Saya tidak tahu apakah ada masalah politis dibalik ini sehingga BRTI dan kominfo tidak segera merevisi lisensi 16d --> 16e. Mungkin ada perusahaan (kalau nggak salah 2, tetapi yang "katanya" sudah mass pro 1), yang sudah invest untuk 16d. Bisa dicek sendiri operator enggan untuk deploy 16d, karena disamping faktor teknologi yang sudah ketinggalan, juga perakat yang lebih besar dan mahal (tidak sellable). 16e, investasi lebih murah, karena mobile lebih menarik. Dan perusahaan seperti Xirka sudah mendapat TKDN, dan siap mensupport perakatnya.

Uji teknis 16e yang dilakukan mereka cukup memuaskan operator. Tinggal bagaimana pemerintah segera merevisi lisensi ini, atau aplikasi Wimax di Indonesia akan tertunda seperti sekarang ini.



Salam.

Bambang Winarto wrote:
Yth Pak Soemitro,
Saya jadi merasa bodoh sekalk, baru tahu kalau ternyata Wimax 16d itu tidak bisa dilanjutkan dg modifikasi tertentu (upgrade atau enhancement) ke 16e. Betul begini yang bapak maksud dgn tidak backward compatible? Bahkan di sisi masyarakat pengguna juga CPEnya 16d tidak bisa dipakai untuk 16e? Sementara kita tahu bahwa Berca dan Lippo, at least mereka ini yang saya ketahui , sudah melakukan deployment Wimax di wilayah yang lisensinya dimiliki oleh mereka. Kalau katakan kita abaikan dulu unsur kepentingan investor, yang katakanlah kita boleh anggap selalu memiliki cara2 berhitung untuk menyelamatkan investasinya, tetapi bagaimana dengan kepentingan masyarakat pengguna? Kalau teknologi 16d secara teknis tidak bisa memberikan layanan yang baik, maka apakah menurut Bapak user dirugikan? Saya rasa kalau toh dirugikan sifatnya tidak langsung, mereka akan selalu memiliki opsi untuk membeli layanan tsb atau tidak. Saya dengar layanan Wimax di Sumatera misalnya diarahkan untuk mengambil pangsa pasar broadband dari tangan penguasaan Telkom. Mungkin saja secara bisnis dalam waktu 2 atau 3 tahun max investasi mereka sudah kembali modal? Jika demikian saya bisa mengerti mengapa mereka berani deploy system ini dan kenyataannya mereka sungguh cepat memproses deployement tsb.
Jika tiba saatnya untuk deploy teknologi 16e, gimana dampaknya?
Mau tidak mau Berca dan Lippo akan tetap sebagai operator di wilayah tsb....? Artinya mau tidak mau user/ masyarakat tetap harus menunggu sampai para investor yang biasanya "baik" hatinya itu untuk melakukan deployement system 16e.

Sampai disini saya jadi bingung soalnya sudah keburu menghadapi keadaan yang sudah setengah salah tetapi sudah tidak bisa dirubah lagi. Betul kan Pak Mitro, keadaan ini, bahwa lisensi sudah diberikan kepada investor yang sudah menduduki operating frequency di masing2 wilayah kerja mereka sudah membuat pemerintah terikat tidak bisa memindahkan lisensi ke badan lain? Menarik ya kalau ditilik dari logika bisnis. Karena sudah rahasia umum kalau teknologi 16d adalah teknologi yang sudah ketinggalan, mestinya sudah tidak ada lagi yang akan membeli......eh tahu2 pemerintah Indonesia mengadakan lelang frekuensi untuk Wimax ,khususnya yang 16d.....kalau saya pabrikan ya kesempatan untuk masih bisa dapat revenue maka saya akan banting harga. Iinvestor pasti bisa membeli peralatan dengan harga yang sangat murah, tetapi bisa saja saya pasang harga dalam perhitungan business plan perusahaan dengan harga standard........silahkan dilanjutkan.

Salam,Bambang
Sent from my amazing iPad

On 24 Okt 2010, at 20:26, "Sumitro Roestam" <[email protected] <mailto:[email protected]>> wrote:

Pak Adi dan Kawan2 yth,

1. Setahu saya keputusan standar 16d indonesia dibuat thn 2008, padahal thn 2005 WiMAX Forum sudah menyatakan menghentikan pengembangannya dan mengganti dgn 16e yg TIDAK BACKWARD COMPATIBLE dgn 16d.

2. Kalau sikon berubah, mengapa kita tidak boleh mengubah peraturan itu, karena ada resiko finansial yg besar (gagal), dan tidak ada Roadmap Teknologi dan Layanan (pelanggan/masyarakat dirugikan, sudah bayar mahal, produk dan layanannya inferior, dan tidak ada jaminan penggunaannya, sebab kalau operator pilih teknologi yg lebih maju, maka CPE-nya harus ganti baru)

3. Memilih 16e jauh lebih baik dari pada 16d, sebab produk lebih banyak fitur2nya, harga lebih murah karena didukung ecosystem industri, serta punya Roadmap Teknologi dan Layanan menuju ke 16m dan LTE Advanced.

4. Kalau mau pilih 16m langsung atau LTE, maka harus tunggu beberapa tahun lagi, sebab belum ada yg siap komersiil made in Indonesia. Untuk LTE maka kita harus bayar lisensi atau patent, sebab itu produk proprietary. Sedangkan sekarang sudah siap 7-vendor lokal yg siap supply 16e.

Kenapa tidak segera memutuskan mengadopsi standar 16e, because window of opportunity WiMAX is closing fast....

Wassalam,
S Roes tam

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

------------------------------------------------------------------------
*From: * Adi Indrayanto <[email protected] <mailto:[email protected]>>
*Sender: * [email protected] <mailto:[email protected]>
*Date: *Sun, 24 Oct 2010 19:57:29 +0700
*To: *<[email protected] <mailto:[email protected]>>
*ReplyTo: * [email protected] <mailto:[email protected]>
*Subject: *[indonesia] Re: Apakah 1G, 2G, 3G dan 4G? WiMAX 16e dan LTE adalahTeknologi 4G. Pentingnya sebuah Roadmap.


Pak Roestam ... akan tidak bijaksana kalau menilai suatu keputusan yg dibuat sebelumnya dgn standar hari ini.

Saat kebijakan pengembangan 16d diterapkan pemerintah, saat itu 16e belum selesai ... bahkan mungkin semua juga sedang berlomba membuat 16d. Indonesia memang agak terlambat memulai pengembangan teknologi ini, tapi jauh lebih baik dari sebelumnya ... saat teknologi GSM dikembangkan dan masuk Indonesia, benar2 kita ini hanya sebagai "tukang instal". Tidak ada satupun terbentuk ekosistem GSM ... kecuali perangkat pendukung seperti antenna, tower, dan PSU.

Knowing this condition, pemerintah mencoba merubah strategi dgn "memproteksi" industri telekomunikasi yg sedang terpuruk semenjak paska orde baru. Saat itu ... yg terlihat peluangnya adalah 16d ... . Kemudian industri diberi kesempatan utk mengembangkannya.

Kondisi Indonesia memang "parah" kalau bicara ekosistem industri. Jadi prosesnya pun tidak mudah ... . Jadi memang ada keterlambatan industri kita untuk masuk ke pengembangan teknologi ini.

Ternyata ... dunia tidak juga mengadopsi 16d ... dan mulai mengembangkan 16e. Ini pun ... saat ini masih belum banyak juga yg gelar 16e bukan? Entah apakah 5 tahun lagi akan ada lagi standar lain yg akan mementahkan 16e ini. Nanti anda akan tulis lagi ... 16e obsolete mari ke LTE atau yg lain ;-)

Awalnya pemerintah melakukan strategi dgn melakukan proteksi via "spesifikasi khusus", karena proteksi tax barrier sudah tidak dapat diterapkan di era Free Trade. Bahkan sebenarnya, kosnep TKDN pun tidak akan bisa dipertahankan terlalu lama ...

Terlepas dari standar 16d,16d, 16m, LTE yg bisa berubah setiap masa .. dan dgn kondisi Indonesia seperti ini ... seandainya ada keinginan untuk menumbuhkan industri perangkat telekomunikasi di Indonesia ... menurut anda ... apa strategi yg harus ditempuh?

Menyalahkan kebijakan masa lalu ... paling mudah ... apalagi dgn standar hari ini. Tapi ... adakah kita punya alternatif ... seandainya ... anda yg di posisi pemerintah ... untuk menumbuhkan industri perangkat telekomunikasi ?

Apa kiat anda pak ....


salam,

-ai-


2010/10/24 Sumitro Roestam <[email protected] <mailto:[email protected]>>

    Pak Adi Indrayanto DKK yth,

    Saya paling setuju dgn paragraf terakhir posting anda: yg
    akhirnya menentukan laku tidaknya sebuah produk di pasar adalah
    soal harga dan fitur2nya yg lebih unggul.

    Harga bisa lebih murah kalau didukung oleh ecosystem industri DN
    dan LN.

    WiMAX 16d sudah dihentikan pengembangannya di LN, sehingga
    ecosystem komponen2 pendukungnya ex LN menjadi mahal, sedangkan
    ecosystem industri DN nya masih belum terbentuk, sehingga harga
    equipment dan CPE nya mahal, tidak komptitif thdp produk sejenis
    dan substitusi.

    Selain itu, 16d punya fitur2 yg inferior, tidak akan kompetitif.

    WiMAX 16e punya Roadmap menuju ke 16m dan LTE Advanced yg
    backward compatibel.

    16e punya banyak fitur2 unggul, ada ecosystem yg mendukung,
    sehingga harganya akan murah dan kompetitif.

    Backward compatibility menjadi sebuah keharusan untuk Standards
    Internasional yg harus dijamin oleh para vendors/manufacturers.
    Ini yg penting, soal pelaksanaannya silahkan dibaca di dokumen
    standards masing2.

    WiMAX 16e memang kelompok standar baru yg dijamin forwad
    compatibility nya ke 16m dan LTE Advanced. 16e sudah dinyatakan
    tidak backward compatible dgn 16d, karena pakai teknologi yg
    lebih maju, ada subcarrier, roaming, hand-over, antena MIMO yg
    tidak ada di 16d. Oleh karena itu memilih 16d sebagai standar
    nasional Indonesia adalah sebuah kesalahan. Sudah minim fitur,
    inferior produk, harga CPE akan mahal, tidak punya Roadmap
    teknologi dan layanan ke depan, kok malah dipilih.

    Para advocators 16d berfikir bahwa kalau Indonesia pilih standar
    yg beda dari lainnya, maka vendor luar tidak bisa masuk. Tetapi
    sayangnya yg dipilih adalah produk yg inferior, sehingga tidak
    akan mampu bersaing dgn produk2 existing di Indonesia yg sejenis
    atau produk substitusinya. Apalagi harganya lebih mahal.
    Advocators ini juga kurang memperhatikan aspek2 persaingan
    bisnis, hanya mengandalkan dukungan regulasi yg mendistorsi free
    competition.

    Padahal free competition dan free market sudah berjalan lama di
    Indonesia, yg telah membuat tarif produk jasa telematika menjadi
    murah dan terjangkau masyarakat.

    Semoga bermanfaat.
    Wassalam,
    S Roestam

    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL,
    Nyambung Teruuusss...!

    ------------------------------------------------------------------------
    *From: * Adi Indrayanto <[email protected]
    <mailto:[email protected]>>
    *Sender: * [email protected]
    <mailto:[email protected]>
    *Date: *Sun, 24 Oct 2010 18:47:35 +0700
    *To: *<[email protected] <mailto:[email protected]>>
    *ReplyTo: * [email protected]
    <mailto:[email protected]>
    *Cc: *<[email protected]
    <mailto:[email protected]>>; <[email protected]
    <mailto:[email protected]>>;
    <[email protected]
    <mailto:[email protected]>>;
    <[email protected] <mailto:[email protected]>>
    *Subject: *[indonesia] Re: Apakah 1G, 2G, 3G dan 4G? WiMAX 16e
    dan LTE adalah Teknologi 4G. Pentingnya sebuah Roadmap.


    Pak Roestam ... sebenarnya pada dasarnya teknologi baru kita
    sering menjadi "disruptive technology" bagi yg sebelumnya. Dan
    ini tidak terkait dgn backward compatibility. Jarang sekali
    teknologi baru yg backward compatibility dari sisi teknologinya.
    Itu adalah "strategi" perusahaan yg akan mengadaposi teknologi
    baru agar bisa digunakan oleh pengguna yg sudah terlanjut
    menggunakan teknologi sebelumnya.

    Contoh. Apakah ada teknologi dalam 2G, 3G yg compatible dgn
    sebelumnya? Tidak ada yg kompatible, baik GSM, GPRS, EDGE, HSPA,
    apalagi LTE yg menggunakan teknologi OFDMA.  Teknologi2 terkini
    pasti disruptive dgn yg sebelumnya. Windows Vista disruptive
    terhadap Windows 95 misalnya. Tapi ... kebijakan vendor itu lah
    untuk tetap membuat teknologi yg berbeda ... bisa berjalan parallel.

    Backward compatible yg dimaksudkan sebenarnya adalah, 2 teknologi
    yg berbeda ... berada dalam kotak yg sama dgn interface yg sama.
    Tapi dalamnya teknologi yg digunakan berbeda.

    Jadi ... saat vendor akan memperkenalkan teknologi yg "katanya"
    backward compatible, sebenarnya dia menaruh 2 teknologi yg
    berbeda dalam kotak yg sama ;-) Bukan kah ini yg dilakukan oleh
    vendors dalam kelompok 3GPP terhadap 2G, 3G, dan nanti 4G. Isi
    LTE jauh lebih dekat dgn WiMAX daripada HSPA atau GPRS ;-)

    Bedanya dgn WiMAX apa? Karena WiMAX adalah "pemain" baru ... yg
    tumbuh bukan dari kelompok Telco ... tapi dari kelompok IT. WiMAX
    lebih cocok dikatakan sebagai evolusinya WiFi ... dan punya akar
    sejarah yg berbeda.

    Karena WiMAX pemain baru, jadi belum punya "preseden", sehingga
    apa yg mau di backward compatibilitikan ... wong belum pernah ada
    operator WiMAX sebelumnya ;-) Kecuali, kita mau lihat operator
    WiFi sebagai industri pra WiMAX.

    Kalau mau backward compatible antara 16d dan 16e, ya dimasukkan
    saja 2 teknologi itu ke dalam satu kotak ... sama dgn yg lain di
    group 3GPP ... .  Masalahnya ... karena toh perangkat 16d belum
    sempat tergelar cukup banyak ... sehingga masalah compatibility
    tidak menjadi isu kalau mau implementasi 16e.  Tapi ... urusan
    akan berbeda ... kalau 16d sempat populer ... dan 16e perlu masuk
    sebagai teknologi baru ... maka perlu konsep "backward
    compatibility".

    Pandangan lain ... bisa jadi 16d memiliki target dan sejarah yg
    berbeda dgn 16e.  Mungkin 16d akan lebih cocok kalau dikaitkan
    dgn sejarah perkembangan WiFi .. (802.11) ... walaupun 802.11
    masih terus berevolusi di jalurnya sendiri juga.  Mirip dgn 2G
    GMS yg sampai hari ini masih berevolusi ... walaupun sudah ada
    3G. Tapi 3G belum bisa menggantikan 2G utk voice bukan? Apakah 4G
    LTE nanti akan menggeser 2G?  Sy menduga tidak juga ... . Yg
    terjadi adalah ... 4G akan masuk ke penggunaan yg berbeda dgn 2G.
    Kecuali ... nanti saat VOIP bisa sama sekali menggeser voice.

    Yg menarik dicermati adalah ... nasib ADSL. Kira-kira teknologi
    apa yg akan menggantikan posisinya? Apakah FO? Di Indonesia
    sepertinya gelar media fisik masih lebih costly dibandingkan yg
    wireless ...

    Bisa jadi ... kandidat kuat berikutnya .. kalau bukan tetap WiFi
    yg jangkauannya terbatas dan frekuensinya yg bebas ... ya WiMAX
    16d ... seandainya 16e akan lebih ke arah mobility ...

    At the end of the day ... yg menentukan sebuah teknologi "menang"
    di pasar adalah masalah ... price. Berapa harga yg harus
    ditanggung pengguna untuk sebuah teknologi ..... . Teknologi mana
    dgn features yg "cukup" dan harga yg "layak" (baca: murah) ... yg
    masuk duluan ke pasar ... itu yg akan menjadi trend.

    Terkait dgn penguasaan teknologi, LTE pun bisa saja dikuasai.
    Masalah patent? Ya beli saja ... kalau hitung2annya jelas kan
    tidak masalah. Memangnya yg tanpa patent dijamin lebih murah?
    Tidak juga ;-)


    salam,

    -ai-



    2010/10/24 S Roestam <[email protected]
    <mailto:[email protected]>>

        Kawan2 Milis Yth,

        Kesimpulan dari ratusan diskusi di ABI Research, sebuah
        perusahaan Market Research Intelligence​ di AS akhirnya
        menyimpulkan bahwa *WiMAX 16e dan LTE merupakah Teknologi 4G,
        dan ITU sudah menetapkan 4G itu sebagai Standar untuk
        International Mobile Telecommunications 2000 Advanced
        (IMT-2000 Advanced).* Sedangkan 3G termasuk IMT-2000.
        Penyebutan 1G, 2G, 3G dan 4G sebenarnya adalah istilah yang
        dipakai dalam kerangka pemasaran kelompok produk-produk
        teknologi untuk layanan jasa Mobile Wireless, namun
        istilah-istilah itu juga didasarkan atas jenis-jenis
        Antarmuka Udara (Air Interface) untuk menghubungkan HP dengan
        pemancar BTS sebagai berikut:

        * 1G - memakai interface Analog, Frequency Division
        * 2G - memakai interface Digital, Frequency Division dan Time
        Division (TDMA)
        * 3G - memakai interface Frequency Division dan Code Division
        (CDMA)
        * 4G - memakai interface Orthogonal Frequency Division
        (OFDM/OFDMA)

        AMPS (Advanced Mobile Phone Service) adalah teknologi mobile
        telephon generasi pertama (1G) yang masih menggunakan system
        analog FDMA (Freqwency Division Multiple Access). AMPS
        beroperasi pada frekwensi 800 MHz, 821 – 849 MHz untuk base
        station receiving dan 869 – 894 MHZ untuk base station
        transmitting. Karena memakai interface analog, maka
        kapasitasnya sangat terbatas. Sistem ini mulai beroperasi
        pada tahun 1981.

        Generasi 1G lainnya adalah The Nordic Mobile Telephone (NMT)
        system dikembangkan oleh the telecommunications
        administrations of Sweden, Norwegia , Finlandia, dan Denmark
        untuk menciptakan compatible mobile telephone system di
        negara Nordic. Yang pertama adalah NMT 450 cellular system
        tersedia di tahun 1981.

        Kedua sistem 1G tersebut diatas dipakai di Indonesia sejak
        akhir tahun 1980-an.

        Untuk sistem 2G, GSM muncul pada pertengahan 1991 dan
        akhirnya dijadikan standar telekomunikasi selular untuk
        seluruh Eropa oleh ETSI (European Telecomunication Standard
        Institute). Pengoperasian GSM secara komersil baru dapat
        dimulai pada awal kuartal terakhir 1992 karena GSM merupakan
        teknologi yang kompleks dan butuh pengkajian yang mendalam
        untuk bisa dijadikan standar.

        GSM beroperasi pada pita frekwensi 1800 MHZ. Pemakaian GSM
        kemudian meluas ke Asia dan Amerika, termasuk Indonesia.
        Indonesia awalnya menggunakan sistem telepon selular analog
        yang bernama AMPS (Advances Mobile Phone System) dan NMT
        (Nordic Mobile Telephone). Namun dengan hadir dan
        dijadikannnya standar sistem komunikasi selular membuat
        sistem analog perlahan menghilang, tidak hanya di Indonesia,
        tapi juga di Eropa. Pengguna GSM pun semakin lama semakin
        bertambah. Pada akhir tahun 2005, pelanggan GSM di dunia
        telah mencapai 1,5 triliun pelanggan. Akhirnya GSM tumbuh dan
        berkembang sebagai sistem telekomunikasi seluler yang paling
        banyak digunakan di seluruh dunia.

        Untuk generasi 2G ini juga dikembangkan sistem seluler CDMA
        dengan spesifikasi Interim Standard-95 (IS-95), dimana
        produknya yang terkenal di AS bernama cdmaONE.

        Standar 2G CDMA tersebut diatas kemudian berkembang ke 3G
        yang di Indonesia dikenal dikenal dengan nama CDMA 2000 1X
        (1-carrier). Roadmap produk CDMA ini di 3G adalah CDMA 2000
        1X EVDO Release 0 dan Rev A. Kemudian standar ini berkembang
        ke Generasi 4G, yaitu CDMA 2000 1X EVDO Rev B dan EVDO
        Multicarrier, dan akhirnya ke DO Advanced atau 1X Advanced,
        yang kompatibel dengan LTE Advanced, dimana kecepatan
        transmisinya makin tinggi, sedangkan latency-nya (delay-time)
        makin mengecil untuk menghasilkan kapasitas jumlah pelanggan
        yang makin besar.

        Roadmap untuk generasi 2G GSM adalah GPRS (2.5G), EDGE (3G),
        HSDPA (3.5G), HSPA+ (3.9G) dan akhirnya ke LTE (4G).

        *Untuk kelompok produk WiMAX 16e yang sudah termasuk kedalam
        Generasi 4G, Roadmapnya adalah WiMAX 16m (=WiMAX 2) dan
        kemudian ke LTE Advanced.*

        *Untuk produk WiMAX 16d yang awalnya dikembangkan oleh WiMAX
        Forum, telah diputuskan bahwa produk ini dihentikan
        pengembangannya sampai disini saja pada tahun 2005, dan
        digantikan oleh WiMAX 16e yang tidak backward compatible
        dengan WiMAX 16d. Ini artinya WiMAX 16d sudah tidak punya
        Roadmap masa depan.*

        *Roadmap Teknologi dan Layanan sebuah produk adalah sangat
        penting dalam bisnis telekomunikasi seluler masa kini, sebab
        dengan adanya Roadmap ini para pelangan djiamin oleh
        Operator/Vendor bahwa HP atau produk yang telah dibeli masih
        akan dapat dipakai untuk jangka panjang, walaupun Operator
        berpindah ke Generasi berikutnya. Contoh nyata adalah produk2
        Generasi 2G tersebut diatas masih tetap dapat dioperasikan,
        walapun Operator sudah meningkatkan teknologinya ke 3G dan
        nantinya ke 4G (LTE).*


        *Adalah sebuah keanehan bilamana suatu negara menetapkan
        pengembangan sebuah Industri jangka panjang, tanpa menetapkan
        Roadmap Teknologi dan Layannya, dan tanpa ada Business Plan
        yang Comprehensive yang menjabarkan analisis pilihan
        teknologi, finansial dan bisnis masa depannya.*

        *Kita perlu belajar dari pengalaman negara maju Korea yang
        mengembangkan industri WiMAX WiBro DN-nya, yang awalnya
        berbeda dengan standar internasional, namun akhirnya terpaksa
        menyesuaikannya dengan standar Internasional WiMAX Forum
        WiMAX 16e, agar memiliki Roadmap yang sudah baku untuk dapat
        menjual produknya di pasar LN.*

        *Jadi kalau Indonesia mau mengembangkan Industri DN WiMAX,
        maka yang paling tepat adalah memulainya dengan produk WiMAX
        16e, bukan 16d.*

        *Ada yang mengatakan bahwa kita kembangkan LTE saja. Ini
        langkah keliru, karena LTE itu adalah produk Proprietary,
        sudah di-paten-kan, jadi harus beli lisensinya. Sedangkan
        WiMAX bukan produk proprietary, jadi lebih fisibel untuk
        industri DN, karena tidak harus bayar lisensi dan royalty.*

        Lagipula sudah ada manufaktur Chipset WiMAX 16e yang
        di-disain vendor nasional, yaitu XIRCA di Bandung, dan yang
        telah meng-export produk itu ke mancanegara.

        Semoga informasi ini menjadi masukan buat para Pengambil
        Kebijakan Industri DN Indonesia, dan bermanfaat bagi kemajuan
        bangsa dan negara yang kita cintai.

        Silahkan ditanggapi dan diberikan saran-saran yang positif.
        Wassalam,
        S Roestam
        http://wirelesstekno.blogspot.com
        http://mastel.wordpress.com




Kirim email ke