Kawan2 Yth,

[caption id="attachment_1722" align="alignleft" width="300" caption="Alif siswa 
cerdas SDN Gadel-2"][/caption]

Alif siswa cerdas dari SDN Gadel 2 yang mengaku disuruh gurunya untuk 
memberikan contekan kepada kawan-kawannya, dinyatakan lulus UN dengan nilai 
tertinggi. Ia telah mendapatjkan hadiah sebuah Laptop dan berencana untuk 
meneruskan sekolahnya di SMP 3 Surabaya. Ia juga merasa gembira kalau 
kawan-kawannya juga lulus UN.

Kasus contek massal di SDB Gadel 2 oleh Mendiknas Bapak M Nuh telah dianggap 
selesai, setelah beliau turun tangan langsung dan mendamaikan Ny. Siami ibu 
dari Alif dengan tetangganya.

Beberapa saat setelah kasus contek massal SDN Gadel 2 muncul, di SDN 06 
Pesanggrahan Tangerang terjadi pula pelaporan contek massal oleh putra Ibu Irma 
Lubis yang disiarkan oleh TV-One hari sabtu, 18 Juni 2011. Namun untuk 
meng-antisipasi protes masyarakat disekitarnya, Ibu Irma Lubis telah 
menghubungi Komisi Perlindunga Anak Indonesia (KPAI) untuk meminta perlindungan 
bagi anaknya.

Beruntung kasus pelaporan contek massal UN di SDN06 Pesanggrahan ini tidak 
menjadi heboh seperti di SDN Gadel 2 Surabaya itu.

Namun demikian, kita perlu mempetimbangkan kembali apakah sistem Ujian Nasional 
itu akan diteruskan ataukah dihentikan saja, mengingat dampak UN ini bagi 
kelancaran Pendidikan Nasional. Kita telah menyaksikan betapa besar 
sumber-sumber daya nasional yang telah dicurahkan untuk menyelenggarakan UN 
ini, seperti:

        Pengerahan ribuan petugas kepolisian untuk menghindari kecurangan dalam 
penyelenggaraan UN
        Puluhan kasus-kasus keurangan oleh para guru yang berupaya agar di 
sekolah mereka menghasilkan tingkat kelulusan yang tinggi
        Keresahan paar orangtua murid saat menjelang UN yang khawatir anaknya 
tidak lulus, walaupun prestasi sehari-hari anak mereka disekolah cukup baik 
atau menonjol
        Besarnya biaya UN termasuk honor-honor Panitia Penyelenggaranya

Mengapa hal-hal tersebut diatas bisa terjadi dan menyedot begitu besar 
sumber-sumber daya bangsa Indonesia? Padahal sebenarnya Proyek UN itu pada 
awalnya hanyalah sebuah proyek untuk meng-evaluasi mutu pendidikan di berbagai 
wilayah Indonesia melalui sampling beberapa sekolah saja di tiap wilayah. Oleh 
karena itu caranya adalah dengan melakukan ujian beberapa sample mata pelajaran 
dan dengan menggunakan cara "Multiple Choice". Proyek Ujian UN ini awalnay 
tidak dipakai untuk menentukan lulus-tidaknya siswa di akhir sekolah mereka.

Namun dengan diberlakukannya UN sebagai penentu lulus tidaknya siswa yang 
selama belajar 3-tahun disekolahnya, melalaui sampling beberapa matapelajaran 
saja, membuat para orangtua murid cemas, sebab sampling ujian tetap saja 
sebagai sampling, dan tidak seharusnya sebagai penentu lulus-tidaknya siswa 
yang belajar selama 3-tahun. Bisa saja siswa keliru dala menterjemahkan 
pertanyaan multiple choice itu dan mencoreng pilihan yang keliru. Sudah banyak 
kasus yang menunjukkan bahwa siswa yang dikenal cerdas disekolahnya, ternyata 
gagal dalam ujian UN.

Jadi saran kita, UN dihapus saja, dan penentuan lulus-tidaknya seseorang siswa 
dari prestasi selama ia belajar 3-tahun disekolahnya, dari hasil-hasil ujian 
semesteran di sekolahnya. Ini akan sangat menghemat biaya penyelenggaraan 
ujian, dan anggaran UN yang jumlahnya cukup besar (dalam angka Trilyunan 
rupiah?) dapat dipakai untuk meningkatkan mutu guru-guru pengajar di tiap 
sekolah, dan untuk menambah penghasilan mereka. Ini juga akan menghindari 
kecemasan orangtua murid, sebab hasilnya sudah dapat diramalkan sebelumnya.

Silahkan ditanggapi.
Wassalam,
S Roestam
http://presidenku.com

Kirim email ke