Assalamu'alaikum wr. wb. Gimana Pak Wiz, sudah sarapan, kemaren saya tidak sempat bales karena keburu pulang. Well, hihihi...jadinya malah saya sendiri yang terperangkap pada diskusi Teosentris ini, ..tapi gak apalah..layar sudah terkembang maka perahu harus melaju.
Oke pak, paling tidak saya jadi tahu persepsi bapak mengenai PENGHAYATAN dan PENGAMALAN, dan sah-sah saja setiap orang untuk meyakini sesuatu yang dianggap nya benar dengan mengandalkan INDRA, AKAL, dan HATI nya. Iman memang tidak hanya meyakini, IMAN itu kan ada di 3 tempat, di HATI, di MULUT, dan di ANGGOTA BADAN. Dalam al-Quran IMAN itu ya IMAN, dan Iman itu bisa dipahami setelah ada hadits yang menjelaskannya (diriwayatkan ada seorang berpakaian serba putih(Jibris a.s.) yang menanyakan ttg. IMAN, ISLAM, dan IHSAN) Iman memang bukan sekedar YAQIN, tapi yaqin itu adalah bagian dari IMAN, kata siapa.., kata Ibnu Qayyim juga dalan 'MADARIJUS SALIKIN'. Itulah kenapa pernah saya tulis Ulama dan qualnya itu bagaikan BINTANG DI LANGIT. Dan saya juga meyakini IMAN itu naik turun, salah satu penunjang yang menyebabkan Iman itu naik turun ya itu, karena ada di anggota badan. Dan Yaqin adalah bagian dari Iman karena 'menurut saya' YAQIN itu bersemayam di HATI. Umat Islam yang meyakini Isra' dan Mi'raj adalah umat Islam yang meyakini kenabian Rasululloh SAW. Saya kira, boleh-boleh saja umat Islam sekarang mengambil pendapat Ulama Salaf (terdahulu),ya memang tidak ada larangan khok, dan umat Islam itu memang terbagi-bagi paling tidak dalam 3 Tipologi, 1.Ada yang 'senang' mengambil pendapat-pendapat orang-orang dahulu. 2.Ada yang 'tidak senang' mengambil pendapat-pendapat orang-orang dahulu. 3.Ada yang mengambil diantara keduanya ( 1 dan 2). Saya kira untuk bisa memaksimalkan/optimalkan mengambil manfaat dari tafsir- tafsir (terdahulu) tsb. yang harus dikedepankan adalah INDRA dan AKAL, karena yang namanya mencari manfaat dan menolak mafsadat itu harus dengan PENGETAHUAN, dan didalam (baca bagian) PENGETAHUAN itu ada ILMU, dan pengetahuan dan ilmu itu di topang oleh indra dan akal, bukan dengan Iman. Dan hasil elsplorasi indra dan akal itulah yang bisa dinikmati oleh manusia, dan disamping manfaat yang diperoleh ternyata terkandung 'hikmah yang tersembunyi' itu karena manusia memiliki HATI, dan di hati itulah sejatinya Iman berada, bukan di AKAL atau di INDRA, tetapi ini semua merupakan SATU KESATUAN sehingga bisa 'mengarah' menuju KESEMPURNAAN.Inilah pendapat saya. Tapi yang jelas Islam itu harus hidup sampai akhir jaman nanti, nah supaya Islam itu langgeng sampe akhir jaman nanti, umat Islam sekarang harus bagaimana?, ya tentu saja umat Islam harus 'struggle/survive', dan ini tidak harus dengan berlebihan masalah ukhrowi, atau berlebihan masalah duniawai, jadi harus ada ditengah-tengah, karena Islam itu kan JALAN TENGAH katanya. Wallohu a'lam bishowab. Wasalamu'alaiakum wr. wb. a.s. -----Original Message----- From: IPD Wiska Susetio [mailto:[EMAIL PROTECTED] Wa'alaikum salam warohmatullaahi wabarokaatuh. Sambil nunggu jam pulang ... Kayaknya sambil ngopi enak nih, Pak. Penghayatan berbeda dengan pengamalan, wong di kamusnya saja sudah beda :-) Kalau di gathuk-gathuk atau kirata basa sundana, penghayatan berasal dari kata hayat, jadi arahnya barangkali bagaimana seluruh aspek hayat, hidup (hati, lisan, amal) selaras dalam nafas ajaran. Pengamalan hanya satu aspek saja dari penghayatan. Kira-kira maksud saya semakin murni penghayatan berarti semakin tinggi keimanan. Iman itu kan barangkali nggak hanya meyakini thok, Pak, tapi ada gradasinya. Dalam Qur'an gradasinya secara garis besarnya kira-kira ialah Iman taqlid, Iman Ilmu, dan Iman Ainal Yaqin. Mengenai makna ainal yaqin barangkali bisa dibaca penjelasan para ulama misalnya Allamah Ibnu Qayyim rohimahullah dalam kitab Al Fawa'id bab-bab awal. Ketika dikatakan umat Islam meyakini Isra' Mi'raj, maka bisa ditilik lagi : umat Islam yang mana yang keyakinannya (tingkat keimanannya) seperti apa ? Nah beda tingkat keimanan kan berarti beda input, Pak. Meskipun prosesnya sama ya jelas outputnya bakal beda juga. Penjelasan Ibnu Qayyim dalam kitab Al Fawa'id tersebut ketika membedah tafsir surah Qof ayat 37 itu sangat menarik. Maksud saya, ketika kita belum optimal mengambil manfaat dari kitab-kitab tafsir yang ada, yang sebenarnya mengandung lautan ilmu, karena tingkat keimanan yang masih biasa-biasa saja, kenapa tidak dicoba dulu membaca ulang setelah ditingkatkan keimanannya. Biasanya akan muncul *rahasia-rahasia* yang belum terungkap pada pembacaan sebelumnya. Sebelum buru-buru *loncat* menerjuni samudra tafsir yang baru, belum tentu juga didapat solusi yang segar karena *rahasia-rahasia*nya belum terungkap secara utuh. Wallahu'alam, = Wizh = Please respond to Milis is-lam <[email protected]> To: "Milis is-lam" <[email protected]> Subject: RE: [is-lam] Bagaimana 'Beragama' Yang Benar.... Assalamu'alaikum wr. wb. Sebelumnya terimakasih atas komentarnya. -----Original Message----- Wa 'alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh. >Pak Agus, Insya Allah kalau ajaran Dien ini dijalankan dengan PENGHAYATAN yang >murni, maka hati bisa bercahaya sehingga amal yang dilakukan ibarat buah yang >manis rasanya - menggugah bagi siapa pun yang memandangnya. Jadi barangkali ini >persoalan utama umat Islam kontemporer. Ajaran memang sudah mapan sejak jaman >Nabi, tapi penghayatan itu yang berproses sampai ke liang kubur bagi manusia >dari tiap-tiap jaman. Supaya lebih jelas gimana pengertian PENGHAYATAN menurut Pak Wiz, apakah PENGHAYATAN identik dengan PENGAMALAN? >Jaman sekarang ajaran Dien memang banyak dikaji dan didiskusikan, dibedah sampai >ke hal-hal kecil. Namun apakah sudah dihayati sampai Ainul Yaqin ? Bukankah kita umat Islam yakin dengan Isra' dan Mi'raj walaupun tidak melihatnya?? >Bukan salah kajian dan pembahasannya ketika dampak amal tidak semanis ketika >didiskusikan, karena kurang penghayatan. Yang perlu diperbaiki ya penghayatannya >dong ! Pertama saya tidak menyalahkan kajian lho pak, kedua kalo INPUT sudah benar, kenapa OUTPUT nya kurang/tidak benar?. Bukankah dalam Teori Dasar System ada yang namanya Input Process Output? Artinya antara Input dan Output di jembatani oleh Process, bener gak pak? >Misalnya ketika keimanan kepada Allah Ar Rozaq telah dima'rifati sampai >menghunjam, seharusnya orang tidak perlu dipaksa-paksa pakai rekayasa aturan >seperti *zakat profesi* untuk mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Yang perlu >ditingkatkan ya penghayatannya. Hehehe.. sensitive yah... ya gak apa pak, kalo gak setuju..mudah-mudahan Ibnu Umar r.a. bukan termasuk orang yang suka merekayasa, atawa memaksa. >Itu barangkali *menurut saya*, Trimaksih untuk pendapatnya. maka ini*menurut Allah* : (QS. Al-Ankabut) <1> Alif laaf miim. SAYA MENGIMANI <2> Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? SAYA MENGIMANI <3> Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. SAYA MENGIMANI <4> Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu. SAYA MENGIMANI <5> Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dia-lah yang Maha Mendegar lagi Maha Mengetahui. SAYA MENGIMANI <6> Dan barangsiapa yang berjihad (*laku* kalau bahasa Jawanya), maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta. SAYA MENGIMANI <7> Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. SAYA MENGIMANI Selama masih ada keimanan walaupun sedikit dalam hati, 'saya kira' semua umat Islam meyakini bahwa al-Qur'an adalah PERKATAAN-NYA, itulah kenapa disebut ayat-ayat Qauliyah, seperti yang pernah saya tulis di milis ini. Yang ingin saya soroti adalah kenapa umat Islam selalu terpaku pada tafsir-tafsir dari orang-orang salaf(terdahulu), kenapa kita takut menafsiri ayat-ayat al-Qur'an dengan konteks KEKINIAN kalo misalnya ILMU nya ada. Adakah jaminan bahwa TAFSIR-TAFSIR tersebut mutlak benar?? Bukankah kita semua tahu bagaimana krisis kekinian dari umat ini? Bukankah Pak Wiz juga meyakini kalo al-Quran itu adalah Petunjuk bagi Manusia, hanya saja kalo menurut bapak al-Quran itu petunjuk untuk sekarang(dunia), nanti (akhirat) atau keduanya (dunia dan akhirat)? Mohon pencerahannya. >Mudah-mudahan kita semua mendapatkan petunjuk dan bimbingan dari Allah. Amin. a.s. = Wizh = _______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam _______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
