Aku lihat di TV, DiJepang kalau mau ujian kayaknya seperti perang, sambil mengikat handuk dikepalanya...
Wassalam, On Sun, June 19, 2011 15:04, Agus Purwanto wrote: > saya pribadi kepincut dengan sekolah model jepang sebagai negara yang > miskin dan padat sebenarnya mengadopsi model jepang lebih cocok karena gak > butuh biaya cuma menuntut political will > > sekolah sistem rayon jadi bersekolah dekat rumah anakk jalan kaki, gak > pakai antar jemput sehingga sekolah gak pakai macet sekolah otomatis bangun > karakter tidak membangun kesenjangan sosial malah bangun kebersamaan > > tapi jelas akan ditentang oleh orang kaya dengan berbagai dalih > dan argumen yang terkesan masuk akal > > > > Agus Purwanto > LaFTiFA ITS > http://purwanto-laftifa.blogspot.com > http://ayatayatsemesta.wordpress.com > > > > > > ________________________________ > From: "[email protected]" <[email protected]> > To: Millist Nextbetter <[email protected]> > Sent: Sun, June 19, 2011 12:46:41 PM > Subject: [indonesia] Re: Masih perlukan UN (Ujian Nasional) dilanjutkan? > Menimbukan Contek Massal dan Kecurangan2 lainnya > > > Membangun kejujuran dg apa? Mengubah konsep sekolah konvensional dg > konsep sekolah alam? Atau dg mengadakan atau mentiadakan UN? Betapa > bingungnya kita!? > > Karena kalau kita perhatikan tentang bab pendidikan nasional ini > sepertinya tidak pernah habis2nya dibahas dan didiskusikan. Terlalu banyak > parameter dan titik acu yg kita gunakan. Dari satu rezim ke rezim lainnya, > bahkan dalam satu rezim saja dari satu mentri ke mentri pendidikan lainnya > saja saling geser dan saling menafikan/menegasikan. Seiring dengan > digulirkannya reformasi maka dilakukanlah amandemen UUD 1945 dan > dicantumkanlah di dalamnya kewajiban alokasi apbn dan apbd minimal 20%, > karena selama ini bid. pendidikan sebagai instrumen utama mencerdaskan > bangsa selalu disia siakan. Tapi apa lacur, setelah diimplementasikan > undang undang tersebut (yi melalui alokasi anggaran yg memadai) kinerja > bidang pendidikan ini tetap carut marut! Mengapa? Sebuah fakta sederhana, > hari2 ini perbincangan setelah terpenuhinya kesejahteraan para pendidik > (guru), obrolan2 sesama mereka adalah, "eh Bpk sudah > beli tambahan tanah dimana?". Itu obrolan para guru di Jakarta dan > sekitarnya. "hai pak, pakai mobil apa ke sini (sekolah)". Ini obrolan para > guru di daerah2. Jadi tuntutan utama dari para guru selama ini rupanya > sifatnya material/quantitativ. Tentang kualitas itu entah menjadi > prioritas ke berapa. Mestinya kita bertanya, mau berangkat dari titik > acuan yg mana? Karena, jika kita perhatikan konsep sekolah konvensional > > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung > Teruuusss...! > ________________________________ > > > From: "Tri Basoeki Soelisvichyanto" <[email protected]> > Sender: [email protected] > Date: Sun, 19 Jun 2011 02:22:28 +0000 > To: <[email protected]> > ReplyTo: [email protected] > Subject: [indonesia] Re: Masih perlukan UN (Ujian Nasional) dilanjutkan? > Menimbukan Contek Massal dan Kecurangan2 lainnya > > > Lalu kalau konsepnya sekolahan konvensional diganti spt konsepnya sekolah > alam ciganjur gimana? > > > > ________________________________ > > > From: Agus Purwanto <[email protected]> > Sender: [email protected] > Date: Sat, 18 Jun 2011 19:19:37 -0700 (PDT) > To: <[email protected]> > ReplyTo: [email protected] > Subject: [indonesia] Re: Masih perlukan UN (Ujian Nasional) dilanjutkan? > Menimbukan Contek Massal dan Kecurangan2 lainnya > > > sekarang tergantung kesadaran mendiknas pak Nuh maklum, belum ada kelompok > yang dapat menekan mendiknas untuk menghentikan UN > > Agus Purwanto > LaFTiFA ITS > http://purwanto-laftifa.blogspot.com > http://ayatayatsemesta.wordpress.com > > > > > > ________________________________ > From: S Roestam <[email protected]> > To: [email protected]; [email protected] > Sent: Sun, June 19, 2011 7:59:13 AM > Subject: [indonesia] Masih perlukan UN (Ujian Nasional) dilanjutkan? > Menimbukan > Contek Massal dan Kecurangan2 lainnya > > > Kawan2 Yth, > > > [caption id="attachment_1722" align="alignleft" width="300" caption="Alif > siswa cerdas SDN Gadel-2"][/caption] > > Alif siswa cerdas dari SDN Gadel 2 yang mengaku disuruh gurunya untuk > memberikan contekan kepada kawan-kawannya, dinyatakan lulus UN dengan > nilai tertinggi. Ia telah mendapatjkan hadiah sebuah Laptop dan berencana > untuk meneruskan sekolahnya di SMP 3 Surabaya. Ia juga merasa gembira > kalau kawan-kawannya juga lulus UN. > > Kasus contek massal di SDB Gadel 2 oleh Mendiknas Bapak M Nuh telah > dianggap selesai, setelah beliau turun tangan langsung dan mendamaikan Ny. > Siami ibu dari > Alif dengan tetangganya. > > > Beberapa saat setelah kasus contek massal SDN Gadel 2 muncul, di SDN 06 > Pesanggrahan Tangerang terjadi pula pelaporan contek massal oleh putra Ibu > Irma > Lubis yang disiarkan oleh TV-One hari sabtu, 18 Juni 2011. Namun untuk > meng-antisipasi protes masyarakat disekitarnya, Ibu Irma Lubis telah > menghubungi Komisi Perlindunga Anak Indonesia (KPAI) untuk meminta > perlindungan bagi anaknya. > > Beruntung kasus pelaporan contek massal UN di SDN06 Pesanggrahan ini > tidak menjadi heboh seperti di SDN Gadel 2 Surabaya itu. > > Namun demikian, kita perlu mempetimbangkan kembali apakah sistem Ujian > Nasional > itu akan diteruskan ataukah dihentikan saja, mengingat dampak UN ini bagi > kelancaran Pendidikan Nasional. Kita telah menyaksikan betapa besar > sumber-sumber daya nasional yang telah dicurahkan untuk menyelenggarakan > UN ini, > seperti: > > > > > * Pengerahan ribuan petugas kepolisian untuk menghindari kecurangan dalam > penyelenggaraan UN > > * Puluhan kasus-kasus keurangan oleh para guru yang berupaya agar di > sekolah mereka menghasilkan tingkat kelulusan yang tinggi > > * Keresahan paar orangtua murid saat menjelang UN yang khawatir anaknya > tidak lulus, walaupun prestasi sehari-hari anak mereka disekolah cukup > baik atau menonjol > > * Besarnya biaya UN termasuk honor-honor Panitia Penyelenggaranya > > > Mengapa hal-hal tersebut diatas bisa terjadi dan menyedot begitu besar > sumber-sumber daya bangsa Indonesia? Padahal sebenarnya Proyek UN itu pada > awalnya hanyalah sebuah proyek untuk meng-evaluasi mutu pendidikan di > berbagai wilayah Indonesia melalui sampling beberapa sekolah saja di tiap > wilayah. Oleh karena itu caranya adalah dengan melakukan ujian beberapa > sample mata pelajaran dan dengan menggunakan cara "Multiple Choice". > Proyek Ujian UN ini awalnay tidak > dipakai untuk menentukan lulus-tidaknya siswa di akhir sekolah mereka. > > Namun dengan diberlakukannya UN sebagai penentu lulus tidaknya siswa yang > selama belajar 3-tahun disekolahnya, melalaui sampling beberapa > matapelajaran saja, membuat para orangtua murid cemas, sebab sampling > ujian tetap saja sebagai sampling, dan tidak seharusnya sebagai penentu > lulus-tidaknya siswa yang belajar selama 3-tahun. Bisa saja siswa keliru > dala menterjemahkan pertanyaan multiple choice itu dan mencoreng pilihan > yang keliru. Sudah banyak kasus yang menunjukkan bahwa siswa yang dikenal > cerdas disekolahnya, ternyata gagal dalam ujian UN. > > Jadi saran kita, UN dihapus saja, dan penentuan lulus-tidaknya seseorang > siswa dari prestasi selama ia belajar 3-tahun disekolahnya, dari > hasil-hasil ujian semesteran di sekolahnya. Ini akan sangat menghemat > biaya penyelenggaraan ujian, dan anggaran UN yang jumlahnya cukup besar > (dalam angka Trilyunan rupiah?) dapat > dipakai untuk meningkatkan mutu guru-guru pengajar di tiap sekolah, dan > untuk menambah penghasilan mereka. Ini juga akan menghindari kecemasan > orangtua murid, sebab hasilnya sudah dapat diramalkan sebelumnya. > > Silahkan ditanggapi. > Wassalam, > S Roestam > http://presidenku.com PT.CITRA SARI MAKMUR SATELLITE & TERRESTRIAL NETWORK Connecting the distance - anytime, anywhere, any content http://www.csmcom.com -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
