Mas Ham,

 

Saya ingin menambahkan pengelompokannya :

Jakarta saat ini meiliki fungsi sbb :

1.  Administrasi Dan Birokrasi Negara

2.  Bisnis Dan Industri

3.  Wisata Dan Pusat Pendidikan

 

 

 

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of hamami
Sent: Thursday, December 11, 2008 12:54 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [is-lam] Pindahkan Ibukota dari Jakarta!

 

Coba kita klasifikasikan aktifitas yang ada di Ibu Kota Negara Jakarta ini. 

 

Saya hanya dapat mengelompokkannya dalam 2 bagian:

 

 

 

-  Administrasi atau Birokrasi Kenegaraan

 

-  Bisnis dan Industri 

 

 

 

Dari ketiga aktifitas diatas, mana yang paling dominan menciptakan/membuat
masyarakat tertarik untuk datang ke Jakarta., yang mengakibatkan kepadatan
penduduknya meningkat dengan segala konsekuensinya ini.

 

 

 

Aktifitas yang berkaitan dengan Adm. dan Birokrasi kenegaraan, tidak banyak
orang yang berkecimpung disitu, itu hanya untuk kalangan tertentu dan
terbatas.

 

Beda dengan Bisnis dan Industri, inilah yang menjadi magnet bagi masyarakat
untuk mewujudkan impiannya.

 

Sehingga ber-bondong2 orang berusaha untuk dapat terlibat disitu.

Kalaupun mereka tidak dapat terlibat secara langsung (yang dikatakan P'

Saidi harus memiliki keterampilan tertentu) melibatkan diri
dipinggirannyapun sudah cukup untuk mereka dapat bertahan hidup yang mungkin
tidak akan mereka dapatkan ditempat lain atau daerah asalnya.

 

 

 

Contoh:

 

Adanya pemulung, pedagang kaki lima, pengojek, dan berbagai aktifitas social
ekonomi lainnya yang merupakan kegiatan informal, itu semua adalah komplemen
dari adanya aktifitas Bisnis atau Industri itu.

 

Dan sebagian besar yang berada pada komplemen itu "tidak" begitu memerlukan
keterampilan yang njlimet2 amat, sehingga banyak orang bisa melakukannya.

 

 

 

Dilain sisi, langsung ataupun tidak langsung orang yang berada dilingkaran
"pemulung, pedagang kaki lima, pengojek, sopir angkot dll"

itu, kenyataannya juga dibutuhkan oleh pelaku Bisnis atau Industri itu.

 

 

 

Sebagaimana kita ketahui, dampak yang timbul di Jakarta itu tidak

se-mata2 ditimbulkan oleh warga Jakarta, Aktifitas Bisnis dan Industri yang
ada disekitarnya (Bogor, Tangerang, dan Bekasi khususnya) nampaknya itu
lebih dominan. 

 

 

 

Kalau saja kawasan Industri seperti yang ada disekitar Jabotabek itu, juga
ada di Kalimantan, atau Sulawesi, atau Sumatera, insya-Allah akan dapat
mengurangi masalah yang selama ini hanya dirasakan oleh JAKARTA.

 

 

 

Jadi intinya, saya ingin mengatakan "Batasi sudah pengembangan aktifitas
Bisnis dan Industri di Jawa secara umum dan JABODETABEK khususnya" 

 

Cobalah lirik tempat lain diluar Jawa. 

 

Kapan, sih kemakmuran atau kemajuan daerah akan merata dan dirasakan bersama
oleh masyarakat kalau segala sesuatunya selalu terpusat di Jawa...? Wajar
kalau Jawa, JABODETABEK khusunya selalu menjadi tujuan banyak orang meskipun
dengan kemampuan diri yang pas2an.  

 

 

 

Wassalam

 

Hamami

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

________________________________

 

From: Suwarno [mailto:[EMAIL PROTECTED]

Sent: Thursday, December 11, 2008 10:35 AM

To: [email protected]

Subject: Re: [is-lam] Pindahkan Ibukota dari Jakarta!

 

 

 

Betul apa kata pak Saidi, tapi yang jadi topic awal kan tentang keamacetan
dan kepadatran penduduk di Jabotabek sekarang ini..

 

Kalau kita lihat yang memenuhi jalanan ibukota saat ini bukan "semut"

yang sperti pak Saidi sebutkan tapi malah justru "semut" yang punya
ketrampilan atau pendidikan cukup yang mampu mencicipi manisnya "gula"

ibukota. Jadi tetap saja jadi masalah...

 

Nah dengan memindahkan ibukota harapannya "gula" yang tadinya numplek di
ibukota jadi sedikit berpindah ke ibukota yang baru. Karena Jakadta dsktrnya
masih tetep jadi kawasan bisnis, jadi masih tetep banyak "

gula", sedangkan untuk "gula" administratif dipindah ke ibukota yang baru. 

 

Jadi ibukota baru nantinya hanya menjadi pusat admisnitrasi.

 

 

 

Menyinggung masalah pertanian sedikit pak, sperti yang pak Saidi singgung.

 

Waduh pak... nasib petani di Indonesia saat ini sanagt miris pak.

 

Udah harga GKP (Gabah Kering Panen) yang rendah, harga pupuk yang tinggi
itupun sering terjadi kelangkaan pupuk disana sini.

 

Untuk membeli pupuk harus didata dulu, kalau gak ada data nya harus pake
KTP, itupun kalau jatah yang didata masih ada sisa baru dapet.

 

Sepertinya, perhatian pemerintah untuk masalah pertanian harus ditingkatkan
lagi dech.

 

 

 

Wallahu a'lam.

 

 

 

________________________________

 

From: [EMAIL PROTECTED]

[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Achmad Saidi

Sent: Thursday, December 11, 2008 10:40 AM

To: [email protected]

Subject: Re: [is-lam] Pindahkan Ibukota dari Jakarta!

 

 

 

Iya, saya paham maksud anda dan saya yakin teman2 di milist islam ini yang
pendatang pastinya punya kualifikasi dan track record yang bagus dan tidak
masuk ke dalam golongan yang saya sebutkan di email yang lain.

 

 

 

Memang akar permasalahannya seperti yang dibilang Pak Hamami (ada gula ada
semut), namun untuk memperoleh gula tersebut harus memiliki ketrampilan
serta pendidikan yang cukup. Sehingga "semut2" itu mampu bersaing satu sama
lainnya. Untuk "semut2" yang tidak memiliki kemampuan apa2, pendidikan
rendah serta tidak punya relasi di ibukota, jangan harap mampu bersaing di
ibukota, yang ada hanya akan menjadi gelandangan disini. 

 

 

 

Kalau kita hanya bergantung kepada pemerintah saja, akan sulit saya kira.
Untuk masalah ini diperlukan kesadaran tingkat tinggi dari segenap lapisan
masyarakat, khususnya kelompok masyarakat yang saya sebutkan diatas.
Sebaiknya untuk "semut2" yang saya maksud diatas, lebih baik membangun
desanya sendiri dengan bercocok tanam atau memelihara kelestarian hutan atau
apalah. Lah... kalau semua "semut" desa mau ke ibukota semua, siapa yang
akan menjadi petani untuk "menghidupi"

"semut2" yang lain ?  Siapa yang akan menjadi nelayan ? 

 

 

 

Walhasil, Indonesia akan terus Import beras serta hasil alam lainnya ke
Thailand, Vietnam dan negara2 lain, yang sesungguhnya di Indonesia sendiri
amat banyak (zaman dulu)....

 

 

 

Bukankah ALLOH telah memberikan penghidupan di muka bumi ? Di mana saja,
entah di desa, entah di kota, di gunung, laut. Hanya saja kitanya yang
kurang mensyukuri nikmat yang diberikan olehNYA apa2 yang ada di bumi dan
apa2 yang ada dilangit serta diantara keduanya. Dan janganlah kita membuat
kerusakan bumi, mari kita pelihara alam kita, jangan ditinggalkan.

 

 

 

Allohua'lam....

 

 

 

 

 

 

 

Afwan.... disini saya menggunakan analogi semut dan pemerannya saya ganti
dengan semut, mengikuti analogi Pak Hamami (ada gula ada semut).

Maaf bial ada yang kurang berkenan.

 

 

 

 

 

 

 

      ----- Original Message ----- 

 

      From: hamami <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  

 

      To: [email protected] 

 

      Sent: Thursday, December 11, 2008 9:30 AM

 

      Subject: Re: [is-lam] Pindahkan Ibukota dari Jakarta!

 

       

 

       

 

      Saya punya analogi berkaitan dengan nasehat orang tua kita "Ada gula
ada semut" :

 

       

 

      Yang menyebabkan semut itu berkumpul, karena adanya gula ditempayan.

 

      Agar semut tidak berkumpul semua disitu, bukan tempayannya yang
dipindahkan, gulanya saja disebar ke beberapa tempat atau ketempayan yang
lainnya, bukan tempayannya yang dipindahkan.

 

       

 

      Alasan klasik yang sering dipakai untuk mencari kambing hitam penyebab
kesemrawutan di Jakarta biasanya adalah:

 

       

 

      "Banyaknya pendatang-pendatang yang memutuskan "mengadu nasib"

di Jakarta namun mereka tidak memiliki ketrampilan apa2 serta berpendidikan
yang rendah. Sehingga mereka ini, menetap di tempat2 yang sebenarnya
dilarang oleh Pemerintah. 

 

      Misalnya di kolong2 jembatan, di pinggiran kali serta di lahan kosong
milik pemerintah atau milik instansi swasta. Hal ini dapat menimbulkan
pemandangan yang tidak enak dilihat mata untuk kota Jakarta yang katanya
kota Megapolitan.

 

      Pada saat pemukiman2 liar tersebut ditertibkan oleh Pemerintah, mereka
dengan sepenuh jiwa mempertahankan "tanah" mereka, melawan aparat yang
hendak mengeksekusi tempat tinggal mereka, walhasil semakin banyaklah
preman2, gelandangan, pengemis de el el.

 

      Di bantaran kali Ciliwung misalnya, banyak dari mereka yang membuang
sampah sembarangan, sehingga menyebabkan kebanjiran yang besar di Jakarta"

 

       

 

      Dimiliki atau tidaknya keterampilan oleh para pendatang itu bukanlah
penyebab utama kesemrawutan. Dalam mengatasi suatu masalah, sering kita
hanya melihat dari dampak yang ditimbulkannya. Kita tidak melihat "akar"
masalahnya. 

 

       

 

      Mengapa mereka tidak mengadu nasib di Pontianak, Ambon, Jambi, atau
daerah mereka sendiri misalnya. Jawabannya jelas, Jakarta lebih menjanjikan
untuk mereka dibanding tempat lainnya. Kalau kita tanya kepada beberapa
orang diantara mereka yang "kita anggap" sebagai penyumbang kesemrawutan
Jakarta dengan pertanyaan "kenapa anda ke Jakarta meskipun dengan kehidupan
hanya seperti ini?" Jawabannya bisa kita terka "Yah...terpaksa, pak". Apa
dan siapa yang memaksa mereka?

Jawabanya akan makin panjang...

 

       

 

      Wassalam

 

      Hamami 

 

       

 

      -----Original Message-----

      From: Achmad Saidi [mailto:[EMAIL PROTECTED] 

      Sent: Thursday, December 11, 2008 8:48 AM

      To: [email protected]

      Subject: Re: [is-lam] Pindahkan Ibukota dari Jakarta!

 

       

 

 

 

__________ NOD32 3360 (20080815) Information __________

 

This message was checked by NOD32 antivirus system.

http://www.eset.com

 

 

Euweuh Virusan Euy...!

Checked by AVG - http://www.avg.com

Version: 8.0.200 / Virus Database: 270.9.16/1841 - Release Date: 12/10/2008
9:30 AM

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke