Mejuah-juah turang Santi.
Saya sependapat dengan anda. Bahkan pernah terjadi kegagalan karena 
keharusan tsb, lalu diambil kesimpulan:bukan jodoh.
Kalau kita menganggap berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan 
yang sebangsa dan setanah air maka harusnya dicari solusi yang 
paling pas.Kita orang Karo tentu bangga dengan adat/kultur kita tapi 
etnis lain juga sama halnya, kalau semua menganggap dia lebih super 
maka tidak ada titik temunya.
Kondisi kawin silang antar suku  ini makin lama makin tidak dapat 
dihindarkan karena semakin lama setiap etnis akan hidup dalam 
lingkungan yang lebih heterogeen.Kalau hanya untuk acara adat 
barangkali ditunjuk saja sementara yang dianggap sebagai  
sembuyaknya yaitu bengkila dari siperempuan tanpa merubah atau 
memberi marga pihak laki-laki sehingga didalam surat undanganpun 
tidak usah dimodifikasi nama/marganya. 
Banyak sekali suku lain apalagi memang sudah ada fam atau marganya 
keberatan utk dirubah. Jawaban dari kita simple saja:" La nge atena 
keleng, adina keleng atena nggit ng e ia aturna" inilah jawaban yang 
egois tsb.
Demikian sekedar masukan.
MJJ



 In [email protected], Reh Atemalem Susanti <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Haruskah suku lain yang akan menikahi orang karo diberi marga?
>  Pasalnya, aku menganggap itu pemaksaan terselubung. Itu sikap 
yang egois. Tidak semua orang percaya dan mau terjebak dalam kotak-
kotak suku.
>  
>  Kalau dia merasa cukup berbangsa Indonesia, haruskah ia dipaksa 
untuk bermarga dan diberi "orangtua angkat". Apalagi acara untuk itu 
cenderung berbelit2. Padahal sampai sekarang aku tidak pernah 
melihat ada "orangtua angkat" yang peduli pada anaknya.
>  
>  Reh Atemalem
>  
>        
> ---------------------------------
> Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
> Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at 
Yahoo! Games.
>


Kirim email ke