Ambil idenya dari Swarm Intelligence? ;-)
2010/5/25 <[email protected]>: > HA: > Prinsipnya berbunyi, "Ada gula ada semut", maka pertanyaannya adalah kenapa > "semut"-nya (baca: "orang-orang yang akan menjadi administer email > @....itb.ac.id untuk alumni") cuma tersedia 4 orang? Mungkin perlu ditinjau > ulang gula macam apa yang bisa menarik semut sebanyak mungkin. (HA, > rephrased, 2010) > > CA: > Karena "gula" sebagai "insentif hakiki" bagi "para semut pekerja" mulai > diungkit-ungkit oleh Mas HA, maka sebelum membahas apa dan bagaimana sistem > email untuk alumni ini hendak dirancang, ada baiknya kita gunakan salah satu > ide dari domain kecerdasan alami buatan (artificial intelligence). Tidak > sulit kok, dijamin deh! ;-) > > Kali ini kita akan mengulang pelajaran yang (seharusnya) ada di diktat "ilmu > alamiah dasar" tentang bagaimana sekawanan semut menyelesaikan masalah mereka > sendiri: menemukan lintasan termudah untuk mendapatkan gula! > > Semut lazimnya akan melewati lintasan yang acak untuk sampai ke sumber "gula" > (baca: "makanan") dan mengeluarkan zat bernama "pheromone" sebagai pertanda > agar rekan-rekan sekoloninya mengikuti "jejak"-nya tersebut. Dengan demikian, > semut-semut berikutnya dapat diprediksi tidak akan bergerak "seacak" para > semut "pendahulu"-nya lagi. > > Bila semakin banyak semut melewati suatu lintasan, maka akumulasi pheromone > pada lintasan tersebut akan semakin besar. Dan bila semakin banyak suatu > lintasan mengandung pheromone, maka secara heuristik (baca: > "experience-based") semakin besar kemungkinan lintasan tersebut merupakan > lintasan "termudah" -- untuk tidak secara vulgar mengatakan "terpendek" -- > untuk mencapai sumber makanan tadi. > > Mengapa demikian? Karena akumulasi pheromone pada hakikatnya adalah suatu > bentuk "sharing experience" bagi sekawanan semut untuk menyatakan, "Ikuti aku > saja yuk, ini lintasannya pendek, murah, dan cepat". Jadi, mungkin hal ini > adalah semacam "collective conscious" makhluk primitif sebagai pelengkap term > "collective unconscious"-nya Carl Jung untuk manusia. ;-) > > *** > > Lalu, bagaimana bila akumulasi pheromone di suatu lintasan terlalu banyak -- > meskipun kita (manusia) selaku "pengamat para semut" yakin dengan pasti bahwa > lintasan tersebut bukan lintasan optimum? Singkatnya, bila terjadi hal > demikian, apakah lintasan tersebut dapat langsung dinobatkan menjadi the > "easiest" -- can we now just bluntly say "shortest"?! -- path? Bukankah hal > ini sedikit bertentangan dengan "common sense"? > > Well, thanks to a process called "evaporation", there should never be a > problem like that. Lingkungan (panas matahari, kelembaban, dll.) dapat > menyebabkan pheromone berevaporasi (baca: menguap). Dengan demikian, maka > penumpukan pheromone dalam suatu lintasan sub-optimum yang mengakibatkan > lintasan tersebut menjadi "terlalu menarik" bagi semut lain bisa diekspektasi > amat jarang terjadi. > > *** > > Metode heuristik seperti "ant algorithm" di atas banyak digunakan untuk > memecahkan "the shortest path problem" karena tidak perlu menempuh semua > lintasan untuk mendapatkan "lintasan termudah menuju makanan" -- seperti ide > dalam metode konvensional seperti metode brute force -- sehingga terminasinya > cepat dan hasilnya pun dapat. > > Memang betul, cara heuristik sering tidak mencapai solusi yang "global > optimum", namun setidaknya selalu ada solusi "local optimum" yang amat > mendekati "global optimum" tersebut bagi makhluk hidup yang waktu (pikir, > kerja, hidup) dan energi-nya terbatas sehingga tidak mungkin selalu bisa > menunggu solusi dari metode brute-force. Tidak bisa dapat yang superlatif, > yang komparatif pun jadi! > > Kemudian, pada umumnya, solusi global optimum pun memang tidak selalu > feasible untuk dicapai mengingat semut, gula, dan lingkungan selalu berubah > sehingga ketika solusi optimum global didapatkan, tiba-tiba saja solusi > tersebut menjadi tidak optimum lagi. There is nothing constant except change, > isn't it? ;-) > > *** > > Apa hubungan semua penjelasan di atas dengan penyediaan email > "@....itb.ac.id"? Sesumutnya dan seyogyanya (tetapi mungkin tidak perlu > sesumbar ;-)), kita bisa mengambil analogi objek-objek dalam algoritma semut > untuk diperbandingkan dengan hal-hal yang berkaitan sistem dan pelaku yang > bakal memimpin dan mengadministrasi email "@....itb.ac.id" untuk alumni > tersebut. > > Berikut beberapa analogi yang terpikir on the fly: > > (1) Semut butuh gula, manusia perlu uang, naik pangkat, tepukan di pundak, > pengakuan, penghargaan, atau ... sekedar ciuman mesra atas keberhasilan > dirinya dari pasangan sahnya mungkin? Jadi, pertanyaannya adalah, bisakah > sistem yang hendak dibangun menyediakan beberapa "kick-back" untuk mereka > dengan prinsip "win-win solution"? > > (2) Semut menghasilkan pheromone, zat yang dapat menarik semut lain untuk > ikut masuk ke dalam sistem untuk membantu mengangkut dan mendistribusikan > makanan. Di sini pertanyaannya adalah, apakah sistem yang hendak dibangun > akan punya nama baik? Bila ya, maka secara otomatis akan terjadi > "buzz-marketing" sehingga "semut-semut pekerja ahli" -- mantan-mantan alumni, > maybe? -- mau ikut berkolaborasi membangun sistem? Walaupun, ehm, mungkin, > seperti para penulis artikel di Wikipedia, mereka tidak dibayar? ;-) > > Poin kedua ini nampak bertentangan dengan poin (1) namun ternyata tidak. Bila > seseorang sudah mencapai tahap aktualisasi diri, maka kemungkinan besar > "basic needs"-nya sudah terpenuhi di tempat lain, jadi dia hanya ingin > berbuat, berbuat, dan berbuat sebelum meninggalkan dunia. Stephen Covey > menyebutnya dengan manis: "To leave a legacy." > > (3) Sedikit bertentangan dengan penjelasan sebelumnya, evaporasi ternyata > dapat juga menjadi proses yang tidak diinginkan lho. Kok bisa? Bayangkan saja > kalau pheromone-nya semua lenyap akibat global warming yang menjadikan suhu > setempat terlalu panas! Jangankan pheromone, semut pun takkan mau lagi ada di > situ. :-) > > Jadi, analoginya, apabila "iklim kerja" di suatu tempat tidak baik, maka > orang-orang pintar, berbakat, dan berdedikasi tinggi pun tidak akan bertahan > lama untuk tinggal dan bekerja di situ. Nggak percaya? Tanyakanlah kepada > Mbak Sri Mulyani. ;-) > > Nah, jadi pertanyaan ketiga amat jelas: apakah iklim kerja -- yang sangat > menyangkut birokrasi -- di ITB membuat "para semut di sistem email ITB (and > any systems inside ITB, btw)" nyaman bekerja? > > We know that any kind of bad bureaucracy may kill the sense-of-justice, the > people's creativity, and finally, the people themselves. Mari kita tanyakan > kepada alumni yang pernah mengalami birokrasi yang tidak menyenangkan di > pemerintahan atau institusinya masing-masing. Berbelit, lama, tidak pasti, > dan terkadang tidak terminate... > > Don't get me wrong, saya tetap beryakinan bahwa ITB sebagai salah satu > institusi pendidikan terbaik di ibu pertiwi memiliki birokrasi yang sudah ... > cukup baik ... namun yang pasti perlu ditingkatkan saja lagi... ;-) > > *** > > Akhirul kata, semoga "Raja dan Ratu semut" yang "berkoloni di ITB" dapat > mengakomodasi email "@....itb.ac.id" untuk "para mantan semut" yang pernah > "membuat lintasan" di ITB dan menciptakan iklim yang menyenangkan untuk > "semut-semut pekerja" yang mengurus sistem email tadi. > > Mari kita jemput bola secara proaktif, dan untuk hal ini, tidak perlu > menunggu datangnya dana dari lumpur, bukan? ;-) > > Salam, > CA > SI93 > Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
