Khusus utk Mas Bango yg doyan KPH, tentu masih ingat "Tiga Dara Pendekar Siaw Lim" yaitu Siang Lan, Hwe Lan dan sibungsu Sui Lan (apakah demikain namanya, sudah lama sekali, dulu waktu SMP hingga SMU memang saya suka baca KPH, baru begitu masuk University tak cukup duit kost, maka hobi membaca berhenti utk KPH, tapi tetap membaca dan sering ber-email ria). Pada serial "Tiga Dara Pendekar Siaw Lim" ada kalimat yang sangat menarik diucapkan sangat mendalam artinya yaitu kira-kira "1000 Sahabat Masih Terasa Sedikit, Mengapa Harus Ditambah Seorang Musuh" Saya menulis adalah ingin sharing apa yang pernah dipelajari, terutama dilemma antara seruan Rasulullah agar ilmunya Islam diterima secara KAMIL/ MENYELURUH, tapi what to do, ternyata ummat hanya mengambil penggalan penggalan-nya saja, yaitu Fiqih saja, lalu mengatakan Tauhid Kafir, Fiqih saja lantas mengatakan Tasauf sesat. Maka perlu diambil makna dari Kulit Buku Pengantar Sosilogi. Dimana saya coba rubah paradigma berfikir dengan TIDAK MENILAI, tapi memberikan suatu karakter buat:
* Fiqih, yaitu salah, benar, baik & buruk, orang fiqih tegas (kalau takut dikatakan kaku), kerja Fiqih cenderung mencari KESALAHAN, itu karakter FIQIH. * Tasauf, yaitu akhlak mulia, dan penuh dengan cinta kasih, hidup orang Tasauf adalah indah tanpa beban, sehingga seorang tasauf bisa menikmati hidup yg penuh damai * Tauhid, ilmu ini tidak punya masalah, tapi orang yg belajarnya bisa menimbulkan masalah, baik utk diri sendiri atau juga orang lain Tolong mas Bango, apakah ketiga bullets diatas sesuai dengan target tidak MENILAI atau saya telah salah tulis, sehingga terdapat VALUE didalam bullet diatas. Dengan kita tahu karakter ketiga ilmu diatas Fiqih, Tasauf & Tauhid (FTT) maka akan nampak sekali, ketiga ilmu itu tidak boleh dipisahkan. Ibarat Civil Engineering, STRUKTUR SEGITIGA TERTUTUP adalah Struktur yang paling kokoh. Kalau mau memakan bahasa AWAM, tungku yg terbuat dari 3 buah batu adalah yang terbaik. Kalau hanya dua batu, kuali masak akan tumpah, apa lagi kalau satu batu, malahan kuali tidak bisa diletakan. Makanya tungku untuk memasak adalah 3 batu yang paling kuat. Makanya ketiga ilmu FTT yang punya 3 karakter yang berbeda jika telah dirangkul menjadi satu maka itulah yang diinginkan rasulullah. Silahkan penggemar KPH mas BS kita tunggu komentarnya. Alkhori M Alkhor Community Qatar -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Bango Samparan Sent: Thursday, February 26, 2009 4:37 PM To: [email protected] Subject: Re: [is-lam] Kulit buku sebuah pengantar SOSIOLOGI,sampiran Engineering ajaran Islam Suhu Alkhori ini tampaknya punya jurus langkah ajaib, kayak jagoan di cersil Para Pendekar Negeri Tayli. Abrakadabra, tiba-tiba sudah masuk ke wilayah sosiologi. Saya jadi ingat Masri Singarimbun dan David H. Penny (ejaannya betul nggak ya), yang tak pernah bisa sepakat mengenai apakah Daerah Sriharjo (betul enggak ya lokasi penelitiannya, udah hilang sih bukunya) itu miskin atau tidak. Padahal, dua-duanya sama menggunakan metode participation research, yang cenderung sosiologis. Penny menyatakan Sriharjo miskin, Masri menolaknya. Dan, faktanya banyak hasil penelitian sosiologis pada obyek yang sama menghasilkan paparan realitas yang berbeda. Yah, moga-moga suhu Alkhori - dengan jurus tasaufnya yang bisa membongkar yang tersembunyi itu - bisa menangkap apa yang mau saya katakan. Lagipula suhu Alkhori tampaknya juga harus mengevaluasi, bukankah tulisan-tulisan suhu sendiri bahkan dari awal mengandung kecenderungan untuk melakukan PENILAIAN-PENILAIAN juga. Coba baca saja yang ini: > * Makin sering anda memenangi sebuah diskusi dengan > ber-ARGUMENTASI, > makin sombonglah diri anda dan akan banyak yg merasa tidak > senang, > terjauhlah diri dari DAKWAH > > * Sebaliknya makin banyak anda mengalah, makin SABAR > diri anda dan > makin bertambah matang cara berfikir dan tercapailah cita > cita DAKWAH > seperti yg diinginkan Rasulullah Padahal kalau tak ingin menilai fakta yang harus dikemukakan hanyalah: DIA (SAYA) MENANG BERARGUMENTASI ATAU DIA (SAYA) KALAH BERARGUMENTASI DALAM DISKUSI. Lalu, STOP, jangan ditambah-tambahi soal sabar, mengalah, dll. Nah, tampaknya suhu Alkhori ingin-ingin nih memasukkan diri sendiri pada yang ke kedua kan? Sedangkan yang sedang memberi tanggapan ke tulisan njenengan adalah yang pertama:-) Padahal berkenaan dengan dakwah Islam, KITA YA HARUS MENANG DALAM BERARGUMENTASI, TAPI TIDAK SOMBONG. Rasulullah pun begitu, menaklukkan Mekah tapi masuk dengan tanpa kesombongan. Ayat yang merujuk pada "harus memberi argumentasi yang lebih baik" pun ada kan? Yang susah itu suhu, MENGAKUI KALAH DAN SALAH DENGAN BESAR HATI. Karena salah satu definisi sombong di dalam Islam adalah: MENOLAK KEBENARAN. Salam hangat B. Samparan _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
