-----Original Message----- From: Harry Sufehmi [mailto:[EMAIL PROTECTED]
>Sebelum bisa membantu (secara signifikan, dari segi materi), maka kita perlu >mapan/berlebih terlebih dahulu. Cuma tolok ukur mapan/berlebih itu yang sulit (relatif) ngukur nya pak, sesuatu yang harus diukur tapi sulit ngukur nya, gimana ini. >Nabi saw sudah menunjukkan caranya, yaitu dengan banyak bersilaturahmi, >karena silaturahmi memperbanyak rezeki, dll. >Juga berbagai cara lainnya. >Tapi, untuk contoh, silaturahmi yang kita lakukan banyak yang salah, seperti: ># bersilaturahmi dengan orang jahat / fasik Ya Pak Harry, cuma silaturahmi dengan orang jahat/fasik itu maksudnya gimana? biasanya kalo kasat mata orang itu jahat, orang gak mau dekat-dekat, tapi kalo kejahatan/kefasikan itu dihati apa iya pak kita bisa tahu, jangan-jangan nanti malah su'udzhon. ># bersilaturahmi dengan orang yang tidak ada hubungannya dengan tujuan kita Sedikit mau tanya Pak Harry, silaturahmi itu cara apa tujuan ya, kalo silaturahmi itu hanya salah satu cara, apakah orang untuk melakukannya harus punya maksud/ tujun tertentu?, kalo memang harus selalu begini bisa-bisa orang gak silaturahmi lagi. >Ini sebetulnya common sense / akal sehat saja, makanya banyak non-muslim yang >jauh lebih berhasil dalam silaturahmi / networking. >Anehnya, banyak dari kita yang sudah diberitahu oleh Nabi saw, justru >gagal melakukannya. Kita berhasil menjalankan syariat agama, namun gagal >memahami >maksud/tujuannya. Maksudnya pola-pola yang dipakai dunia barat (non-Muslim) tidak semuanya jelek kan?, berhasilnya mereka itu apakah artinya mereka mengikuti/sesuai HUKUM ALAM? Wassalam. a.s. _______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam _______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
