brute-force. Tidak bisa dapat yang superlatif, yang 
komparatif pun jadi!

Kemudian, pada umumnya, solusi global optimum pun memang tidak selalu feasible 
untuk dicapai mengingat semut, gula, dan lingkungan selalu berubah sehingga 
ketika solusi optimum global didapatkan, tiba-tiba saja solusi tersebut menjadi 
tidak optimum lagi. There is nothing constant except change, isn't it? ;-)

***

Apa hubungan semua penjelasan di atas dengan penyediaan email "@....itb.ac.id"? 
Sesumutnya dan seyogyanya (tetapi mungkin tidak perlu sesumbar ;-)), kita bisa 
mengambil analogi objek-objek dalam algoritma semut untuk diperbandingkan 
dengan hal-hal yang berkaitan sistem dan pelaku yang bakal memimpin dan 
mengadministrasi email "@....itb.ac.id" untuk alumni tersebut. 

Berikut beberapa analogi yang terpikir on the fly:

(1) Semut butuh gula, manusia perlu uang, naik pangkat, tepukan di pundak, 
pengakuan, penghargaan, atau ... sekedar ciuman mesra atas keberhasilan dirinya 
dari pasangan sahnya mungkin? Jadi, pertanyaannya adalah, bisakah sistem yang 
hendak dibangun menyediakan beberapa "kick-back" untuk mereka dengan prinsip 
"win-win solution"?

(2) Semut menghasilkan pheromone, zat yang dapat menarik semut lain untuk ikut 
masuk ke dalam sistem untuk membantu mengangkut dan mendistribusikan makanan. 
Di sini pertanyaannya adalah, apakah sistem yang hendak dibangun akan punya 
nama baik? Bila ya, maka secara otomatis  akan terjadi "buzz-marketing" 
sehingga "semut-semut pekerja ahli" -- mantan-mantan alumni, maybe? -- mau ikut 
berkolaborasi membangun sistem? Walaupun, ehm, mungkin, seperti para penulis 
artikel di Wikipedia, mereka tidak dibayar? ;-) 

Poin kedua ini nampak bertentangan dengan poin (1) namun ternyata tidak. Bila 
seseorang sudah mencapai tahap aktualisasi diri, maka kemungkinan besar "basic 
needs"-nya sudah terpenuhi di tempat lain, jadi dia hanya ingin berbuat, 
berbuat, dan berbuat sebelum meninggalkan dunia. Stephen Covey menyebutnya 
dengan manis: "To leave a legacy."

(3) Sedikit bertentangan dengan penjelasan sebelumnya, evaporasi ternyata dapat 
juga menjadi proses yang tidak diinginkan lho. Kok bisa? Bayangkan saja kalau 
pheromone-nya semua lenyap akibat global warming yang menjadikan suhu setempat 
terlalu panas! Jangankan pheromone, semut pun takkan mau lagi ada di situ. :-) 

Jadi, analoginya, apabila "iklim kerja" di suatu tempat tidak baik, maka 
orang-orang pintar, berbakat, dan berdedikasi tinggi pun tidak akan bertahan 
lama untuk tinggal dan bekerja di situ. Nggak percaya? Tanyakanlah kepada Mbak 
Sri Mulyani. ;-)

Nah, jadi pertanyaan ketiga amat jelas: apakah iklim kerja -- yang sangat 
menyangkut birokrasi -- di ITB membuat "para semut di sistem email ITB (and any 
systems inside ITB, btw)" nyaman bekerja? 

We know that any kind of bad bureaucracy may kill the sense-of-justice, the 
people's creativity, and finally, the people themselves. Mari kita tanyakan 
kepada alumni yang pernah mengalami birokrasi yang tidak menyenangkan di 
pemerintahan atau institusinya masing-masing. Berbelit, lama, tidak pasti, dan 
terkadang tidak terminate... 

Don't get me wrong, saya tetap beryakinan bahwa ITB sebagai salah satu 
institusi pendidikan terbaik di ibu pertiwi memiliki birokrasi yang sudah ... 
cukup baik ... namun yang pasti perlu ditingkatkan saja lagi... ;-)

*** 

Akhirul kata, semoga "Raja dan Ratu semut" yang "berkoloni di ITB" dapat 
mengakomodasi email "@....itb.ac.id" untuk "para mantan semut" yang pernah 
"membuat lintasan" di ITB dan menciptakan iklim yang menyenangkan untuk 
"semut-semut pekerja" yang mengurus sistem email tadi.
   
Mari kita jemput bola secara proaktif, dan untuk hal ini, tidak perlu menunggu 
datangnya dana dari lumpur, bukan? ;-)

Salam,
CA
SI93
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® 
smartphoneêå¢fÚ•¨]jV¦‘ªòi·«²)Þ®­z¶©‘©äj'Z†)f»û^’z%¢¬z»Z‘«"†Æ²jxjyš�öš¶éíºKŠÈš•©�zh¤y¶¡jšjwnž&�jv¤†*Ú´‰ß¢—§�éh•¦§š)b°‰Ý¢w¬‰©ÞÆÖ޶׫†Ûiÿúnnw±µ·­µêçzßߊW¬þh¥ŠËb�Ú'zÈšŠwè·

Kirim email ke