Pak Roestam ... akan tidak bijaksana kalau menilai suatu keputusan yg dibuat sebelumnya dgn standar hari ini.
Saat kebijakan pengembangan 16d diterapkan pemerintah, saat itu 16e belum selesai ... bahkan mungkin semua juga sedang berlomba membuat 16d. Indonesia memang agak terlambat memulai pengembangan teknologi ini, tapi jauh lebih baik dari sebelumnya ... saat teknologi GSM dikembangkan dan masuk Indonesia, benar2 kita ini hanya sebagai "tukang instal". Tidak ada satupun terbentuk ekosistem GSM ... kecuali perangkat pendukung seperti antenna, tower, dan PSU. Knowing this condition, pemerintah mencoba merubah strategi dgn "memproteksi" industri telekomunikasi yg sedang terpuruk semenjak paska orde baru. Saat itu ... yg terlihat peluangnya adalah 16d ... . Kemudian industri diberi kesempatan utk mengembangkannya. Kondisi Indonesia memang "parah" kalau bicara ekosistem industri. Jadi prosesnya pun tidak mudah ... . Jadi memang ada keterlambatan industri kita untuk masuk ke pengembangan teknologi ini. Ternyata ... dunia tidak juga mengadopsi 16d ... dan mulai mengembangkan 16e. Ini pun ... saat ini masih belum banyak juga yg gelar 16e bukan? Entah apakah 5 tahun lagi akan ada lagi standar lain yg akan mementahkan 16e ini. Nanti anda akan tulis lagi ... 16e obsolete mari ke LTE atau yg lain ;-) Awalnya pemerintah melakukan strategi dgn melakukan proteksi via "spesifikasi khusus", karena proteksi tax barrier sudah tidak dapat diterapkan di era Free Trade. Bahkan sebenarnya, kosnep TKDN pun tidak akan bisa dipertahankan terlalu lama ... Terlepas dari standar 16d,16d, 16m, LTE yg bisa berubah setiap masa .. dan dgn kondisi Indonesia seperti ini ... seandainya ada keinginan untuk menumbuhkan industri perangkat telekomunikasi di Indonesia ... menurut anda ... apa strategi yg harus ditempuh? Menyalahkan kebijakan masa lalu ... paling mudah ... apalagi dgn standar hari ini. Tapi ... adakah kita punya alternatif ... seandainya ... anda yg di posisi pemerintah ... untuk menumbuhkan industri perangkat telekomunikasi ? Apa kiat anda pak .... salam, -ai- 2010/10/24 Sumitro Roestam <[email protected]> > Pak Adi Indrayanto DKK yth, > > Saya paling setuju dgn paragraf terakhir posting anda: yg akhirnya > menentukan laku tidaknya sebuah produk di pasar adalah soal harga dan > fitur2nya yg lebih unggul. > > Harga bisa lebih murah kalau didukung oleh ecosystem industri DN dan LN. > > WiMAX 16d sudah dihentikan pengembangannya di LN, sehingga ecosystem > komponen2 pendukungnya ex LN menjadi mahal, sedangkan ecosystem industri DN > nya masih belum terbentuk, sehingga harga equipment dan CPE nya mahal, tidak > komptitif thdp produk sejenis dan substitusi. > > Selain itu, 16d punya fitur2 yg inferior, tidak akan kompetitif. > > WiMAX 16e punya Roadmap menuju ke 16m dan LTE Advanced yg backward > compatibel. > > 16e punya banyak fitur2 unggul, ada ecosystem yg mendukung, sehingga > harganya akan murah dan kompetitif. > > Backward compatibility menjadi sebuah keharusan untuk Standards > Internasional yg harus dijamin oleh para vendors/manufacturers. Ini yg > penting, soal pelaksanaannya silahkan dibaca di dokumen standards masing2. > > WiMAX 16e memang kelompok standar baru yg dijamin forwad compatibility nya > ke 16m dan LTE Advanced. 16e sudah dinyatakan tidak backward compatible dgn > 16d, karena pakai teknologi yg lebih maju, ada subcarrier, roaming, > hand-over, antena MIMO yg tidak ada di 16d. Oleh karena itu memilih 16d > sebagai standar nasional Indonesia adalah sebuah kesalahan. Sudah minim > fitur, inferior produk, harga CPE akan mahal, tidak punya Roadmap teknologi > dan layanan ke depan, kok malah dipilih. > > Para advocators 16d berfikir bahwa kalau Indonesia pilih standar yg beda > dari lainnya, maka vendor luar tidak bisa masuk. Tetapi sayangnya yg dipilih > adalah produk yg inferior, sehingga tidak akan mampu bersaing dgn produk2 > existing di Indonesia yg sejenis atau produk substitusinya. Apalagi harganya > lebih mahal. Advocators ini juga kurang memperhatikan aspek2 persaingan > bisnis, hanya mengandalkan dukungan regulasi yg mendistorsi free > competition. > > Padahal free competition dan free market sudah berjalan lama di Indonesia, > yg telah membuat tarif produk jasa telematika menjadi murah dan terjangkau > masyarakat. > > Semoga bermanfaat. > Wassalam, > S Roestam > > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung > Teruuusss...! > ------------------------------ > *From: * Adi Indrayanto <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Sun, 24 Oct 2010 18:47:35 +0700 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Cc: *<[email protected]>; <[email protected]>; < > [email protected]>; <[email protected]> > *Subject: *[indonesia] Re: Apakah 1G, 2G, 3G dan 4G? WiMAX 16e dan LTE > adalah Teknologi 4G. Pentingnya sebuah Roadmap. > > > Pak Roestam ... sebenarnya pada dasarnya teknologi baru kita sering menjadi > "disruptive technology" bagi yg sebelumnya. Dan ini tidak terkait dgn > backward compatibility. Jarang sekali teknologi baru yg backward > compatibility dari sisi teknologinya. Itu adalah "strategi" perusahaan yg > akan mengadaposi teknologi baru agar bisa digunakan oleh pengguna yg sudah > terlanjut menggunakan teknologi sebelumnya. > > Contoh. Apakah ada teknologi dalam 2G, 3G yg compatible dgn sebelumnya? > Tidak ada yg kompatible, baik GSM, GPRS, EDGE, HSPA, apalagi LTE yg > menggunakan teknologi OFDMA. Teknologi2 terkini pasti disruptive dgn yg > sebelumnya. Windows Vista disruptive terhadap Windows 95 misalnya. Tapi ... > kebijakan vendor itu lah untuk tetap membuat teknologi yg berbeda ... bisa > berjalan parallel. > > Backward compatible yg dimaksudkan sebenarnya adalah, 2 teknologi yg > berbeda ... berada dalam kotak yg sama dgn interface yg sama. Tapi dalamnya > teknologi yg digunakan berbeda. > > Jadi ... saat vendor akan memperkenalkan teknologi yg "katanya" backward > compatible, sebenarnya dia menaruh 2 teknologi yg berbeda dalam kotak yg > sama ;-) Bukan kah ini yg dilakukan oleh vendors dalam kelompok 3GPP > terhadap 2G, 3G, dan nanti 4G. Isi LTE jauh lebih dekat dgn WiMAX daripada > HSPA atau GPRS ;-) > > Bedanya dgn WiMAX apa? Karena WiMAX adalah "pemain" baru ... yg tumbuh > bukan dari kelompok Telco ... tapi dari kelompok IT. WiMAX lebih cocok > dikatakan sebagai evolusinya WiFi ... dan punya akar sejarah yg berbeda. > > Karena WiMAX pemain baru, jadi belum punya "preseden", sehingga apa yg mau > di backward compatibilitikan ... wong belum pernah ada operator WiMAX > sebelumnya ;-) Kecuali, kita mau lihat operator WiFi sebagai industri pra > WiMAX. > > Kalau mau backward compatible antara 16d dan 16e, ya dimasukkan saja 2 > teknologi itu ke dalam satu kotak ... sama dgn yg lain di group 3GPP ... . > Masalahnya ... karena toh perangkat 16d belum sempat tergelar cukup banyak > ... sehingga masalah compatibility tidak menjadi isu kalau mau implementasi > 16e. Tapi ... urusan akan berbeda ... kalau 16d sempat populer ... dan 16e > perlu masuk sebagai teknologi baru ... maka perlu konsep "backward > compatibility". > > Pandangan lain ... bisa jadi 16d memiliki target dan sejarah yg berbeda dgn > 16e. Mungkin 16d akan lebih cocok kalau dikaitkan dgn sejarah perkembangan > WiFi .. (802.11) ... walaupun 802.11 masih terus berevolusi di jalurnya > sendiri juga. Mirip dgn 2G GMS yg sampai hari ini masih berevolusi ... > walaupun sudah ada 3G. Tapi 3G belum bisa menggantikan 2G utk voice bukan? > Apakah 4G LTE nanti akan menggeser 2G? Sy menduga tidak juga ... . Yg > terjadi adalah ... 4G akan masuk ke penggunaan yg berbeda dgn 2G. Kecuali > ... nanti saat VOIP bisa sama sekali menggeser voice. > > Yg menarik dicermati adalah ... nasib ADSL. Kira-kira teknologi apa yg akan > menggantikan posisinya? Apakah FO? Di Indonesia sepertinya gelar media fisik > masih lebih costly dibandingkan yg wireless ... > > Bisa jadi ... kandidat kuat berikutnya .. kalau bukan tetap WiFi yg > jangkauannya terbatas dan frekuensinya yg bebas ... ya WiMAX 16d ... > seandainya 16e akan lebih ke arah mobility ... > > At the end of the day ... yg menentukan sebuah teknologi "menang" di pasar > adalah masalah ... price. Berapa harga yg harus ditanggung pengguna untuk > sebuah teknologi ..... . Teknologi mana dgn features yg "cukup" dan harga yg > "layak" (baca: murah) ... yg masuk duluan ke pasar ... itu yg akan menjadi > trend. > > Terkait dgn penguasaan teknologi, LTE pun bisa saja dikuasai. Masalah > patent? Ya beli saja ... kalau hitung2annya jelas kan tidak masalah. > Memangnya yg tanpa patent dijamin lebih murah? Tidak juga ;-) > > > salam, > > -ai- > > > > 2010/10/24 S Roestam <[email protected]> > >> Kawan2 Milis Yth, >> >> Kesimpulan dari ratusan diskusi di ABI Research, sebuah perusahaan Market >> Research Intelligence di AS akhirnya menyimpulkan bahwa *WiMAX 16e dan >> LTE merupakah Teknologi 4G, dan ITU sudah menetapkan 4G itu sebagai Standar >> untuk International Mobile Telecommunications 2000 Advanced (IMT-2000 >> Advanced).* Sedangkan 3G termasuk IMT-2000. Penyebutan 1G, 2G, 3G dan 4G >> sebenarnya adalah istilah yang dipakai dalam kerangka pemasaran kelompok >> produk-produk teknologi untuk layanan jasa Mobile Wireless, namun >> istilah-istilah itu juga didasarkan atas jenis-jenis Antarmuka Udara (Air >> Interface) untuk menghubungkan HP dengan pemancar BTS sebagai berikut: >> >> * 1G - memakai interface Analog, Frequency Division >> * 2G - memakai interface Digital, Frequency Division dan Time Division >> (TDMA) >> * 3G - memakai interface Frequency Division dan Code Division (CDMA) >> * 4G - memakai interface Orthogonal Frequency Division (OFDM/OFDMA) >> >> AMPS (Advanced Mobile Phone Service) adalah teknologi mobile telephon >> generasi pertama (1G) yang masih menggunakan system analog FDMA (Freqwency >> Division Multiple Access). AMPS beroperasi pada frekwensi 800 MHz, 821 – 849 >> MHz untuk base station receiving dan 869 – 894 MHZ untuk base station >> transmitting. Karena memakai interface analog, maka kapasitasnya sangat >> terbatas. Sistem ini mulai beroperasi pada tahun 1981. >> >> Generasi 1G lainnya adalah The Nordic Mobile Telephone (NMT) system >> dikembangkan oleh the telecommunications administrations of Sweden, Norwegia >> , Finlandia, dan Denmark untuk menciptakan compatible mobile telephone >> system di negara Nordic. Yang pertama adalah NMT 450 cellular system >> tersedia di tahun 1981. >> >> Kedua sistem 1G tersebut diatas dipakai di Indonesia sejak akhir tahun >> 1980-an. >> >> Untuk sistem 2G, GSM muncul pada pertengahan 1991 dan akhirnya dijadikan >> standar telekomunikasi selular untuk seluruh Eropa oleh ETSI (European >> Telecomunication Standard Institute). Pengoperasian GSM secara komersil baru >> dapat dimulai pada awal kuartal terakhir 1992 karena GSM merupakan teknologi >> yang kompleks dan butuh pengkajian yang mendalam untuk bisa dijadikan >> standar. >> >> GSM beroperasi pada pita frekwensi 1800 MHZ. Pemakaian GSM kemudian meluas >> ke Asia dan Amerika, termasuk Indonesia. Indonesia awalnya menggunakan >> sistem telepon selular analog yang bernama AMPS (Advances Mobile Phone >> System) dan NMT (Nordic Mobile Telephone). Namun dengan hadir dan >> dijadikannnya standar sistem komunikasi selular membuat sistem analog >> perlahan menghilang, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Eropa. Pengguna >> GSM pun semakin lama semakin bertambah. Pada akhir tahun 2005, pelanggan GSM >> di dunia telah mencapai 1,5 triliun pelanggan. Akhirnya GSM tumbuh dan >> berkembang sebagai sistem telekomunikasi seluler yang paling banyak >> digunakan di seluruh dunia. >> >> Untuk generasi 2G ini juga dikembangkan sistem seluler CDMA dengan >> spesifikasi Interim Standard-95 (IS-95), dimana produknya yang terkenal di >> AS bernama cdmaONE. >> >> Standar 2G CDMA tersebut diatas kemudian berkembang ke 3G yang di >> Indonesia dikenal dikenal dengan nama CDMA 2000 1X (1-carrier). Roadmap >> produk CDMA ini di 3G adalah CDMA 2000 1X EVDO Release 0 dan Rev A. Kemudian >> standar ini berkembang ke Generasi 4G, yaitu CDMA 2000 1X EVDO Rev B dan >> EVDO Multicarrier, dan akhirnya ke DO Advanced atau 1X Advanced, yang >> kompatibel dengan LTE Advanced, dimana kecepatan transmisinya makin tinggi, >> sedangkan latency-nya (delay-time) makin mengecil untuk menghasilkan >> kapasitas jumlah pelanggan yang makin besar. >> >> Roadmap untuk generasi 2G GSM adalah GPRS (2.5G), EDGE (3G), HSDPA (3.5G), >> HSPA+ (3.9G) dan akhirnya ke LTE (4G). >> >> *Untuk kelompok produk WiMAX 16e yang sudah termasuk kedalam Generasi 4G, >> Roadmapnya adalah WiMAX 16m (=WiMAX 2) dan kemudian ke LTE Advanced.* >> >> *Untuk produk WiMAX 16d yang awalnya dikembangkan oleh WiMAX Forum, telah >> diputuskan bahwa produk ini dihentikan pengembangannya sampai disini saja >> pada tahun 2005, dan digantikan oleh WiMAX 16e yang tidak backward >> compatible dengan WiMAX 16d. Ini artinya WiMAX 16d sudah tidak punya Roadmap >> masa depan.* >> >> *Roadmap Teknologi dan Layanan sebuah produk adalah sangat penting dalam >> bisnis telekomunikasi seluler masa kini, sebab dengan adanya Roadmap ini >> para pelangan djiamin oleh Operator/Vendor bahwa HP atau produk yang telah >> dibeli masih akan dapat dipakai untuk jangka panjang, walaupun Operator >> berpindah ke Generasi berikutnya. Contoh nyata adalah produk2 Generasi 2G >> tersebut diatas masih tetap dapat dioperasikan, walapun Operator sudah >> meningkatkan teknologinya ke 3G dan nantinya ke 4G (LTE).* >> >> >> *Adalah sebuah keanehan bilamana suatu negara menetapkan pengembangan >> sebuah Industri jangka panjang, tanpa menetapkan Roadmap Teknologi dan >> Layannya, dan tanpa ada Business Plan yang Comprehensive yang menjabarkan >> analisis pilihan teknologi, finansial dan bisnis masa depannya.* >> >> *Kita perlu belajar dari pengalaman negara maju Korea yang mengembangkan >> industri WiMAX WiBro DN-nya, yang awalnya berbeda dengan standar >> internasional, namun akhirnya terpaksa menyesuaikannya dengan standar >> Internasional WiMAX Forum WiMAX 16e, agar memiliki Roadmap yang sudah baku >> untuk dapat menjual produknya di pasar LN.* >> >> *Jadi kalau Indonesia mau mengembangkan Industri DN WiMAX, maka yang >> paling tepat adalah memulainya dengan produk WiMAX 16e, bukan 16d.* >> >> *Ada yang mengatakan bahwa kita kembangkan LTE saja. Ini langkah keliru, >> karena LTE itu adalah produk Proprietary, sudah di-paten-kan, jadi harus >> beli lisensinya. Sedangkan WiMAX bukan produk proprietary, jadi lebih >> fisibel untuk industri DN, karena tidak harus bayar lisensi dan royalty.* >> >> Lagipula sudah ada manufaktur Chipset WiMAX 16e yang di-disain vendor >> nasional, yaitu XIRCA di Bandung, dan yang telah meng-export produk itu ke >> mancanegara. >> >> Semoga informasi ini menjadi masukan buat para Pengambil Kebijakan >> Industri DN Indonesia, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara yang >> kita cintai. >> >> Silahkan ditanggapi dan diberikan saran-saran yang positif. >> Wassalam, >> S Roestam >> http://wirelesstekno.blogspot.com >> http://mastel.wordpress.com > > >
