Membangun kejujuran dg apa? Mengubah konsep sekolah konvensional dg konsep sekolah alam? Atau dg mengadakan atau mentiadakan UN? Betapa bingungnya kita!? Karena kalau kita perhatikan tentang bab pendidikan nasional ini sepertinya tidak pernah habis2nya dibahas dan didiskusikan. Terlalu banyak parameter dan titik acu yg kita gunakan. Dari satu rezim ke rezim lainnya, bahkan dalam satu rezim saja dari satu mentri ke mentri pendidikan lainnya saja saling geser dan saling menafikan/menegasikan. Seiring dengan digulirkannya reformasi maka dilakukanlah amandemen UUD 1945 dan dicantumkanlah di dalamnya kewajiban alokasi apbn dan apbd minimal 20%, karena selama ini bid. pendidikan sebagai instrumen utama mencerdaskan bangsa selalu disia siakan. Tapi apa lacur, setelah diimplementasikan undang undang tersebut (yi melalui alokasi anggaran yg memadai) kinerja bidang pendidikan ini tetap carut marut! Mengapa? Sebuah fakta sederhana, hari2 ini perbincangan setelah terpenuhinya kesejahteraan para pendidik (guru), obrolan2 sesama mereka adalah, "eh Bpk sudah beli tambahan tanah dimana?". Itu obrolan para guru di Jakarta dan sekitarnya. "hai pak, pakai mobil apa ke sini (sekolah)". Ini obrolan para guru di daerah2. Jadi tuntutan utama dari para guru selama ini rupanya sifatnya material/quantitativ. Tentang kualitas itu entah menjadi prioritas ke berapa. Mestinya kita bertanya, mau berangkat dari titik acuan yg mana? Karena, jika kita perhatikan konsep sekolah konvensional Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
-----Original Message----- From: "Tri Basoeki Soelisvichyanto" <[email protected]> Sender: [email protected]: Sun, 19 Jun 2011 02:22:28 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [indonesia] Re: Masih perlukan UN (Ujian Nasional) dilanjutkan? Menimbukan Contek Massal dan Kecurangan2 lainnya Lalu kalau konsepnya sekolahan konvensional diganti spt konsepnya sekolah alam ciganjur gimana? -----Original Message----- From: Agus Purwanto <[email protected]> Sender: [email protected]: Sat, 18 Jun 2011 19:19:37 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [indonesia] Re: Masih perlukan UN (Ujian Nasional) dilanjutkan? Menimbukan Contek Massal dan Kecurangan2 lainnya sekarang tergantung kesadaran mendiknas pak Nuh maklum, belum ada kelompok yang dapat menekan mendiknas untuk menghentikan UN Agus Purwanto LaFTiFA ITS http://purwanto-laftifa.blogspot.com http://ayatayatsemesta.wordpress.com ________________________________ From: S Roestam <[email protected]> To: [email protected]; [email protected] Sent: Sun, June 19, 2011 7:59:13 AM Subject: [indonesia] Masih perlukan UN (Ujian Nasional) dilanjutkan? Menimbukan Contek Massal dan Kecurangan2 lainnya Kawan2 Yth, [caption id="attachment_1722" align="alignleft" width="300" caption="Alif siswa cerdas SDN Gadel-2"][/caption] Alif siswa cerdas dari SDN Gadel 2 yang mengaku disuruh gurunya untuk memberikan contekan kepada kawan-kawannya, dinyatakan lulus UN dengan nilai tertinggi. Ia telah mendapatjkan hadiah sebuah Laptop dan berencana untuk meneruskan sekolahnya di SMP 3 Surabaya. Ia juga merasa gembira kalau kawan-kawannya juga lulus UN. Kasus contek massal di SDB Gadel 2 oleh Mendiknas Bapak M Nuh telah dianggap selesai, setelah beliau turun tangan langsung dan mendamaikan Ny. Siami ibu dari Alif dengan tetangganya. Beberapa saat setelah kasus contek massal SDN Gadel 2 muncul, di SDN 06 Pesanggrahan Tangerang terjadi pula pelaporan contek massal oleh putra Ibu Irma Lubis yang disiarkan oleh TV-One hari sabtu, 18 Juni 2011. Namun untuk meng-antisipasi protes masyarakat disekitarnya, Ibu Irma Lubis telah menghubungi Komisi Perlindunga Anak Indonesia (KPAI) untuk meminta perlindungan bagi anaknya. Beruntung kasus pelaporan contek massal UN di SDN06 Pesanggrahan ini tidak menjadi heboh seperti di SDN Gadel 2 Surabaya itu. Namun demikian, kita perlu mempetimbangkan kembali apakah sistem Ujian Nasional itu akan diteruskan ataukah dihentikan saja, mengingat dampak UN ini bagi kelancaran Pendidikan Nasional. Kita telah menyaksikan betapa besar sumber-sumber daya nasional yang telah dicurahkan untuk menyelenggarakan UN ini, seperti: * Pengerahan ribuan petugas kepolisian untuk menghindari kecurangan dalam penyelenggaraan UN * Puluhan kasus-kasus keurangan oleh para guru yang berupaya agar di sekolah mereka menghasilkan tingkat kelulusan yang tinggi * Keresahan paar orangtua murid saat menjelang UN yang khawatir anaknya tidak lulus, walaupun prestasi sehari-hari anak mereka disekolah cukup baik atau menonjol * Besarnya biaya UN termasuk honor-honor Panitia Penyelenggaranya Mengapa hal-hal tersebut diatas bisa terjadi dan menyedot begitu besar sumber-sumber daya bangsa Indonesia? Padahal sebenarnya Proyek UN itu pada awalnya hanyalah sebuah proyek untuk meng-evaluasi mutu pendidikan di berbagai wilayah Indonesia melalui sampling beberapa sekolah saja di tiap wilayah. Oleh karena itu caranya adalah dengan melakukan ujian beberapa sample mata pelajaran dan dengan menggunakan cara "Multiple Choice". Proyek Ujian UN ini awalnay tidak dipakai untuk menentukan lulus-tidaknya siswa di akhir sekolah mereka. Namun dengan diberlakukannya UN sebagai penentu lulus tidaknya siswa yang selama belajar 3-tahun disekolahnya, melalaui sampling beberapa matapelajaran saja, membuat para orangtua murid cemas, sebab sampling ujian tetap saja sebagai sampling, dan tidak seharusnya sebagai penentu lulus-tidaknya siswa yang belajar selama 3-tahun. Bisa saja siswa keliru dala menterjemahkan pertanyaan multiple choice itu dan mencoreng pilihan yang keliru. Sudah banyak kasus yang menunjukkan bahwa siswa yang dikenal cerdas disekolahnya, ternyata gagal dalam ujian UN. Jadi saran kita, UN dihapus saja, dan penentuan lulus-tidaknya seseorang siswa dari prestasi selama ia belajar 3-tahun disekolahnya, dari hasil-hasil ujian semesteran di sekolahnya. Ini akan sangat menghemat biaya penyelenggaraan ujian, dan anggaran UN yang jumlahnya cukup besar (dalam angka Trilyunan rupiah?) dapat dipakai untuk meningkatkan mutu guru-guru pengajar di tiap sekolah, dan untuk menambah penghasilan mereka. Ini juga akan menghindari kecemasan orangtua murid, sebab hasilnya sudah dapat diramalkan sebelumnya. Silahkan ditanggapi. Wassalam, S Roestam http://presidenku.com
