Bismillaah, Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim.
Saudaraku semua, izinkan hamba untuk ikut menanggapi topik diskusi yang bagi
saya sangat menarik ini.

Pertanyaan "Bagaimana beragama yang benar..." tidaklah muncul dengan
tiba-tiba saja. Ini hanyalah sebuah output dari suatu proses yang
sesungguhnya sangat panjang. Berbagai informasi (input) yang berasal dari
sepertinya berasal dari bermacam "proses" terlihat simpang siur dan
sepertinya tidak konsisten bahkan sepertinya tidak ada kaitan sama sekali.
Benarkah ?

Saudaraku Wizh menunjuk kata "hayat" atau "penghayatan" yang hamba tangkap
adalah "tingkat penghayatan agama" masing-masing kita berbeda. Bisa jadi hal
itu memang berbeda, karena jalur yang dipilih memang berbeda, meski pun jika
dipandang-pandang jalur itu sepertinya sama. Namun bisa juga perbedaan itu
sesungguhnya tidak ada dari segi materi atau tingkatan imannya, hanya sudut
pandangnya saja yang berbeda. Tingkat keimanannya bisa saja sama, tetapi
karena secara kultur dan lingkungan kita hidup masing-masing kita memang
berbeda. Apalagi, start kita dalam beragama ini juga berbeda.

Hamba fikir, masalah START ini sangat menentukan. Permulaan kita dalam
beragama yang berbeda akan membedakan kita dalam perjalanan beragama kita.
Selain karena kondisi kebiasaan lingkungan kita berasal dalam melaksanakan
ajaran agama, masalah motivasi atau alasan-alasan dalam memulai beragama,
kiranya baik juga untuk kita kaji. Misalnya :

(1). Beragama karena dipaksa oleh lingkungan kita berasal.

Orangtua kita yang beragama islam, "memaksa" kita ikut beragama islam dalam
keadaan seperti orangtua kita beragama islam. Jika orangtua kita dalam
beragama islam juga dalam terpaksa ikut orangtuanya dalam beragama islam
yang "tanpa sadar", tentu saja, penghayatan kita dalam beragama islam juga
tidaklah jauh berbeda. Dan sayangnya, hampir sebagian besar kita di
Indonesia memang dalam kategori ini. Kita beragama islam karena orangtua
kita beragama islam, sedangkan orangtua dalam beragama islam bukanlah karena
kesadaran pribadinya, seperti halnya kita sekarang ini beragama islam.

Dalam hal ini, kita memulai agama kita dengan syari'at (peraturan) tanpa
dibekali cukup pengetahuan tentang siapa pemilik syari'at dan untuk apa
syariat itu diberikan kepada oleh pemiliknya. "Shalat ! Pokoknya harus
shalat ! Kalau tidak shalat, nanti berdosa ! Cara shalat belajar dari banyak
orang ahli syariat shalat".

(2). Beragama islam  karena kesadaran sendiri.

Hamba kesulitan mencari referensi bagaimana sih "beragama islam karena
kesadaran sendiri" itu, karena hamba sendiri berasal dari kategori "beragama
karena dipaksa lingkungan". Ketika saya tinggal di Aceh, dalam bulan
Ramadhan, saya tidak perlu khawatir akan terganggu oleh orang makan di depan
mata saya. Akan tetapi ketika saya berada di Medan, saya dapat menikmati
"berpuasa" di depan orang-orang yang bebas makan dan minum dengan lahap,
dalam kondisi ini, saya mulai membisikkan kepada diri saya "tujukkanlah
dirimu bahwa engkau memang seorang muslim".

Pada saat seperti itu, kita beragama bukanlah dipaksa oleh lingkungan
melainkan dipaksa oleh diri sendiri, yang pada saatnya harus mencari
motif-motif, "mengapa saya harus beragama islam padahal orang lain tidak ?".
Akhirnya harus ditemukan motif kita dalam beragama islam adalah karena kita
mengenal Allah yang begitu "MAHA" terhadap diri kita yang begitu "non sen".

Para ulama mengatakan "awwalu din ma'rifatullah" atau mengawali beragama itu
hendaklah dengan mengenal Allah.

Nah, demikian dulu, mungkin bisa ditanggapi dan dilanjutkan lagi.

As-salaamun alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
CXJ.

----- Original Message -----
From: "IPD Wiska Susetio" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Milis is-lam" <[email protected]>
Sent: Monday, December 05, 2005 4:22 PM
Subject: RE: [is-lam] Bagaimana 'Beragama' Yang Benar....


>
>
>
> Wa'alaikum salam warohmatullaahi wabarokaatuh.
>
> Sambil nunggu jam pulang ... Kayaknya sambil ngopi enak nih, Pak.
>
> Penghayatan berbeda dengan pengamalan, wong di kamusnya saja sudah beda
:-)
> Kalau di gathuk-gathuk atau kirata basa sundana, penghayatan berasal dari
kata
> hayat, jadi arahnya barangkali bagaimana seluruh aspek hayat, hidup (hati,
> lisan, amal) selaras dalam nafas ajaran. Pengamalan hanya satu aspek saja
dari
> penghayatan.
>
> Kira-kira maksud saya semakin murni penghayatan berarti semakin tinggi
keimanan.
> Iman itu kan barangkali nggak hanya meyakini thok, Pak, tapi ada
gradasinya.
> Dalam Qur'an gradasinya secara garis besarnya kira-kira ialah Iman taqlid,
Iman
> Ilmu, dan Iman Ainal Yaqin. Mengenai makna ainal yaqin barangkali bisa
dibaca
> penjelasan para ulama misalnya Allamah Ibnu Qayyim rohimahullah dalam
kitab Al
> Fawa'id bab-bab awal.
>
> Ketika dikatakan umat Islam meyakini Isra' Mi'raj, maka bisa ditilik lagi
: umat
> Islam yang mana yang keyakinannya (tingkat keimanannya) seperti apa ?
>
> Nah beda tingkat keimanan kan berarti beda input, Pak. Meskipun prosesnya
sama
> ya jelas outputnya bakal beda juga. Penjelasan Ibnu Qayyim dalam kitab Al
> Fawa'id tersebut ketika membedah tafsir surah Qof ayat 37 itu sangat
menarik.
>
> Maksud saya, ketika kita belum optimal mengambil manfaat dari kitab-kitab
tafsir
> yang ada, yang sebenarnya mengandung lautan ilmu, karena tingkat keimanan
yang
> masih biasa-biasa saja, kenapa tidak dicoba dulu membaca ulang setelah
> ditingkatkan keimanannya. Biasanya akan muncul *rahasia-rahasia* yang
belum
> terungkap pada pembacaan sebelumnya. Sebelum buru-buru *loncat* menerjuni
> samudra tafsir yang baru, belum tentu juga didapat solusi yang segar
karena
> *rahasia-rahasia*nya belum terungkap secara utuh.
>
> Wallahu'alam,
>
> = Wizh =
>
>
>
>
>
> Please respond to Milis is-lam <[email protected]>
>
> To:   "Milis is-lam" <[email protected]>
> Subject:  RE: [is-lam] Bagaimana 'Beragama' Yang Benar....
>
>
>
> Assalamu'alaikum wr. wb.
>
> Sebelumnya terimakasih atas komentarnya.
>
> -----Original Message-----
> Wa 'alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.
>
> >Pak Agus, Insya Allah kalau ajaran Dien ini dijalankan dengan PENGHAYATAN
yang
> >murni, maka hati bisa bercahaya sehingga amal yang dilakukan ibarat buah
yang
> >manis rasanya - menggugah bagi siapa pun yang memandangnya. Jadi
barangkali ini
> >persoalan utama umat Islam kontemporer. Ajaran memang sudah mapan sejak
jaman
> >Nabi, tapi penghayatan itu yang berproses sampai ke liang kubur bagi
manusia
> >dari tiap-tiap jaman.
>
> Supaya lebih jelas gimana pengertian PENGHAYATAN menurut Pak Wiz, apakah
> PENGHAYATAN identik dengan PENGAMALAN?
>
>
> >Jaman sekarang ajaran Dien memang banyak dikaji dan didiskusikan, dibedah
> sampai
> >ke hal-hal kecil. Namun apakah sudah dihayati sampai Ainul Yaqin ?
>
> Bukankah kita umat Islam yakin dengan Isra' dan Mi'raj walaupun tidak
> melihatnya??
>
> >Bukan salah kajian dan pembahasannya ketika dampak amal tidak semanis
ketika
> >didiskusikan, karena kurang penghayatan. Yang perlu diperbaiki ya
> penghayatannya
> >dong !
>
> Pertama saya tidak menyalahkan kajian lho pak, kedua kalo INPUT sudah
benar,
> kenapa OUTPUT nya kurang/tidak benar?.
>
> Bukankah dalam Teori Dasar System ada yang namanya Input Process Output?
> Artinya antara Input dan Output di jembatani oleh Process, bener gak pak?
>
> >Misalnya ketika keimanan kepada Allah Ar Rozaq telah dima'rifati sampai
> >menghunjam, seharusnya orang tidak perlu dipaksa-paksa pakai rekayasa
aturan
> >seperti *zakat profesi* untuk mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Yang
perlu
> >ditingkatkan ya penghayatannya.
>
> Hehehe.. sensitive yah... ya gak apa pak, kalo gak setuju..mudah-mudahan
> Ibnu Umar r.a. bukan termasuk orang yang suka merekayasa, atawa memaksa.
>
> >Itu barangkali *menurut saya*,
>
> Trimaksih untuk pendapatnya.
>
>  maka ini*menurut Allah* : (QS. Al-Ankabut)
>
> <1> Alif laaf miim.
>
> SAYA MENGIMANI
>
> <2> Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:
"Kami
> telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
>
> SAYA MENGIMANI
>
> <3> Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka
> sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia
> mengetahui orang-orang yang dusta.
>
> SAYA MENGIMANI
>
> <4> Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa
mereka akan
> luput dari (azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.
>
> SAYA MENGIMANI
>
> <5> Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya
waktu
> (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dia-lah yang Maha Mendegar
lagi
> Maha Mengetahui.
>
> SAYA MENGIMANI
>
> <6> Dan barangsiapa yang berjihad (*laku* kalau bahasa Jawanya), maka
> sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah
> benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta.
>
> SAYA MENGIMANI
>
> <7> Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami
> hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri
mereka
> balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.
>
> SAYA MENGIMANI
>
> Selama masih ada keimanan walaupun sedikit dalam hati, 'saya kira' semua
> umat Islam meyakini bahwa al-Qur'an adalah PERKATAAN-NYA, itulah kenapa
> disebut ayat-ayat Qauliyah, seperti yang pernah saya tulis di milis ini.
>
> Yang ingin saya soroti adalah kenapa umat Islam selalu terpaku pada
> tafsir-tafsir dari orang-orang salaf(terdahulu), kenapa kita takut
> menafsiri ayat-ayat al-Qur'an dengan konteks KEKINIAN kalo misalnya
> ILMU nya ada.
> Adakah jaminan bahwa TAFSIR-TAFSIR tersebut mutlak benar??
>
> Bukankah kita semua tahu bagaimana krisis kekinian dari umat ini?
> Bukankah Pak Wiz juga meyakini kalo al-Quran itu adalah Petunjuk
> bagi Manusia, hanya saja kalo menurut bapak al-Quran itu petunjuk
> untuk sekarang(dunia), nanti (akhirat) atau keduanya (dunia dan akhirat)?
>
> Mohon pencerahannya.
>
>
> >Mudah-mudahan kita semua mendapatkan petunjuk dan bimbingan dari Allah.
>
> Amin.
>
> a.s.
>
> = Wizh =
>
>
>
>
> _______________________________________________
> is-lam mailing list
> [email protected]
> http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam


_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke