Jadi amat jelas pasangan yang TIDAK menginginkan pendidikan gratis sampai SMA
adalah pengikut dan penganut sistin Neoliberaalisme yang konsekuen. Pendidikan
rakyat dijadikan alat perdagangan yang bukan untuk merninggikan tahap
pendidikan rakyat tapi hanya untuk menghasilkan duit cari keuntungan dengan
mengorbankan rakyat tetap bodoh karna tidak mampu bersekolah.
Siapa saja yang ber-orientasi kepada kepentingan dan kesejahteraan rakyat,
jangan mermilih pasangan ini karna ini pasangan pedagang untuk cari untung
yang berlindung dalam sistim ekonomi Neo Liberalisme yang a sosial, anti rakyat
dan cuma melihat uang dan keuntungan termasuk keuntungan pribadinya .Sistim
"kartu pintar"adalah pintu masuk legal sogok menyogok yang sudah pasti rakyat
tidak mungkin menyekolahkan anak-anak mereka yang cerdas kalau tidak mampu
membayar "kartu pintar".
Orang dagang memang banyak akal trermasuk akal bulus untuk mengorek kantong
siapa saja yang bisa dikorek. JANGAN PILIH PASANGAN PEDAGANG INI!
Setiap yang sedikit saja berbau sosialis, bagi mereka adalah ketinggalan jaman
dan setiap yang berbau uang, itulah yang mereka perebutkan.. Waspadalah, tukang
catut masuk politik!
ASAHAN.
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, July 03, 2012 4:38 AM
Subject: Ahok: Gratis sampai SMA Sudah Nggak Zaman
Ahok: Gratis sampai SMA Sudah Nggak Zaman
Penulis : Riana Afifah | Selasa, 3 Juli 2012 | 06:48 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Calon wakil gubernur DKI Jakarta dari Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan dan Partai Gerindra yaitu Basuki Tjahaja Purnama bersama
dengan pasangannya Joko Widodo terkenal dengan programnya untuk pendidikan
berupa Kartu Pintar.
Namun inovasi untuk program pendidikan ini tampaknya akan ditambah dengan
memberi beasiswa untuk anak yang berprestasi sehingga dapat mengenyam
pendidikan hingga jenjang sarjana.
"Gratis sampai SMA sudah nggak zaman. Tahun 2015 sudah masuk era perdagangan
bebas. Jadi bisa kasih beasiswa anak yang berprestasi tapi nggak mampu untuk
kuliah," kata Ahok, sapaan akrab Basuki Tjahaja Purnama, di Balaikota, Jakarta,
Senin (2/7/2012).
Ia mengungkapkan bahwa biaya pendidikan di Jakarta terbilang cukup besar
dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Namun dengan anggaran yang besar,
masalah pendidikan masih membayangi Jakarta.
Ada 'Nazaruddin' di Spanduk Foke-Nara, KIMB Lapor Panwas Kecamatan
"Misalnya anggaran pendidikan di DKI hampir Rp 10 triliun, dibanding dengam
APBD Surabaya hanya Rp 5 triliun. Artinya untuk ngurusin pendidikan di DKI dua
kali APBD di Surabaya," ujar Ahok.
"Tapi dengan anggaran sebesar itu, masih ditemukan anak ijazahnya ditunggak.
Sementara yang anggarannya lebih kecil malah lebih rapi," imbuhnya.
Untuk itu, ia berkomitmen dengan pasangannya Joko Widodo akan melakukan
transparansi anggaran jika nanti terpilih. Dengan demikian, aliran dan alokasi
dana APBD jelas sehingga dapat diwujudkan gratis sekolah hingga jenjang sarjana
dengan sistem beasiswa.
"Ini kan ada transparansi. Akan kami buka nanti. Dengan mutu pendidikan DKI,
diharapkan tidak ada pengangguran," tandasnya.
Editor :
Kistyarini