Lalu kalau konsepnya sekolahan konvensional diganti spt konsepnya sekolah alam 
ciganjur gimana?




-----Original Message-----
From: Agus Purwanto <[email protected]>
Sender: [email protected]: Sat, 18 Jun 2011 19:19:37 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [indonesia] Re: Masih perlukan UN (Ujian Nasional) dilanjutkan? 
Menimbukan Contek Massal dan Kecurangan2 lainnya

sekarang tergantung kesadaran mendiknas pak Nuh
maklum, belum ada kelompok yang dapat menekan mendiknas untuk menghentikan UN

 Agus Purwanto
LaFTiFA ITS
http://purwanto-laftifa.blogspot.com
http://ayatayatsemesta.wordpress.com 




________________________________
From: S Roestam <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Sent: Sun, June 19, 2011 7:59:13 AM
Subject: [indonesia] Masih perlukan UN (Ujian Nasional) dilanjutkan? Menimbukan 
Contek Massal dan Kecurangan2 lainnya

Kawan2 Yth,

[caption id="attachment_1722" align="alignleft" width="300" caption="Alif siswa 
cerdas SDN Gadel-2"][/caption]

Alif siswa cerdas dari SDN Gadel 2 yang mengaku disuruh gurunya untuk 
memberikan 
contekan kepada kawan-kawannya, dinyatakan lulus UN dengan nilai tertinggi. Ia 
telah mendapatjkan hadiah sebuah Laptop dan berencana untuk meneruskan 
sekolahnya di SMP 3 Surabaya. Ia juga merasa gembira kalau kawan-kawannya juga 
lulus UN.

Kasus contek massal di SDB Gadel 2 oleh Mendiknas Bapak M Nuh telah dianggap 
selesai, setelah beliau turun tangan langsung dan mendamaikan Ny. Siami ibu 
dari 
Alif dengan tetangganya.

Beberapa saat setelah kasus contek massal SDN Gadel 2 muncul, di SDN 06 
Pesanggrahan Tangerang terjadi pula pelaporan contek massal oleh putra Ibu Irma 
Lubis yang disiarkan oleh TV-One hari sabtu, 18 Juni 2011. Namun untuk 
meng-antisipasi protes masyarakat disekitarnya, Ibu Irma Lubis telah 
menghubungi 
Komisi Perlindunga Anak Indonesia (KPAI) untuk meminta perlindungan bagi 
anaknya.

Beruntung kasus pelaporan contek massal UN di SDN06 Pesanggrahan ini tidak 
menjadi heboh seperti di SDN Gadel 2 Surabaya itu.

Namun demikian, kita perlu mempetimbangkan kembali apakah sistem Ujian Nasional 
itu akan diteruskan ataukah dihentikan saja, mengingat dampak UN ini bagi 
kelancaran Pendidikan Nasional. Kita telah menyaksikan betapa besar 
sumber-sumber daya nasional yang telah dicurahkan untuk menyelenggarakan UN 
ini, 
seperti:



        * Pengerahan ribuan petugas kepolisian untuk menghindari kecurangan 
dalam 
penyelenggaraan UN

        * Puluhan kasus-kasus keurangan oleh para guru yang berupaya agar di 
sekolah 
mereka menghasilkan tingkat kelulusan yang tinggi

        * Keresahan paar orangtua murid saat menjelang UN yang khawatir anaknya 
tidak 
lulus, walaupun prestasi sehari-hari anak mereka disekolah cukup baik atau 
menonjol

        * Besarnya biaya UN termasuk honor-honor Panitia Penyelenggaranya

Mengapa hal-hal tersebut diatas bisa terjadi dan menyedot begitu besar 
sumber-sumber daya bangsa Indonesia? Padahal sebenarnya Proyek UN itu pada 
awalnya hanyalah sebuah proyek untuk meng-evaluasi mutu pendidikan di berbagai 
wilayah Indonesia melalui sampling beberapa sekolah saja di tiap wilayah. Oleh 
karena itu caranya adalah dengan melakukan ujian beberapa sample mata pelajaran 
dan dengan menggunakan cara "Multiple Choice". Proyek Ujian UN ini awalnay 
tidak 
dipakai untuk menentukan lulus-tidaknya siswa di akhir sekolah mereka.

Namun dengan diberlakukannya UN sebagai penentu lulus tidaknya siswa yang 
selama 
belajar 3-tahun disekolahnya, melalaui sampling beberapa matapelajaran saja, 
membuat para orangtua murid cemas, sebab sampling ujian tetap saja sebagai 
sampling, dan tidak seharusnya sebagai penentu lulus-tidaknya siswa yang 
belajar 
selama 3-tahun. Bisa saja siswa keliru dala menterjemahkan pertanyaan multiple 
choice itu dan mencoreng pilihan yang keliru. Sudah banyak kasus yang 
menunjukkan bahwa siswa yang dikenal cerdas disekolahnya, ternyata gagal dalam 
ujian UN.

Jadi saran kita, UN dihapus saja, dan penentuan lulus-tidaknya seseorang siswa 
dari prestasi selama ia belajar 3-tahun disekolahnya, dari hasil-hasil ujian 
semesteran di sekolahnya. Ini akan sangat menghemat biaya penyelenggaraan 
ujian, 
dan anggaran UN yang jumlahnya cukup besar (dalam angka Trilyunan rupiah?) 
dapat 
dipakai untuk meningkatkan mutu guru-guru pengajar di tiap sekolah, dan untuk 
menambah penghasilan mereka. Ini juga akan menghindari kecemasan orangtua 
murid, 
sebab hasilnya sudah dapat diramalkan sebelumnya.

Silahkan ditanggapi.
Wassalam,
S Roestam
http://presidenku.com

Kirim email ke