Saya Kutip dari beberapa Penyataan Saudara Jeremy Tony. "Kita orang Karo tentu bangga dengan adat/kultur kita tapi etnis lain juga sama halnya, kalau semua menganggap dia lebih super maka tidak ada titik temunya."
**** **** Akan Lebih Bangga sebagai orang kalo kalo kita menggunakan Bahasa Karo Sebagai Pengantar disini. Nga ada alasan untuk mengatakan tidak bisa bahasa karo atau sebagainya, kembali ke orang tua masing2 yg dari kecil tidak mengajarkan anak2 mereka bahasa karo adalah suatu kesalahan besar menurut saya. At least mereka tau bahasa karo, walau dalam dunia pergaulan pada umumnya menggunakan bahasa indonesia atau bahasa Inggris sebagai pengantar. **** Pemberian Marga ke suku etnis lain yg bukan karo aku pikir bukan suatu pemaksaan lho. tapi aku pikir itu adalah suatu penghargaan yg orang karo berikan buat orang tersebut. kadang2 orang yg diberi marga tersebutpun tidak akan memakai sebagai penggantian marga sebagai penggantian suku. Pernyataan Saudari Rere: > > Haruskah suku lain yang akan menikahi orang karo diberi marga? > > Pasalnya, aku menganggap itu pemaksaan terselubung. Itu sikap > yang egois. Tidak semua orang percaya dan mau terjebak dalam kotak- > kotak suku. Masalah harus enggaknya sih tergantung kesepakatan ya. klo emank dari kedua pihak ok dengan pemberian marga tersebut ya why not??? toh itu merupakan sebuah kemauan dari mereka sendiri. Lagi Pula atas Dasar apa Anda mengatakan bahwa itu adalah sebuah pemaksaan terselubung? kalo dalam pikiranku, pemaksaan tersebulung tersebut dapat dikatakan JIKA...stlh pemberian marga tersebut orang tersebut dipaksa untuk mengikuti adat2 orang karo. Adat orang karo ga semua lho orang bisa trima karena banyak yg menurut aku sendiri sebagai orang karo bertentangan dengan nilai2 agama (tergantung dr sudut pandang masing2 agama) pada dasarnya semua orang didunia ini sudah dikotak2kan dalam suka masing2 dan itu ga bisa dipungkiri. Walau kita bilang enggak.... > > Kalau dia merasa cukup berbangsa Indonesia, haruskah ia dipaksa > untuk bermarga dan diberi "orangtua angkat". Apalagi acara untuk itu > cenderung berbelit2. Padahal sampai sekarang aku tidak pernah > melihat ada "orangtua angkat" yang peduli pada anaknya. TIDAK DIPAKSA. Kebetulan aja anda tinggal dilingkungan yang memang ngak ada contoh bahwa orang tua angkat yg anda maksud seperti yg anda mau. Sikap Peduli anda dalam konteks yg mana dulu? Klo misalnya nih: anggap aja dari 10 orang tua angkat dlm budaya karo..anggap aja yg 9 ga baik or ga care ama anak angkatnya. Menurut aku nga bisa diambil averagenya bahwa semua orang tua angkat ga peduli ama anak angkatnya. paling enggak masih ada satu yg masih perduli. sorry ya, penjelasannya ga lengkap banget. nga bisa fokus. ntar aku bakalan kirimin penjelasan yg lebih rinci mengenai masalah ini. NOTE: Paling Enggak Sebagai orang2 yg mau melestarikan budaya karo, mendingan kita liat dari sisi positifnya aja deh. Bukan Menjudge lho... Bujur. --- In [email protected], "jrmtony" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mejuah-juah turang Santi. > Saya sependapat dengan anda. Bahkan pernah terjadi kegagalan karena > keharusan tsb, lalu diambil kesimpulan:bukan jodoh. > Kalau kita menganggap berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan > yang sebangsa dan setanah air maka harusnya dicari solusi yang > paling pas. > Kondisi kawin silang antar suku ini makin lama makin tidak dapat > dihindarkan karena semakin lama setiap etnis akan hidup dalam > lingkungan yang lebih heterogeen.Kalau hanya untuk acara adat > barangkali ditunjuk saja sementara yang dianggap sebagai > sembuyaknya yaitu bengkila dari siperempuan tanpa merubah atau > memberi marga pihak laki-laki sehingga didalam surat undanganpun > tidak usah dimodifikasi nama/marganya. > Banyak sekali suku lain apalagi memang sudah ada fam atau marganya > keberatan utk dirubah. Jawaban dari kita simple saja:" La nge atena > keleng, adina keleng atena nggit ng e ia aturna" inilah jawaban yang > egois tsb. > Demikian sekedar masukan. > MJJ > > > > In [email protected], Reh Atemalem Susanti <rere_aam@> > wrote: > > > > Haruskah suku lain yang akan menikahi orang karo diberi marga? > > Pasalnya, aku menganggap itu pemaksaan terselubung. Itu sikap > yang egois. Tidak semua orang percaya dan mau terjebak dalam kotak- > kotak suku. > > > > Kalau dia merasa cukup berbangsa Indonesia, haruskah ia dipaksa > untuk bermarga dan diberi "orangtua angkat". Apalagi acara untuk itu > cenderung berbelit2. Padahal sampai sekarang aku tidak pernah > melihat ada "orangtua angkat" yang peduli pada anaknya. > > > > Reh Atemalem > > > > > > --------------------------------- > > Boardwalk for $500? In 2007? Ha! > > Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at > Yahoo! Games. > > >
