tenang aja ,
nabi sulaiman juga bisa mendengarkan semut :-))


On Wed, 26 May 2010, [email protected] wrote:

Baru juga 5 menit tadi baca Wiki-nya, Mas Adi... ;-) Kalau ada link jurnal, 
film, dan ebooknya, boleh juga tuh di-share.. ;-)

Salam,
CA

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: Adi Indrayanto <[email protected]>
Sender: [email protected]: Wed, 26 May 2010 19:56:18
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [indonesia] Re: Ikut Semut Yuk! ;-) (was: Quo Vadis E-mail
        "@....itb.ac.id"untuk Alumni?)

Ambil idenya dari Swarm Intelligence? ;-)


2010/5/25  <[email protected]>:
HA:
Prinsipnya berbunyi, "Ada gula ada semut", maka pertanyaannya adalah kenapa "semut"-nya 
(baca: "orang-orang yang akan menjadi administer email @....itb.ac.id untuk alumni") cuma tersedia 
4 orang? Mungkin perlu ditinjau ulang gula macam apa yang bisa menarik semut sebanyak mungkin. (HA, 
rephrased, 2010)

CA:
Karena "gula" sebagai "insentif hakiki" bagi "para semut pekerja" mulai 
diungkit-ungkit oleh Mas HA, maka sebelum membahas apa dan bagaimana sistem email untuk alumni ini hendak 
dirancang, ada baiknya kita gunakan salah satu ide dari domain kecerdasan alami buatan (artificial 
intelligence). Tidak sulit kok, dijamin deh! ;-)

Kali ini kita akan  mengulang pelajaran yang (seharusnya) ada di diktat "ilmu 
alamiah dasar" tentang bagaimana sekawanan semut menyelesaikan masalah mereka 
sendiri: menemukan lintasan termudah untuk mendapatkan gula!

Semut lazimnya akan melewati lintasan yang acak untuk sampai ke sumber "gula" (baca: "makanan") dan mengeluarkan zat 
bernama "pheromone" sebagai pertanda agar rekan-rekan sekoloninya mengikuti "jejak"-nya tersebut. Dengan demikian, 
semut-semut berikutnya dapat diprediksi tidak akan bergerak "seacak" para semut "pendahulu"-nya lagi.

Bila semakin banyak semut melewati suatu lintasan, maka akumulasi pheromone pada lintasan tersebut akan 
semakin besar. Dan bila semakin banyak suatu lintasan mengandung pheromone, maka secara heuristik (baca: 
"experience-based") semakin besar kemungkinan lintasan tersebut merupakan lintasan 
"termudah" -- untuk tidak secara vulgar mengatakan "terpendek" -- untuk mencapai sumber 
makanan tadi.

Mengapa demikian? Karena akumulasi pheromone pada hakikatnya adalah suatu bentuk "sharing experience" bagi 
sekawanan semut untuk menyatakan, "Ikuti aku saja yuk, ini lintasannya pendek, murah, dan cepat". Jadi, 
mungkin hal ini adalah semacam "collective conscious" makhluk primitif sebagai pelengkap term 
"collective unconscious"-nya Carl Jung untuk manusia. ;-)

***

Lalu, bagaimana bila akumulasi pheromone di suatu lintasan terlalu banyak -- meskipun kita (manusia) selaku 
"pengamat para semut" yakin dengan pasti bahwa lintasan tersebut bukan lintasan optimum? Singkatnya, bila 
terjadi hal demikian, apakah lintasan tersebut dapat langsung dinobatkan menjadi the "easiest" -- can we now 
just bluntly say "shortest"?! -- path? Bukankah hal ini sedikit bertentangan dengan "common sense"?

Well, thanks to a process called "evaporation", there should never be a problem like 
that. Lingkungan (panas matahari, kelembaban, dll.) dapat menyebabkan pheromone berevaporasi (baca: 
menguap). Dengan demikian, maka penumpukan pheromone dalam suatu lintasan sub-optimum yang 
mengakibatkan lintasan tersebut menjadi "terlalu menarik" bagi semut lain bisa 
diekspektasi amat jarang terjadi.

***

Metode heuristik seperti "ant algorithm" di atas banyak digunakan untuk memecahkan "the 
shortest path problem" karena tidak perlu menempuh semua lintasan untuk mendapatkan "lintasan 
termudah menuju makanan" -- seperti ide dalam metode konvensional seperti metode brute force -- sehingga 
terminasinya cepat dan hasilnya pun dapat.

Memang betul, cara heuristik sering tidak mencapai solusi yang "global optimum", namun setidaknya 
selalu ada solusi "local optimum" yang amat mendekati "global optimum" tersebut bagi 
makhluk hidup yang waktu (pikir, kerja, hidup) dan energi-nya terbatas sehingga tidak mungkin selalu bisa 
menunggu solusi dari metode brute-force. Tidak bisa dapat yang superlatif, yang komparatif pun jadi!

Kemudian, pada umumnya, solusi global optimum pun memang tidak selalu feasible 
untuk dicapai mengingat semut, gula, dan lingkungan selalu berubah sehingga 
ketika solusi optimum global didapatkan, tiba-tiba saja solusi tersebut menjadi 
tidak optimum lagi. There is nothing constant except change, isn't it? ;-)

***

Apa hubungan semua penjelasan di atas dengan penyediaan email "@....itb.ac.id"? 
Sesumutnya dan seyogyanya (tetapi mungkin tidak perlu sesumbar ;-)), kita bisa mengambil analogi 
objek-objek dalam algoritma semut untuk diperbandingkan dengan hal-hal yang berkaitan sistem dan 
pelaku yang bakal memimpin dan mengadministrasi email "@....itb.ac.id" untuk alumni 
tersebut.

Berikut beberapa analogi yang terpikir on the fly:

(1) Semut butuh gula, manusia perlu uang, naik pangkat, tepukan di pundak, pengakuan, penghargaan, 
atau ... sekedar ciuman mesra atas keberhasilan dirinya dari pasangan sahnya mungkin? Jadi, 
pertanyaannya adalah, bisakah sistem yang hendak dibangun menyediakan beberapa 
"kick-back" untuk mereka dengan prinsip "win-win solution"?

(2) Semut menghasilkan pheromone, zat yang dapat menarik semut lain untuk ikut masuk ke dalam 
sistem untuk membantu mengangkut dan mendistribusikan makanan. Di sini pertanyaannya adalah, apakah 
sistem yang hendak dibangun akan punya nama baik? Bila ya, maka secara otomatis  akan terjadi 
"buzz-marketing" sehingga "semut-semut pekerja ahli" -- mantan-mantan alumni, 
maybe? -- mau ikut berkolaborasi membangun sistem? Walaupun, ehm, mungkin, seperti para penulis 
artikel di Wikipedia, mereka tidak dibayar? ;-)

Poin kedua ini nampak bertentangan dengan poin (1) namun ternyata tidak. Bila seseorang sudah 
mencapai tahap aktualisasi diri, maka kemungkinan besar "basic needs"-nya sudah terpenuhi 
di tempat lain, jadi dia hanya ingin berbuat, berbuat, dan berbuat sebelum meninggalkan dunia. 
Stephen Covey menyebutnya dengan manis: "To leave a legacy."

(3) Sedikit bertentangan dengan penjelasan sebelumnya, evaporasi ternyata dapat 
juga menjadi proses yang tidak diinginkan lho. Kok bisa? Bayangkan saja kalau 
pheromone-nya semua lenyap akibat global warming yang menjadikan suhu setempat 
terlalu panas! Jangankan pheromone, semut pun takkan mau lagi ada di situ. :-)

Jadi, analoginya, apabila "iklim kerja" di suatu tempat tidak baik, maka 
orang-orang pintar, berbakat, dan berdedikasi tinggi pun tidak akan bertahan lama untuk 
tinggal dan bekerja di situ. Nggak percaya? Tanyakanlah kepada Mbak Sri Mulyani. ;-)

Nah, jadi pertanyaan ketiga amat jelas: apakah iklim kerja -- yang sangat menyangkut 
birokrasi -- di ITB membuat "para semut di sistem email ITB (and any systems inside 
ITB, btw)" nyaman bekerja?

We know that any kind of bad bureaucracy may kill the sense-of-justice, the 
people's creativity, and finally, the people themselves. Mari kita tanyakan 
kepada alumni yang pernah mengalami birokrasi yang tidak menyenangkan di 
pemerintahan atau institusinya masing-masing. Berbelit, lama, tidak pasti, dan 
terkadang tidak terminate...

Don't get me wrong, saya tetap beryakinan bahwa ITB sebagai salah satu 
institusi pendidikan terbaik di ibu pertiwi memiliki birokrasi yang sudah ... 
cukup baik ... namun yang pasti perlu ditingkatkan saja lagi... ;-)

***

Akhirul kata, semoga "Raja dan Ratu semut" yang "berkoloni di ITB" dapat mengakomodasi email "@....itb.ac.id" 
untuk "para mantan semut" yang pernah "membuat lintasan" di ITB dan menciptakan iklim yang menyenangkan untuk 
"semut-semut pekerja" yang mengurus sistem email tadi.

Mari kita jemput bola secara proaktif, dan untuk hal ini, tidak perlu menunggu 
datangnya dana dari lumpur, bukan? ;-)

Salam,
CA
SI93
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
êå¢fÚ•¨]jV¦‘ªòi·«²)Þ®­z¶©‘©äj'Z†)f»û^’z%¢¬z»Z‘«"†Æ²jxjyš�öš¶éíºKŠÈš•©�zh¤y¶¡jšjwnž&�jv¤†*Ú´‰ß¢—§�éh•¦§š)b°‰Ý¢w¬‰©ÞÆÖ޶׫†Ûiÿúnnw±µ·­µêçzßߊW¬þh¥ŠËb�Ú'zÈšŠwè·

Kirim email ke