Tidak, saya tidak salah membaca artikel. Tapi kalau yang dimaksud 
cagub(cawagub) adalah bukan hanya hingga sampai SMA adalah gratis, tapi sudah 
harus ke tingkat sarjana harus pula gratis, maka kalimat"Gratis hingga SMA 
sudah nggak jaman", tidak bisa lain harus dimengertikan orang adalah 
penghapusan gratis belajar hingga SMA. Kalau maksudnya memang ingin mengatakan 
: "Cuma (hanya) gratis belajar hingga SMA, itu  sudah nggak jamannya lagi" yang 
artinya perpanjangan masa belajar gratis hingga tingkat Universitas, maka 
kalimat semula harus dirobah. Saya kira, kalau memang soal bahasa, seorang 
calon Gubernur, harus mengusai bahasa Indonesia dengan baik. Kalau 
"ujian"bahasa Indonesia saja sudah tidak lulus, bagaimana nanti bila terpilih 
jadi wakil Gubernur? 
ASAHAN.
  ----- Original Message ----- 
  From: Yohanes Sulaiman 
  To: [email protected] 
  Cc: [email protected] ; SANTRI KIRI ; 
[email protected] ; Salim Said ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] ; AKSARA SASTRA 
; [email protected] 
  Sent: Tuesday, July 03, 2012 12:43 PM
  Subject: Re: #sastra-pembebasan# Ahok: Gratis sampai SMA Sudah Nggak Zaman


  Anda salah baca artikel?

  Namun   inovasi untuk program pendidikan ini tampaknya akan ditambah dengan 
memberi   beasiswa untuk anak yang berprestasi sehingga dapat mengenyam 
pendidikan   hingga jenjang sarjana.
  "Gratis sampai SMA sudah nggak zaman. Tahun   2015 sudah masuk era 
perdagangan bebas. Jadi bisa kasih beasiswa anak yang   berprestasi tapi nggak 
mampu untuk kuliah," kata Ahok, sapaan akrab Basuki   Tjahaja Purnama, di 
Balaikota, Jakarta, Senin (2/7/2012).



  2012/7/4 ASAHAN <[email protected]>

    Jadi amat jelas pasangan yang TIDAK menginginkan pendidikan gratis sampai 
SMA adalah pengikut dan penganut sistin Neoliberaalisme yang konsekuen. 
Pendidikan rakyat dijadikan alat perdagangan yang bukan untuk merninggikan 
tahap pendidikan rakyat tapi hanya untuk menghasilkan duit cari keuntungan 
dengan mengorbankan rakyat tetap bodoh karna tidak mampu bersekolah. Siapa saja 
yang ber-orientasi kepada kepentingan dan kesejahteraan rakyat, jangan mermilih 
pasangan ini karna ini pasangan  pedagang untuk cari untung yang berlindung 
dalam sistim ekonomi Neo Liberalisme yang a sosial, anti rakyat dan cuma 
melihat uang dan keuntungan termasuk keuntungan pribadinya .Sistim "kartu 
pintar"adalah pintu masuk  legal sogok menyogok yang  sudah pasti rakyat tidak 
mungkin menyekolahkan anak-anak mereka yang cerdas kalau tidak mampu membayar 
"kartu pintar".
    Orang dagang memang banyak akal trermasuk akal bulus untuk mengorek kantong 
siapa saja yang bisa dikorek. JANGAN PILIH PASANGAN PEDAGANG INI!
    Setiap yang sedikit saja berbau sosialis, bagi mereka adalah ketinggalan 
jaman dan setiap yang berbau uang, itulah yang mereka perebutkan.. Waspadalah, 
tukang catut masuk politik!
    ASAHAN.




      ----- Original Message ----- 
      From: GELORA45 
      To: GELORA_In 
      Sent: Tuesday, July 03, 2012 4:38 AM
      Subject: #sastra-pembebasan# Ahok: Gratis sampai SMA Sudah Nggak Zaman


        
      Ahok: Gratis sampai SMA Sudah Nggak Zaman
      Penulis : Riana Afifah | Selasa, 3 Juli 2012 | 06:48 WIB

      JAKARTA, KOMPAS.com - Calon wakil gubernur DKI Jakarta dari Partai 
Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerindra yaitu Basuki Tjahaja Purnama 
bersama dengan pasangannya Joko Widodo terkenal dengan programnya untuk 
pendidikan berupa Kartu Pintar.

      Namun inovasi untuk program pendidikan ini tampaknya akan ditambah dengan 
memberi beasiswa untuk anak yang berprestasi sehingga dapat mengenyam 
pendidikan hingga jenjang sarjana.

      "Gratis sampai SMA sudah nggak zaman. Tahun 2015 sudah masuk era 
perdagangan bebas. Jadi bisa kasih beasiswa anak yang berprestasi tapi nggak 
mampu untuk kuliah," kata Ahok, sapaan akrab Basuki Tjahaja Purnama, di 
Balaikota, Jakarta, Senin (2/7/2012).

      Ia mengungkapkan bahwa biaya pendidikan di Jakarta terbilang cukup besar 
dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Namun dengan anggaran yang besar, 
masalah pendidikan masih membayangi Jakarta.

      "Misalnya anggaran pendidikan di DKI hampir Rp 10 triliun, dibanding 
dengam APBD Surabaya hanya Rp 5 triliun. Artinya untuk ngurusin pendidikan di 
DKI dua kali APBD di Surabaya," ujar Ahok.

      "Tapi dengan anggaran sebesar itu, masih ditemukan anak ijazahnya 
ditunggak. Sementara yang anggarannya lebih kecil malah lebih rapi," imbuhnya.

      Untuk itu, ia berkomitmen dengan pasangannya Joko Widodo akan melakukan 
transparansi anggaran jika nanti terpilih. Dengan demikian, aliran dan alokasi 
dana APBD jelas sehingga dapat diwujudkan gratis sekolah hingga jenjang sarjana 
dengan sistem beasiswa.

      "Ini kan ada transparansi. Akan kami buka nanti. Dengan mutu pendidikan 
DKI, diharapkan tidak ada pengangguran," tandasnya. 

      Editor :
      Kistyarini

      [Non-text portions of this message have been removed]



      



  -- 

  Check my blog: http://ysulaiman.blogspot.com
  Our analysis: http://centerforworldconflictandpeace.blogspot.com
  Twitter: @yohanessulaiman



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke