Betul apa kata pak Saidi, tapi yang jadi topic awal kan tentang keamacetan dan kepadatran penduduk di Jabotabek sekarang ini..
Kalau kita lihat yang memenuhi jalanan ibukota saat ini bukan "semut" yang sperti pak Saidi sebutkan tapi malah justru "semut" yang punya ketrampilan atau pendidikan cukup yang mampu mencicipi manisnya "gula" ibukota. Jadi tetap saja jadi masalah... Nah dengan memindahkan ibukota harapannya "gula" yang tadinya numplek di ibukota jadi sedikit berpindah ke ibukota yang baru. Karena Jakadta dsktrnya masih tetep jadi kawasan bisnis, jadi masih tetep banyak "gula", sedangkan untuk "gula" administratif dipindah ke ibukota yang baru. Jadi ibukota baru nantinya hanya menjadi pusat admisnitrasi. Menyinggung masalah pertanian sedikit pak, sperti yang pak Saidi singgung. Waduh pak... nasib petani di Indonesia saat ini sanagt miris pak... Udah harga GKP (Gabah Kering Panen) yang rendah, harga pupuk yang tinggi itupun sering terjadi kelangkaan pupuk disana sini. Untuk membeli pupuk harus didata dulu, kalau gak ada data nya harus pake KTP, itupun kalau jatah yang didata masih ada sisa baru dapet. Sepertinya, perhatian pemerintah untuk masalah pertanian harus ditingkatkan lagi dech... Wallahu a'lam... ________________________________ From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Achmad Saidi Sent: Thursday, December 11, 2008 10:40 AM To: [email protected] Subject: Re: [is-lam] Pindahkan Ibukota dari Jakarta! Iya, saya paham maksud anda dan saya yakin teman2 di milist islam ini yang pendatang pastinya punya kualifikasi dan track record yang bagus dan tidak masuk ke dalam golongan yang saya sebutkan di email yang lain. Memang akar permasalahannya seperti yang dibilang Pak Hamami (ada gula ada semut), namun untuk memperoleh gula tersebut harus memiliki ketrampilan serta pendidikan yang cukup. Sehingga "semut2" itu mampu bersaing satu sama lainnya. Untuk "semut2" yang tidak memiliki kemampuan apa2, pendidikan rendah serta tidak punya relasi di ibukota, jangan harap mampu bersaing di ibukota, yang ada hanya akan menjadi gelandangan disini. Kalau kita hanya bergantung kepada pemerintah saja, akan sulit saya kira. Untuk masalah ini diperlukan kesadaran tingkat tinggi dari segenap lapisan masyarakat, khususnya kelompok masyarakat yang saya sebutkan diatas. Sebaiknya untuk "semut2" yang saya maksud diatas, lebih baik membangun desanya sendiri dengan bercocok tanam atau memelihara kelestarian hutan atau apalah. Lah... kalau semua "semut" desa mau ke ibukota semua, siapa yang akan menjadi petani untuk "menghidupi" "semut2" yang lain ? Siapa yang akan menjadi nelayan ? Walhasil, Indonesia akan terus Import beras serta hasil alam lainnya ke Thailand, Vietnam dan negara2 lain, yang sesungguhnya di Indonesia sendiri amat banyak (zaman dulu).... Bukankah ALLOH telah memberikan penghidupan di muka bumi ? Di mana saja, entah di desa, entah di kota, di gunung, laut. Hanya saja kitanya yang kurang mensyukuri nikmat yang diberikan olehNYA apa2 yang ada di bumi dan apa2 yang ada dilangit serta diantara keduanya. Dan janganlah kita membuat kerusakan bumi, mari kita pelihara alam kita, jangan ditinggalkan. Allohua'lam.... Afwan.... disini saya menggunakan analogi semut dan pemerannya saya ganti dengan semut, mengikuti analogi Pak Hamami (ada gula ada semut). Maaf bial ada yang kurang berkenan. ----- Original Message ----- From: hamami <mailto:[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, December 11, 2008 9:30 AM Subject: Re: [is-lam] Pindahkan Ibukota dari Jakarta! Saya punya analogi berkaitan dengan nasehat orang tua kita "Ada gula ada semut" : Yang menyebabkan semut itu berkumpul, karena adanya gula ditempayan. Agar semut tidak berkumpul semua disitu, bukan tempayannya yang dipindahkan, gulanya saja disebar ke beberapa tempat atau ketempayan yang lainnya, bukan tempayannya yang dipindahkan. Alasan klasik yang sering dipakai untuk mencari kambing hitam penyebab kesemrawutan di Jakarta biasanya adalah: "Banyaknya pendatang-pendatang yang memutuskan "mengadu nasib" di Jakarta namun mereka tidak memiliki ketrampilan apa2 serta berpendidikan yang rendah. Sehingga mereka ini, menetap di tempat2 yang sebenarnya dilarang oleh Pemerintah. Misalnya di kolong2 jembatan, di pinggiran kali serta di lahan kosong milik pemerintah atau milik instansi swasta. Hal ini dapat menimbulkan pemandangan yang tidak enak dilihat mata untuk kota Jakarta yang katanya kota Megapolitan. Pada saat pemukiman2 liar tersebut ditertibkan oleh Pemerintah, mereka dengan sepenuh jiwa mempertahankan "tanah" mereka, melawan aparat yang hendak mengeksekusi tempat tinggal mereka, walhasil semakin banyaklah preman2, gelandangan, pengemis de el el. Di bantaran kali Ciliwung misalnya, banyak dari mereka yang membuang sampah sembarangan, sehingga menyebabkan kebanjiran yang besar di Jakarta" Dimiliki atau tidaknya keterampilan oleh para pendatang itu bukanlah penyebab utama kesemrawutan. Dalam mengatasi suatu masalah, sering kita hanya melihat dari dampak yang ditimbulkannya. Kita tidak melihat "akar" masalahnya. Mengapa mereka tidak mengadu nasib di Pontianak, Ambon, Jambi, atau daerah mereka sendiri misalnya. Jawabannya jelas, Jakarta lebih menjanjikan untuk mereka dibanding tempat lainnya. Kalau kita tanya kepada beberapa orang diantara mereka yang "kita anggap" sebagai penyumbang kesemrawutan Jakarta dengan pertanyaan "kenapa anda ke Jakarta meskipun dengan kehidupan hanya seperti ini?" Jawabannya bisa kita terka "Yah.....terpaksa, pak". Apa dan siapa yang memaksa mereka? Jawabanya akan makin panjang..... Wassalam Hamami -----Original Message----- From: Achmad Saidi [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, December 11, 2008 8:48 AM To: [email protected] Subject: Re: [is-lam] Pindahkan Ibukota dari Jakarta!
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
