mbaca judulnya cukup ngeri juga; ngeri kejebak riya'. apa benar siapa org yg kita tahu sbg telah pelajari demikian jauh ttg agama, mengamalkannya dpt dikatakan benar dlm beragama?
TIDAK! Islam sama sekali tidak beri jaminan hingga org itu satu kata & perbuatan dlm segala hal. yg paling awal tahu siapa diantara manusia yg tahu tlh bersikap spt itu adlh dirinya sendiri, BUKAN orang lain yg melihat dari luarnya saja. org Islam itu hanya mungkin bisa dinilai bagus jika tlh memahami benar makna setiap kata & konsekuensinya arti kata2 (jika berkenaan dgn hukum) yg diterapkan dlm hidupnya. perhatikan Adam as stlh mampu dgn sempurna terangkan nama2 tiap sesuatu dihadapan para malaikat seluruh alam & isinya diperintahkan sujud oleh Allah SWT dan mereka sujud, kecuali iblis laknat. ulama yg jago dalil2 fiqh pun, ketika dia langgar larangan sekecil apapun di mata msyarakat belum tentu mau menerima dgn jujur sanksi kelalaiannya. namun org yg cethek ilmunya, yg mungkin baru tahu larangan lalu dia hindari sblm ketahuan org, itulah yg afdhol. jadi, tak dapat 'teori' bahwa yg baik itu begini-begitu kecuali langsung contoh nabi SAW dan/atau memegang kunci amalan tersebut diatas. a'udzubillahi min syaithaani rajiim Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (al-Zalzalah:7-8)* Gusti Allah mboten sare, nanging mirsani penjenengan sedaya salam, Fahru --- Agus Safudi - HRD <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > -----Original Message----- > From: Harry Sufehmi [mailto:[EMAIL PROTECTED] > > >Sebelum bisa membantu (secara signifikan, dari segi > materi), maka kita perlu > >mapan/berlebih terlebih dahulu. > > Cuma tolok ukur mapan/berlebih itu yang sulit > (relatif) ngukur nya pak, > sesuatu yang harus diukur tapi sulit ngukur nya, > gimana ini. > > >Nabi saw sudah menunjukkan caranya, yaitu dengan > banyak bersilaturahmi, > >karena silaturahmi memperbanyak rezeki, dll. > >Juga berbagai cara lainnya. > >Tapi, untuk contoh, silaturahmi yang kita lakukan > banyak yang salah, seperti: > ># bersilaturahmi dengan orang jahat / fasik > > Ya Pak Harry, cuma silaturahmi dengan orang > jahat/fasik itu maksudnya gimana? > biasanya kalo kasat mata orang itu jahat, orang gak > mau dekat-dekat, tapi kalo > kejahatan/kefasikan itu dihati apa iya pak kita bisa > tahu, jangan-jangan > nanti malah su'udzhon. > > ># bersilaturahmi dengan orang yang tidak ada > hubungannya dengan tujuan kita > > Sedikit mau tanya Pak Harry, silaturahmi itu cara > apa tujuan ya, kalo silaturahmi > itu hanya salah satu cara, apakah orang untuk > melakukannya harus punya maksud/ > tujun tertentu?, kalo memang harus selalu begini > bisa-bisa orang gak silaturahmi > lagi. > > >Ini sebetulnya common sense / akal sehat saja, > makanya banyak non-muslim yang > >jauh lebih berhasil dalam silaturahmi / networking. > >Anehnya, banyak dari kita yang sudah diberitahu > oleh Nabi saw, justru > >gagal melakukannya. Kita berhasil menjalankan > syariat agama, namun gagal memahami > >maksud/tujuannya. > > Maksudnya pola-pola yang dipakai dunia barat > (non-Muslim) tidak semuanya jelek > kan?, berhasilnya mereka itu apakah artinya mereka > mengikuti/sesuai HUKUM ALAM? > > Wassalam. > > a.s. > > > > _______________________________________________ > is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > _______________________________________________ > is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > __________________________________________ Yahoo! DSL Something to write home about. Just $16.99/mo. or less. dsl.yahoo.com _______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
