Iya, saya paham maksud anda dan saya yakin teman2 di milist islam ini yang 
pendatang pastinya punya kualifikasi dan track record yang bagus dan tidak 
masuk ke dalam golongan yang saya sebutkan di email yang lain.

Memang akar permasalahannya seperti yang dibilang Pak Hamami (ada gula ada 
semut), namun untuk memperoleh gula tersebut harus memiliki ketrampilan serta 
pendidikan yang cukup. Sehingga "semut2" itu mampu bersaing satu sama lainnya. 
Untuk "semut2" yang tidak memiliki kemampuan apa2, pendidikan rendah serta 
tidak punya relasi di ibukota, jangan harap mampu bersaing di ibukota, yang ada 
hanya akan menjadi gelandangan disini. 

Kalau kita hanya bergantung kepada pemerintah saja, akan sulit saya kira. Untuk 
masalah ini diperlukan kesadaran tingkat tinggi dari segenap lapisan 
masyarakat, khususnya kelompok masyarakat yang saya sebutkan diatas.  Sebaiknya 
untuk "semut2" yang saya maksud diatas, lebih baik membangun desanya sendiri 
dengan bercocok tanam atau memelihara kelestarian hutan atau apalah. Lah... 
kalau semua "semut" desa mau ke ibukota semua, siapa yang akan menjadi petani 
untuk "menghidupi" "semut2" yang lain ?  Siapa yang akan menjadi nelayan ? 

Walhasil, Indonesia akan terus Import beras serta hasil alam lainnya ke 
Thailand, Vietnam dan negara2 lain, yang sesungguhnya di Indonesia sendiri amat 
banyak (zaman dulu)....

Bukankah ALLOH telah memberikan penghidupan di muka bumi ? Di mana saja, entah 
di desa, entah di kota, di gunung, laut. Hanya saja kitanya yang kurang 
mensyukuri nikmat yang diberikan olehNYA apa2 yang ada di bumi dan apa2 yang 
ada dilangit serta diantara keduanya. Dan janganlah kita membuat kerusakan 
bumi, mari kita pelihara alam kita, jangan ditinggalkan.

Allohua'lam....



Afwan.... disini saya menggunakan analogi semut dan pemerannya saya ganti 
dengan semut, mengikuti analogi Pak Hamami (ada gula ada semut). Maaf bial ada 
yang kurang berkenan.



  ----- Original Message ----- 
  From: hamami 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, December 11, 2008 9:30 AM
  Subject: Re: [is-lam] Pindahkan Ibukota dari Jakarta!


   

  Saya punya analogi berkaitan dengan nasehat orang tua kita "Ada gula ada 
semut" :

   

  Yang menyebabkan semut itu berkumpul, karena adanya gula ditempayan.

  Agar semut tidak berkumpul semua disitu, bukan tempayannya yang dipindahkan, 
gulanya saja disebar ke beberapa tempat atau ketempayan yang lainnya, bukan 
tempayannya yang dipindahkan.

   

  Alasan klasik yang sering dipakai untuk mencari kambing hitam penyebab 
kesemrawutan di Jakarta biasanya adalah:

   

  "Banyaknya pendatang-pendatang yang memutuskan "mengadu nasib" di Jakarta 
namun mereka tidak memiliki ketrampilan apa2 serta berpendidikan yang rendah. 
Sehingga mereka ini, menetap di tempat2 yang sebenarnya dilarang oleh 
Pemerintah. 

  Misalnya di kolong2 jembatan, di pinggiran kali serta di lahan kosong milik 
pemerintah atau milik instansi swasta. Hal ini dapat menimbulkan pemandangan 
yang tidak enak dilihat mata untuk kota Jakarta yang katanya kota Megapolitan.

  Pada saat pemukiman2 liar tersebut ditertibkan oleh Pemerintah, mereka dengan 
sepenuh jiwa mempertahankan "tanah" mereka, melawan aparat yang hendak 
mengeksekusi tempat tinggal mereka, walhasil semakin banyaklah preman2, 
gelandangan, pengemis de el el.

  Di bantaran kali Ciliwung misalnya, banyak dari mereka yang membuang sampah 
sembarangan, sehingga menyebabkan kebanjiran yang besar di Jakarta"

   

  Dimiliki atau tidaknya keterampilan oleh para pendatang itu bukanlah penyebab 
utama kesemrawutan. Dalam mengatasi suatu masalah, sering kita hanya melihat 
dari dampak yang ditimbulkannya. Kita tidak melihat "akar" masalahnya. 

   

  Mengapa mereka tidak mengadu nasib di Pontianak, Ambon, Jambi, atau daerah 
mereka sendiri misalnya. Jawabannya jelas, Jakarta lebih menjanjikan untuk 
mereka dibanding tempat lainnya. Kalau kita tanya kepada beberapa orang 
diantara mereka yang "kita anggap" sebagai penyumbang kesemrawutan Jakarta 
dengan pertanyaan "kenapa anda ke Jakarta meskipun dengan kehidupan hanya 
seperti ini?" Jawabannya bisa kita terka "Yah...terpaksa, pak". Apa dan siapa 
yang memaksa mereka? Jawabanya akan makin panjang...

   

  Wassalam

  Hamami 

   

  -----Original Message-----
  From: Achmad Saidi [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Thursday, December 11, 2008 8:48 AM
  To: [email protected]
  Subject: Re: [is-lam] Pindahkan Ibukota dari Jakarta!

   
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke