Andaikan sebagian saja FUNGSI yang disandang oleh Jakarta dipindahkan ke tempat
lain, dan itu bukan di pulau Jawa, katakanlah ke Kalimantan, Sulawesi atau
ekstrim nya ke IRIAN/PAPUA. Fungsi "yang paling mudah dipindahkan adalah
sebegai PUSAT PEMERINTAHAN alias IBUKOTA NEGARA. Bila ini terjadi maka :
* Pemerintah pusat akan "DIPAKSA" mengalokasikan dana (walaupun ini
rawan korupsi) untuk membangun infrastruktur" di tempat yang baru. Ikutannya
pasti banyak, tercipta lapangan kerja baru, daerah tersebut akan jadi "pusat
perhatian" perwa, bukan hanya di kelas penduduk golongan lemah yang selama ini
ditransmigrasi, tetapi kalangan terdidik dan intelektual yang bekerja di pusat
pemerintah. Diharapkan nantinya kualitas tenaga kerja di daerah tersebut akan
meningkat.
* Kalau infrastruktur terbangun tentu akan memancing investasi industri
berbasis teknologi, bukan industri yang melakukan "penjarahan kekayaan alam dan
mineral" seperti yang selama ini terjadi
Tentu akan banyak manfaat lainnya walaupun pasti ada dampak negatifnya.
Karenanya penentuan ketempat mana salah satu fungsi yang disandang oleh Jakarta
itu akan ditempatkan. Perlu ada perencanaan matang menyangkut dampak
sosial/budaya serta lingkungan yang harus diperhatikan agar pemindahan tersebut
tidak menimbulkan gegar budaya bagi masyarakat lokal.
.Kalau saya pribadi, lebih cenderung memilih Kalimantan atau Irian. Kedua pulau
itu sangat kaya, jadi dengan hasil kekayaan alamnya saja (minyak, batu bara,
dll) bisa mendanai pembangunan IBUKOTA NEGARA yang baru.
Harlina R. Koestoer
http://shaphira.multiply.com
________________________________
From: hamami <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, December 11, 2008 9:30:22 AM
Subject: Re: [is-lam] Pindahkan Ibukota dari Jakarta!
Saya punya analogi berkaitan dengan nasehat orang tua
kita "Ada
gula ada semut" :
Yang menyebabkan semut itu berkumpul, karena adanya
gula ditempayan.
Agar semut tidak berkumpul semua disitu, bukan
tempayannya yang dipindahkan, gulanya saja disebar ke beberapa tempat atau
ketempayan
yang lainnya, bukan tempayannya yang dipindahkan.
Alasan klasik
yang sering dipakai untuk mencari kambing hitam penyebab kesemrawutan di Jakarta
biasanya adalah:
“Banyaknya pendatang-pendatang yang
memutuskan "mengadu nasib" di Jakarta namun mereka tidak memiliki
ketrampilan apa2 serta berpendidikan yang rendah. Sehingga mereka ini, menetap
di tempat2 yang sebenarnya dilarang oleh Pemerintah.
Misalnya di kolong2 jembatan, di pinggiran kali serta di lahan
kosong milik pemerintah atau milik instansi swasta. Hal ini dapat menimbulkan
pemandangan yang tidak enak dilihat mata untuk kota Jakarta yang katanya kota
Megapolitan.
Pada saat pemukiman2 liar tersebut ditertibkan oleh Pemerintah,
mereka dengan sepenuh jiwa mempertahankan "tanah" mereka, melawan
aparat yang hendak mengeksekusi tempat tinggal mereka, walhasil semakin
banyaklah preman2, gelandangan, pengemis de el el.
Di bantaran kali Ciliwung misalnya, banyak dari mereka yang
membuang sampah sembarangan, sehingga menyebabkan kebanjiran yang besar di
Jakarta”
Dimiliki atau
tidaknya keterampilan oleh para pendatang itu bukanlah penyebab utama
kesemrawutan. Dalam mengatasi suatu masalah, sering kita hanya melihat dari
dampak
yang ditimbulkannya. Kita tidak melihat “akar” masalahnya.
Mengapa mereka
tidak mengadu nasib di Pontianak, Ambon, Jambi, atau daerah mereka sendiri
misalnya. Jawabannya jelas, Jakarta lebih menjanjikan untuk mereka dibanding
tempat lainnya. Kalau kita tanya kepada beberapa orang diantara mereka yang
“kita
anggap” sebagai penyumbang kesemrawutan Jakarta dengan pertanyaan “kenapa
anda ke Jakarta meskipun dengan kehidupan hanya seperti ini?” Jawabannya
bisa kita terka “Yah…..terpaksa, pak”. Apa dan siapa yang memaksa
mereka? Jawabanya akan makin panjang…..
Wassalam
Hamami
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam