Thank you, Mas Dwi. :-) Salam, CA Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
-----Original Message----- From: "Dwi Ananto Widjojo" <[email protected]> Sender: [email protected]: Wed, 26 May 2010 07:45:22 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [indonesia] Re: Ikut Semut Yuk! Walau panjang tapi berisi. Gaya tulisannya pun bagus. Keep writing, Mas Mandrib. Dwi Ananto W /EL82 -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of [email protected] Sent: Tuesday, May 25, 2010 11:24 PM To: [email protected] Subject: [indonesia] Re: Ikut Semut Yuk! ;-) (was: Quo Vadis E-mail "@....itb.ac.id"untuk Alumni?) Kepanjangan..malas bacanya. Harris BI 86 Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: [email protected] Sender: [email protected]: Tue, 25 May 2010 16:03:18 To: Mohammad Andri Budiman<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [indonesia] Ikut Semut Yuk! ;-) (was: Quo Vadis E-mail "@....itb.ac.id"untuk Alumni?) HA: Prinsipnya berbunyi, "Ada gula ada semut", maka pertanyaannya adalah kenapa "semut"-nya (baca: "orang-orang yang akan menjadi administer email @....itb.ac.id untuk alumni") cuma tersedia 4 orang? Mungkin perlu ditinjau ulang gula macam apa yang bisa menarik semut sebanyak mungkin. (HA, rephrased, 2010) CA: Karena "gula" sebagai "insentif hakiki" bagi "para semut pekerja" mulai diungkit-ungkit oleh Mas HA, maka sebelum membahas apa dan bagaimana sistem email untuk alumni ini hendak dirancang, ada baiknya kita gunakan salah satu ide dari domain kecerdasan alami buatan (artificial intelligence). Tidak sulit kok, dijamin deh! ;-) Kali ini kita akan mengulang pelajaran yang (seharusnya) ada di diktat "ilmu alamiah dasar" tentang bagaimana sekawanan semut menyelesaikan masalah mereka sendiri: menemukan lintasan termudah untuk mendapatkan gula! Semut lazimnya akan melewati lintasan yang acak untuk sampai ke sumber "gula" (baca: "makanan") dan mengeluarkan zat bernama "pheromone" sebagai pertanda agar rekan-rekan sekoloninya mengikuti "jejak"-nya tersebut. Dengan demikian, semut-semut berikutnya dapat diprediksi tidak akan bergerak "seacak" para semut "pendahulu"-nya lagi. Bila semakin banyak semut melewati suatu lintasan, maka akumulasi pheromone pada lintasan tersebut akan semakin besar. Dan bila semakin banyak suatu lintasan mengandung pheromone, maka secara heuristik (baca: "experience-based") semakin besar kemungkinan lintasan tersebut merupakan lintasan "termudah" -- untuk tidak secara vulgar mengatakan "terpendek" -- untuk mencapai sumber makanan tadi. Mengapa demikian? Karena akumulasi pheromone pada hakikatnya adalah suatu bentuk "sharing experience" bagi sekawanan semut untuk menyatakan, "Ikuti aku saja yuk, ini lintasannya pendek, murah, dan cepat". Jadi, mungkin hal ini adalah semacam "collective conscious" makhluk primitif sebagai pelengkap term "collective unconscious"-nya Carl Jung untuk manusia. ;-) *** Lalu, bagaimana bila akumulasi pheromone di suatu lintasan terlalu banyak -- meskipun kita (manusia) selaku "pengamat para semut" yakin dengan pasti bahwa lintasan tersebut bukan lintasan optimum? Singkatnya, bila terjadi hal demikian, apakah lintasan tersebut dapat langsung dinobatkan menjadi the "easiest" -- can we now just bluntly say "shortest"?! -- path? Bukankah hal ini sedikit bertentangan dengan "common sense"? Well, thanks to a process called "evaporation", there should never be a problem like that. Lingkungan (panas matahari, kelembaban, dll.) dapat menyebabkan pheromone berevaporasi (baca: menguap). Dengan demikian, maka penumpukan pheromone dalam suatu lintasan sub-optimum yang mengakibatkan lintasan tersebut menjadi "terlalu menarik" bagi semut lain bisa diekspektasi amat jarang terjadi. *** Metode heuristik seperti "ant algorithm" di atas banyak digunakan untuk memecahkan "the shortest path problem" karena tidak perlu menempuh semua lintasan untuk mendapatkan "lintasan termudah menuju makanan" -- seperti ide dalam metode konvensional seperti metode brute force -- sehingga terminasinya cepat dan hasilnya pun dapat. Memang betul, cara heuristik sering tidak mencapai solusi yang "global optimum", namun setidaknya selalu ada solusi "local optimum" yang amat mendekati "global optimum" tersebut bagi makhluk hidup yang waktu (pikir, kerja, hidup) dan energi-nya terbatas sehingga tidak mungkin selalu bisa menunggu solusi dari metode brute-force. Tidak bisa dapat yang superlatif, yang komparatif pun jadi! Kemudian, pada umumnya, solusi global optimum pun memang tidak selalu feasible untuk dicapai mengingat semut, gula, dan lingkungan selalu berubah sehingga ketika solusi optimum global didapatkan, tiba-tiba saja solusi tersebut menjadi tidak optimum lagi. There is nothing constant except change, isn't it? ;-) *** Apa hubungan semua penjelasan di atas dengan penyediaan email "@....itb.ac.id"? Sesumutnya dan seyogyanya (tetapi mungkin tidak perlu sesumbar ;-)), kita bisa mengambil analogi objek-objek dalam algoritma semut untuk diperbandingkan dengan hal-hal yang berkaitan sistem dan pelaku yang bakal memimpin dan mengadministrasi email "@....itb.ac.id" untuk alumni tersebut. Berikut beberapa analogi yang terpikir on the fly: (1) Semut butuh gula, manusia perlu uang, naik pangkat, tepukan di pundak, pengakuan, penghargaan, atau ... sekedar ciuman mesra atas keberhasilan dirinya dari pasangan sahnya mungkin? Jadi, pertanyaannya adalah, bisakah sistem yang hendak dibangun menyediakan beberapa "kick-back" untuk mereka dengan prinsip "win-win solution"? (2) Semut menghasilkan pheromone, zat yang dapat menarik semut lain untuk ikut masuk ke dalam sistem untuk membantu mengangkut dan mendistribusikan makanan. Di sini pertanyaannya adalah, apakah sistem yang hendak dibangun akan punya nama baik? Bila ya, maka secara otomatis akan terjadi "buzz-marketing" sehingga "semut-semut pekerja ahli" -- mantan-mantan alumni, maybe? -- mau ikut berkolaborasi membangun sistem? Walaupun, ehm, mungkin, seperti para penulis artikel di Wikipedia, mereka tidak dibayar? ;-) Poin kedua ini nampak bertentangan dengan poin (1) namun ternyata tidak. Bila seseorang sudah mencapai tahap aktualisasi diri, maka kemungkinan besar "basic needs"-nya sudah terpenuhi di tempat lain, jadi dia hanya ingin berbuat, berbuat, dan berbuat sebelum meninggalkan dunia. Stephen Covey menyebutnya dengan manis: "To leave a legacy." (3) Sedikit bertentangan dengan penjelasan sebelumnya, evaporasi ternyata dapat juga menjadi proses yang tidak diinginkan lho. Kok bisa? Bayangkan saja kalau pheromone-nya semua lenyap akibat global warming yang menjadikan suhu setempat terlalu panas! Jangankan pheromone, semut pun takkan mau lagi ada di situ. :-) Jadi, analoginya, apabila "iklim kerja" di suatu tempat tidak baik, maka orang-orang pintar, berbakat, dan berdedikasi tinggi pun tidak akan bertahan lama untuk tinggal dan bekerja di situ. Nggak percaya? Tanyakanlah kepada Mbak Sri Mulyani. ;-) Nah, jadi pertanyaan ketiga amat jelas: apakah iklim kerja -- yang sangat menyangkut birokrasi -- di ITB membuat "para semut di sistem email ITB (and any systems inside ITB, btw)" nyaman bekerja? We know that any kind of bad bureaucracy may kill the sense-of-justice, the people's creativity, and finally, the people themselves. Mari kita tanyakan kepada alumni yang pernah mengalami birokrasi yang tidak menyenangkan di pemerintahan atau institusinya masing-masing. Berbelit, lama, tidak pasti, dan terkadang tidak terminate... Don't get me wrong, saya tetap beryakinan bahwa ITB sebagai salah satu institusi pendidikan terbaik di ibu pertiwi memiliki birokrasi yang sudah ... cukup baik ... namun yang pasti perlu ditingkatkan saja lagi... ;-) *** Akhirul kata, semoga "Raja dan Ratu semut" yang "berkoloni di ITB" dapat mengakomodasi email "@....itb.ac.id" untuk "para mantan semut" yang pernah "membuat lintasan" di ITB dan menciptakan iklim yang menyenangkan untuk "semut-semut pekerja" yang mengurus sistem email tadi. Mari kita jemput bola secara proaktif, dan untuk hal ini, tidak perlu menunggu datangnya dana dari lumpur, bukan? ;-) Salam, CA SI93 Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphoneêå¢fÚ•¨]jV¦‘ªòi·«²)Þ®z¶©‘©äj'Z†)f»û^’z%¢¬z»Z‘«"†Æ²jxjyšöš¶éíºKŠÈš•©zh¤y¶¡jšjwnž&jv¤†*Ú´‰ß¢—§éh•¦§š)b°‰Ý¢w¬‰©ÞÆÖ޶׫†Ûiÿúnnw±µ·µêçzßߊW¬þh¥ŠËbÚ'zÈšŠwè·ÿð^®Z&m©Z…Ö¥ji¯&ÿmêìŠw«‚/íz¶©‘©äj'Z†)f»û^’z%¢¬z»Z‘«"†Æ²jxjyšöš¶éíºKŠÈš•©ÿu频æÚ…¨"i©Ýºxšu©Ú’«jßÈú)zx–‰Zjy¢–+Ú'zÈšìmmëmz¿á¶ÚÿÿúnoùÞÆÖ޶׫þwýø¥zÏæŠX¬·ø§v‰Þ²&ÿŠwèþÜm __________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature database 5126 (20100519)__________ The message was checked by ESET NOD32 Antivirus. http://www.eset.com __________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature database 5126 (20100519)__________ The message was checked by ESET NOD32 Antivirus. http://www.eset.com -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
