Alhamdulillah.

Setuju pak. Barangkali begitulah memang kewajiban dan wewenang kita.

= Wizh =





Please respond to Milis is-lam <[email protected]>
Subject:  RE: [is-lam] Bagaimana Memperlakukan Manusia ?



terlepas dari hak dan kewajiban dan wewenanng, pada kenyataanya aparat kita
memang membuat pesimis, yang bisa kita lakukan sekarang, seperti aa gym
sampikan, perbaiki diri, mulai dari sekarang dan dari hal yang kecil. jika
setiap rumah tangga, melakukan ini , maka akan baiklah satu rt,dan akan
baiklah satu kelurahan dst..sehingga rasa pesimis akan berubah menjadi
semangat untuk berubah

-----Original Message-----
From: IPD Wiska Susetio [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, July 29, 2005 9:04 AM
To: Milis is-lam
Subject: RE: [is-lam] Bagaimana Memperlakukan Manusia ?





Sayangnya alasan pesimis tetap tidak pernah bisa melegitimasi tindakan main
hakim sendiri.

Aparat punya hak dan kewajiban, bila kewajibannya tidak ditunaikan maka
kepada
Allah Azza wa Jalla lah pertanggung jawabannya.
Begitu pula ulama dan rakyat biasa punya hak, kewajiban dan wewenang
masing-masing.

Rasulullah bersabda jika kita melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan
kita (wewenang), kalau tidak bisa maka dengan lisan (nasehat), kalau tidak
bisa
minimal hati harus mengingkari dan ini adalah selemah-lemah iman. Nah
pelaksanaan wewenang itu tidak sembarangan ada adabnya , sebagaimana
menasehati
pun ada adabnya. Kepada Allah lah kita meminta pertolongan.

Mohon perhatikan lagi nasehat-nasehat ulama salaf mengenai adab bersikap
kepada
penguasa.

Wallaahu musta'an.

= Wizh =





Raden Zukimi <[EMAIL PROTECTED]> on 07/29/2005 09:44:54 AM

Please respond to Milis is-lam <[email protected]>

To:   'Milis is-lam' <[email protected]>
cc:    (bcc: IPD Wiska Susetio/QA/domino_srv)

Subject:  RE: [is-lam] Bagaimana Memperlakukan Manusia ?



kolo ngomong wewenang siapa....pesimis
siapa yang bewenang, polisi....pesimis
jadi saya rasa, yang orang2 penyerang ahmadiah itu, sudah pesimis gengan
lebaga hukum yang ada, suadah jelas fatwa mui, tapi aparat tak ada yang
bertindak so siapa yang salah......

-----Original Message-----
From: IPD Wiska Susetio [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, July 29, 2005 8:39 AM
To: Milis is-lam
Subject: Re: [is-lam] Bagaimana Memperlakukan Manusia ?





Ijinkan saya membahasakan ulang maksud Pak Raden.

Masalahnya bukanlah pada kesesatan Ahmadiyah, hal ini barangkali sudah
disepakati. Akan tetapi masalahnya terletak pada EKSEKUSI HUKUM terhadap
orang-orang yang nyasar tersebut. Maksud Pak Raden, vonis dan eksekusi hukum
hanya boleh dilakukan oleh pihak YANG BERWENANG saja (aparat).

Dari sini kita perlu membedakan ulama sebagai cendekiawan yang memiliki
opini
hukum dengan ulama sebagai pewaris nabi yang memiliki wewenang mengeluarkan
fatwa hukum. Tidak semua orang yang mendalam kapasitas ilmunya lantas
otomatis
menjadi mufti. Jabatan mufti itu adalah jabatan resmi kenegaraan. Seperti di
jaman para sahabat dulu - mohon bantuan verifikasi riwayatnya pada yang
lebih
hafal  - meskipun banyak yang lebih senior dari segi ilmu dari Ibnu Abbas
rodhiallaahu anhum, akan tetapi beliaulah yang lebih ditaati karena
beliaulah
yang ditunjuk sebagai mufti pada saat itu. Dalam hal kasus Ahmadiyah, MUI
telah
memainkan peranannya dengan pas.

Analogi kasus ini mirip dengan fitnah takfir dan tabdi. Takfir dan tabdi itu
kan
bukan wewenang setiap orang/kelompok agama meskipun dinilai mendalam
ilmunya.

Kemudian setelah vonis hukum keluar tentu eksekusinya hanya boleh dilakukan
oleh
yang berwenang saja (aparat). Dalam kasus Bogor, bisa ditanyakan kepada
kelompok-kelompok *jihad* tersebut : Dari siapa instruksi tindakan tersebut
dikeluarkan ? Punya wewenang kah ?

Wallaahu 'alam,

= Wizh =




Please respond to Milis is-lam <[email protected]>

To:   "Teddie Harjadi" <[EMAIL PROTECTED]>, "Milis is-lam"
      <[email protected]>
cc:    (bcc: IPD Wiska Susetio/QA/domino_srv)

Subject:  Re: [is-lam] Bagaimana Memperlakukan Manusia ?



yang main-main itu siapa, kan kita yang cuma ketik-2 saja, tanpa buka
rujukan
kecuali yang sedang diingat selintas... ya enggak pak raden budiman.   pak
raden
siap berdebat satu meja dg ahli agama ?  ini pertanyaan yang perlu anda
jwab....
agar jelas siapa yang  main-main.   Ulil, dawam, sholahudin wahid, adnan
buyung
dan sederetan itu... tak ada yang ahli agama.... semua mengaku ahli.
  ----- Original Message -----
  From: Teddie Harjadi
  To: Milis is-lam
  Sent: Thursday, July 28, 2005 3:49 PM
  Subject: Re: [is-lam] Bagaimana Memperlakukan Manusia ?


  Kemudian dalam hal ini anda akan berhakim kepada siapa?
  Kepada Hakim yang bagaimana anda mematuhi putusannya?
  Adakah Hakim tersebut saat ini?
    ----- Original Message -----
    From: Raden Budiman
    To: [EMAIL PROTECTED]
    Sent: Thursday, July 28, 2005 2:15 PM
    Subject: [is-lam] Bagaimana Memperlakukan Manusia ?





    Fatwa ulama bukan pernyataan hukum sebab para ulama itu
    bukan hakim !

    Maka siapapun yang berlindung dibawah fatwa ulama bukan
    pelaksana hukum.
    Dan siapapun yang bertindak hukum tanpa melalui prosedur
    hukum adalah menyesatkan.

    Pelaksanaan Hukum Islam tidak bisa main-main !





_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke