----- Original Message -----
Sent: Thursday, September 01, 2005 8:33
AM
Subject: RE: [is-lam] Mengingat Cak Nur
--c2|
Dear mas Djoko,
Assalamu 'alaikum .
Wr.wb.
Maaf mas, sebenarnya siapa sih yang berhak menjadi hakim untuk
mencap seseorang itu kafir, muslim, munafiq dan musyrik ? Padahal di dalam
Qur'an jelas menggambarkan ciri2 mereka yang harus diwaspadai oleh orang2
beriman. Apa musti ada lembaga khusus yang mengkaji tentang seseorang tersebut
agar kita dapat melindungi umat dari tipu daya, pendapat, dan perilakunya yang
menyesatkan ?
Apakah jikalau pendapat dan sikap seseorang itu mengarah pada
sikap kemunafiqan, atau tindakan seseorang itu mengarah pada kemusyrikan, dsb.
Dapatkah kita bilang bahwa ia adalah seorang munafiq atau musyrik dan tidak
boleh diikuti pendapatnya ataupun tindakannya ? Kalau nggak boleh, lantas
tindakan kita dalam amar ma'ruf nahi munkar itu boleh nggak mengambil contoh..
Misalnya menasihati agar jangan mencontoh perbuatan, sikap, tindakan, dan
berpendapat seperti seseorang itu (yang kita cap munafiq dsb) ?
Mohon diluruskan pendapat saya ;
1) Kalau si Abu Lahab dikatakan kafir dalam Qur'an apakah
memang dalam setiap pembicaraannya selalu salah ? Toh paling tidak bagi
lingkungannya mungkin ia dianggap benar.
2) Seseorang yang dianggap munafiq dalam Qur'an, mungkin dari
sebagian pembicaraannya ada yang menyatakan kebenaran islam, tapi sebagian
lagi menyatakan agama lain (agama nenek moyangnya atau agama lain selain islam
juga benar jadi dianggap semua agama itu benar).
Wassalam,
Zainal
-----Original Message-----
From:
[EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
On Behalf Of Djoko Luknanto
Sent: Wednesday, August
31, 2005 11:18 PM
To: 'Milis is-lam'
Subject: RE: [is-lam] Mengingat Cak Nur --c2|
Howdy,
> From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:is-lam-
>
[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of AFR
> Sent:
31 Agustus 2005 8:50
>
>
kecuali sdkt mengkritisi saja, jgn org salah manut pd
> siapa yg tak patut. ketika org sdh tahu siapa mesti
> ditinggalkan dgn sebab alasan sesederhana mungkin
> namun masuk akal yg mudah & sederhana juga,
keputusan
> utk pro- atw kontra- hanya pd diri
sendiri. semua
> pasti konsekuensinya.
Kalau pendapat saya, misalkan seperti ini: Saya tidak
anti Fahru, namun kadang saya bisa setuju Fahru dan bisa
tidak setuju;
tergantung pendapat yang dikemukakan
Fahru saat itu. Jadi yang saya
setuju-i dan tidak-nya
itu adalah pendapat --bukan-- orangnya.
Seperti contohnya Cak Nur, mungkin saja saya tidak selalu
setuju kpd
setiap pendapatnya, artinya ada yang setuju
dan ada yang tidak setuju.
Dalam artian yang seperti
ini saya bukan berarti anti- atau tidak
terhadap Cak
Nur, namun pada pendapatnya.
Demikian pula terhadap Qardhawi, saya bisa setuju pada
pendapat beliau
mengenai suatu hal, namun dilain
masalah mungkin saya bisa jadi ragu.
Lagipula kita nanti yang mempertanggungjawabkan semua tindakan
kita
masing-masing dihadapan Allah swt. Dan setiap
orang sudah bisa menilai
sendiri-sendiri, karena kita
sudah dewasa semua, jadi bisa menentukan
mana yang
baik dan mana yang tidak.
Kadang-kadang kita terperosok tidak saja menyekutukan Tuhan,
bahkan
lebih dari itu mengganggap diri sendiri,
kaumnya, ustadznya sebagai
penafsir tunggal dari sabda
Allah swt., sampai-sampai bahkan mungkin
bisa jadi
ustadz mereka dianggap seperti Tuhan:-) Can do no wrong.
Yang mutlak 'kan al-Quran-nya, penafsirannya sangat
tergantung
penafsirnya.
PS: Mas Fahru saya kalau soal agama, with all my heart saya
admit saya
bukan apa-apanya Mas
Fahru, jadi anggap saja pendapat saya di atas
sebagai angin lalu, tidak usah terlalu
diperhatikan:-), dalam
masalah
agama saya akan selalu menempatkan diri sebagai murid saja.
Salam untuk semuanya.
Howgh!
--
Djoko Luknanto, Jack la Motta, Luke Skywalker
" ... the more you travel the less you know" - Beatles
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________
is-lam mailing
list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam