Haha.. Kemarin di stadion Siliwangi ada maung main bola

Sent from my mobile device with love

-----Original Message-----
From: Basuki Suhardiman <[email protected]>
Sender: [email protected]: Thu, 27 May 2010 07:00:30 
To: Indonesia<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [indonesia] Re: Ikut Semut Yuk! ;-) (was: Quo Vadis E-mail
 "@....itb.ac.id"untuk Alumni?)



tenang aja ,
nabi sulaiman juga bisa mendengarkan semut :-))


On Wed, 26 May 2010, [email protected] wrote:

> Baru juga 5 menit tadi baca Wiki-nya, Mas Adi... ;-) Kalau ada link jurnal, 
> film, dan ebooknya, boleh juga tuh di-share.. ;-)
>
> Salam,
> CA
>
> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
>
> -----Original Message-----
> From: Adi Indrayanto <[email protected]>
> Sender: [email protected]: Wed, 26 May 2010 19:56:18
> To: <[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: [indonesia] Re: Ikut Semut Yuk! ;-) (was: Quo Vadis E-mail
>       "@....itb.ac.id"untuk Alumni?)
>
> Ambil idenya dari Swarm Intelligence? ;-)
>
>
> 2010/5/25  <[email protected]>:
>> HA:
>> Prinsipnya berbunyi, "Ada gula ada semut", maka pertanyaannya adalah kenapa 
>> "semut"-nya (baca: "orang-orang yang akan menjadi administer email 
>> @....itb.ac.id untuk alumni") cuma tersedia 4 orang? Mungkin perlu ditinjau 
>> ulang gula macam apa yang bisa menarik semut sebanyak mungkin. (HA, 
>> rephrased, 2010)
>>
>> CA:
>> Karena "gula" sebagai "insentif hakiki" bagi "para semut pekerja" mulai 
>> diungkit-ungkit oleh Mas HA, maka sebelum membahas apa dan bagaimana sistem 
>> email untuk alumni ini hendak dirancang, ada baiknya kita gunakan salah satu 
>> ide dari domain kecerdasan alami buatan (artificial intelligence). Tidak 
>> sulit kok, dijamin deh! ;-)
>>
>> Kali ini kita akan  mengulang pelajaran yang (seharusnya) ada di diktat 
>> "ilmu alamiah dasar" tentang bagaimana sekawanan semut menyelesaikan masalah 
>> mereka sendiri: menemukan lintasan termudah untuk mendapatkan gula!
>>
>> Semut lazimnya akan melewati lintasan yang acak untuk sampai ke sumber 
>> "gula" (baca: "makanan") dan mengeluarkan zat bernama "pheromone" sebagai 
>> pertanda agar rekan-rekan sekoloninya mengikuti "jejak"-nya tersebut. Dengan 
>> demikian, semut-semut berikutnya dapat diprediksi tidak akan bergerak 
>> "seacak" para semut "pendahulu"-nya lagi.
>>
>> Bila semakin banyak semut melewati suatu lintasan, maka akumulasi pheromone 
>> pada lintasan tersebut akan semakin besar. Dan bila semakin banyak suatu 
>> lintasan mengandung pheromone, maka secara heuristik (baca: 
>> "experience-based") semakin besar kemungkinan lintasan tersebut merupakan 
>> lintasan "termudah" -- untuk tidak secara vulgar mengatakan "terpendek" -- 
>> untuk mencapai sumber makanan tadi.
>>
>> Mengapa demikian? Karena akumulasi pheromone pada hakikatnya adalah suatu 
>> bentuk "sharing experience" bagi sekawanan semut untuk menyatakan, "Ikuti 
>> aku saja yuk, ini lintasannya pendek, murah, dan cepat". Jadi, mungkin hal 
>> ini adalah semacam "collective conscious" makhluk primitif sebagai pelengkap 
>> term "collective unconscious"-nya Carl Jung untuk manusia. ;-)
>>
>> ***
>>
>> Lalu, bagaimana bila akumulasi pheromone di suatu lintasan terlalu banyak -- 
>> meskipun kita (manusia) selaku "pengamat para semut" yakin dengan pasti 
>> bahwa lintasan tersebut bukan lintasan optimum? Singkatnya, bila terjadi hal 
>> demikian, apakah lintasan tersebut dapat langsung dinobatkan menjadi the 
>> "easiest" -- can we now just bluntly say "shortest"?! -- path? Bukankah hal 
>> ini sedikit bertentangan dengan "common sense"?
>>
>> Well, thanks to a process called "evaporation", there should never be a 
>> problem like that. Lingkungan (panas matahari, kelembaban, dll.) dapat 
>> menyebabkan pheromone berevaporasi (baca: menguap). Dengan demikian, maka 
>> penumpukan pheromone dalam suatu lintasan sub-optimum yang mengakibatkan 
>> lintasan tersebut menjadi "terlalu menarik" bagi semut lain bisa 
>> diekspektasi amat jarang terjadi.
>>
>> ***
>>
>> Metode heuristik seperti "ant algorithm" di atas banyak digunakan untuk 
>> memecahkan "the shortest path problem" karena tidak perlu menempuh semua 
>> lintasan untuk mendapatkan "lintasan termudah menuju makanan" -- seperti ide 
>> dalam metode konvensional seperti metode brute force -- sehingga 
>> terminasinya cepat dan hasilnya pun dapat.
>>
>> Memang betul, cara heuristik sering tidak mencapai solusi yang "global 
>> optimum", namun setidaknya selalu ada solusi "local optimum" yang amat 
>> mendekati "global optimum" tersebut bagi makhluk hidup yang waktu (pikir, 
>> kerja, hidup) dan energi-nya terbatas sehingga tidak mungkin selalu bisa 
>> menunggu solusi dari metode brute-force. Tidak bisa dapat yang superlatif, 
>> yang komparatif pun jadi!
>>
>> Kemudian, pada umumnya, solusi global optimum pun memang tidak selalu 
>> feasible untuk dicapai mengingat semut, gula, dan lingkungan selalu berubah 
>> sehingga ketika solusi optimum global didapatkan, tiba-tiba saja solusi 
>> tersebut menjadi tidak optimum lagi. There is nothing constant except 
>> change, isn't it? ;-)
>>
>> ***
>>
>> Apa hubungan semua penjelasan di atas dengan penyediaan email 
>> "@....itb.ac.id"? Sesumutnya dan seyogyanya (tetapi mungkin tidak perlu 
>> sesumbar ;-)), kita bisa mengambil analogi objek-objek dalam algoritma semut 
>> untuk diperbandingkan dengan hal-hal yang berkaitan sistem dan pelaku yang 
>> bakal memimpin dan mengadministrasi email "@....itb.ac.id" untuk alumni 
>> tersebut.
>>
>> Berikut beberapa analogi yang terpikir on the fly:
>>
>> (1) Semut butuh gula, manusia perlu uang, naik pangkat, tepukan di pundak, 
>> pengakuan, penghargaan, atau ... sekedar ciuman mesra atas keberhasilan 
>> dirinya dari pasangan sahnya mungkin? Jadi, pertanyaannya adalah, bisakah 
>> sistem yang hendak dibangun menyediakan beberapa "kick-back" untuk mereka 
>> dengan prinsip "win-win solution"?
>>
>> (2) Semut menghasilkan pheromone, zat yang dapat menarik semut lain untuk 
>> ikut masuk ke dalam sistem untuk membantu mengangkut dan mendistribusikan 
>> makanan. Di sini pertanyaannya adalah, apakah sistem yang hendak dibangun 
>> akan punya nama baik? Bila ya, maka secara otomatis  akan terjadi 
>> "buzz-marketing" sehingga "semut-semut pekerja ahli" -- mantan-mantan 
>> alumni, maybe? -- mau ikut berkolaborasi membangun sistem? Walaupun, ehm, 
>> mungkin, seperti para penulis artikel di Wikipedia, mereka tidak dibayar? ;-)
>>
>> Poin kedua ini nampak bertentangan dengan poin (1) namun ternyata tidak. 
>> Bila seseorang sudah mencapai tahap aktualisasi diri, maka kemungkinan besar 
>> "basic needs"-nya sudah terpenuhi di tempat lain, jadi dia hanya ingin 
>> berbuat, berbuat, dan berbuat sebelum meninggalkan dunia. Stephen Covey 
>> menyebutnya dengan manis: "To leave a legacy."
>>
>> (3) Sedikit bertentangan dengan penjelasan sebelumnya, evaporasi ternyata 
>> dapat juga menjadi proses yang tidak diinginkan lho. Kok bisa? Bayangkan 
>> saja kalau pheromone-nya semua lenyap akibat global warming yang menjadikan 
>> suhu setempat terlalu panas! Jangankan pheromone, semut pun takkan mau lagi 
>> ada di situ. :-)
>>
>> Jadi, analoginya, apabila "iklim kerja" di suatu tempat tidak baik, maka 
>> orang-orang pintar, berbakat, dan berdedikasi tinggi pun tidak akan bertahan 
>> lama untuk tinggal dan bekerja di situ. Nggak percaya? Tanyakanlah kepada 
>> Mbak Sri Mulyani. ;-)
>>
>> Nah, jadi pertanyaan ketiga amat jelas: apakah iklim kerja -- yang sangat 
>> menyangkut birokrasi -- di ITB membuat "para semut di sistem email ITB (and 
>> any systems inside ITB, btw)" nyaman bekerja?
>>
>> We know that any kind of bad bureaucracy may kill the sense-of-justice, the 
>> people's creativity, and finally, the people themselves. Mari kita tanyakan 
>> kepada alumni yang pernah mengalami birokrasi yang tidak menyenangkan di 
>> pemerintahan atau institusinya masing-masing. Berbelit, lama, tidak pasti, 
>> dan terkadang tidak terminate...
>>
>> Don't get me wrong, saya tetap beryakinan bahwa ITB sebagai salah satu 
>> institusi pendidikan terbaik di ibu pertiwi memiliki birokrasi yang sudah 
>> ... cukup baik ... namun yang pasti perlu ditingkatkan saja lagi... ;-)
>>
>> ***
>>
>> Akhirul kata, semoga "Raja dan Ratu semut" yang "berkoloni di ITB" dapat 
>> mengakomodasi email "@....itb.ac.id" untuk "para mantan semut" yang pernah 
>> "membuat lintasan" di ITB dan menciptakan iklim yang menyenangkan untuk 
>> "semut-semut pekerja" yang mengurus sistem email tadi.
>>
>> Mari kita jemput bola secara proaktif, dan untuk hal ini, tidak perlu 
>> menunggu datangnya dana dari lumpur, bukan? ;-)
>>
>> Salam,
>> CA
>> SI93
>> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
>
> --
> Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
> kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
>
> Info pengelolaan milis Indonesia next better :
> http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
> êå¢fÚ•¨]jV¦‘ªòi·«²)Þ®­z¶©‘©äj'Z†)f»û^’z%¢¬z»Z‘«"†Æ²jxjyš�öš¶éíºKŠÈš•©�zh¤y¶¡jšjwnž&�jv¤†*Ú´‰ß¢—§�éh•¦§š)b°‰Ý¢w¬‰©ÞÆÖ޶׫†Ûiÿúnnw±µ·­µêçzßߊW¬þh¥ŠËb�Ú'zÈšŠwè·

Kirim email ke