HYPERLINK "http://www.republika.co.id/email/1762.html"EmailSend HYPERLINK "http://www.republika.co.id/print/1762.html##"PrintPrint HYPERLINK "http://www.republika.co.id/print/1762.html##"PrintTutup
Tak Peduli Halal-Haram By Danarto Minggu, 07 September 2008 pukul 12:03:00 HYPERLINK "http://www.republika.co.id/print/1762.html"http://www.republika.co.id/print /1762.html Bakal datang kepada manusia suatu masa, di mana orang tiada peduli akan apa yang diambilnya; apakah dari yang halal ataukah dari yang haram. Nabi Muhammad SAW Maraknya perilaku yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh kekuasaan dan kekayaan dewasa ini apakah merupakan pertanda bahwa zaman yang diisyaratkan Nabi SAW itu sudah datang? Para ustad, guru, dan cendekiawan sudah mensinyalir hadirnya zaman itu dalam khotbah-khotbahnya. Di masjid, di pengajian, di kantor, di sekolah, di ruang diskusi, semua orang membicarakan tentang penghalalan segala cara dalam mencapai cita-cita. Jika memang benar, alangkah berbahayanya zaman ini. Suatu zaman yang tak menentu, yang selalu goyah seperti sedang ditimpa gempa. Kita yang hidup di zaman seperti ini menjadi penuh tanda tanya. Apakah sepak-terjang kita dalam mencari nafkah sehari-harinya sudah terimbas oleh zaman itu pula? Hadis riwayat Bukhari di atas memperingatkan kita betapa tata nilai telah bergeser sangat cepat yang mengakibatkan kita merespon zaman dengan persepsi yang sangat berbeda. Ketika tangan kita melindungi harta kita sendiri, bisa jadi tangan kita itu tiba-tiba ditepiskan tangan orang lain yang ingin merebut kekayaan kita itu. Rupanya batas-batas kekayaan kita dengan kekayaan orang lain sudah dianggap kabur. Jika kita tak mampu membedakan lagi barang halal dengan barang haram, sesungguhnya dunia kita sudah ''kiamat''. Lalu kepada siapa masyarakat mengadu untuk menuntut keadilan, kemakmuran, kebenaran? Mampukah masyarakat menolong dirinya sendiri untuk melindungi kekayaannya? Agaknya perjuangan para ustad, guru, dan cendekiawan dewasa ini sudah bergeser ke arah penegakan akhlak. Tegaknya akhlak yang baik mampu menerbitkan keadilan, kemakmuran, dan kebenaran. Ketiga martabat kearifan yang diperjuangkan manusia berabad-abad lamanya atas sesamanya itu sungguh selaras dengan kehendak Tuhan. Sebuah kisah diceritakan dalam buku Kasyful Mahjub karya Ali ibn Utsman Al-Hujwiri tentang Abu Halim Habib bin Salim Al-Ra'i, seorang sufi sahabat Salman Al-Farisi. Ia bisa menjinakkan segerombolan serigala yang sebenarnya meneteskan air liur ketika melihat biri-birinya yang ia gembalakan di tepi Sungai Eufrat. Ia juga mampu memancurkan air susu dan air madu dari sebongkah batu yang ia suguhkan bagi tamunya. Menurut sang sufi, hal itu mampu dikerjakannya karena hasratnya selaras dengan kehendak Allah dan taat kepada Rasulullah Muhammad SAW. Ketika seorang sheikh memintanya memberi wejangan, Al-Ra'i berkata: ''Jangan jadikan hatimu keranjang keinginan hawa nafsu dan perutmu periuk barang-barang haram.'' (ah) _____ From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Tejosuroso Sent: Saturday, December 06, 2008 1:26 PM To: [email protected] Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c7| (khalas .. ma salama) Jadi...., para hadirin sekalian...., selamat dan celaka kita sudah “tertulis”.... Yang bernama ikhtiar itu sejatinya adalah kosong... Dosa dan pahala juga adalah semu... Semua sudah tertulis... Entah nyambung apa tidak, tetapi penjelasan demi penjelasan yang saya dapat di forum ini adalah ketiadaan hal lain selain Dia SWT. Dia Tulis semuanya dengan Ketentuan-Nya yang serba pasti. Dia pula Ciptakan segala hal dari Dzat-Nya..... Selain Dia ternyata adalah kosong belaka... Nuwun; Tejosuroso From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of AFR Sent: 06 Desember 2008 15:12 To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected] Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c7| (khalas .. ma salama) sebenarnya memahami/mengimani qadla' & qadr itu tidak tepat ada pembedaan sbgmana jabariyah & qadariyah. yg namanya taqdir adalah taqdir yg sdh tetap, tidak ada perubahan, stabil & sdh tergariskan. jadi lupakan jabariyah atw qadariyah agar tak bias. taqdir pun itu tidak cuma mengatur urusan manusia saja, bahkan gugurnya daun2an, jatuhnya bijian tanam2an di kegelapan bumi, kemana arah hembusan angin, turunnya hujan .. diatur dlm kitab yg sama di Lauh Mahfudz. mengimani rukun 6 sedemikian itu diharapkan, jgn muslim itu merasa bangga diri ketika mampu menguak depan yg dgn serba kebetulan saja, baik itu modal pemikiran analitik atw pun dgn alat bantu apapun kreasi manusia. bolehnya prediksi ke depan itu hanya sebatas perlu utk memicu semangat hidup, BUKAN utk mengantarkan pd kesombongan diri seolah hendak katakan 'kami manusia mampu merubah ini ... ' khalas ... ma salama salam, Fahru _____ From: Bango Samparan <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, December 5, 2008 1:23:50 PM Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah --c| Wah pseudo problem ini memang susah yah:-) Kalau saya lalu saya made simple, soalnya saya dulu suka baca buku komputer yang ... made easy. Memandang Allah sebagai ilah, maka saya qadariyah, semua harus saya capai dengan upaya. Memandang Allah sebagai rabb, maka saya jabariah, semua yang saya lakoni, proses dan hasilnya adalah ketentuan Allah semua. Salam hangat B. Samparan _______________________________________________ Is-lam mailing list HYPERLINK "mailto:[email protected]" [EMAIL PROTECTED] HYPERLINK "http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam" \nhttp://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam No virus found in this incoming message. Checked by AVG. Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.9.15/1833 - Release Date: 12/5/2008 7:08 PM No virus found in this outgoing message. Checked by AVG. Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.9.15/1833 - Release Date: 12/5/2008 7:08 PM
<<image001.jpg>>
<<image002.jpg>>
<<image003.gif>>
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
