2009/2/26 Alkhori M <[email protected]>: > Khusus utk Mas Bango yg doyan KPH,
Yang ribet-ribet saya oper ke mas Bango saja :-) beliau lebih mampu memaparkannya secara lebih elegan kepada saya. Saya fokus yang simpel2 saja. Seperti klaim berikut ini : > Dimana saya coba > rubah paradigma berfikir dengan TIDAK MENILAI Namun yang terjadi adalah : > Ø Fiqih, yaitu salah, benar, baik & buruk, orang fiqih tegas (kalau > takut dikatakan kaku), kerja Fiqih cenderung mencari KESALAHAN, itu karakter > FIQIH. Ya, malah terjadi stereotyping : http://en.wikipedia.org/wiki/Stereotypes Stereotyping bukan hanya sekedar menilai --- namun dia malah berprasangka, dan (amat) bisa terjerumus kepada mendiskriminasi. Nah lho, malah JAUH lebih parah. :-) Seperti kata mas Bango, Fikih itu tidak kaku. Justru fikih itu sangat lentur. Berbeda dengan Tauhid. Jadi, piye mas? Fakta-fakta & logika dasar saja masih keliru. Saya usul kita bisa lebih berhati-hati dalam beragama ini. Kalau tidak, kita malah akan melakukan hal yang persis sama seperti yang kita kritik sendiri. Juga saya usul dalam beragama ini, kita bisa buang jauh-jauh ego kita. Saya kira ini juga adalah salah satu ajaran Tasauf yang utama. Setan sendiri mungkin masih berada di langit -- kalau saja egonya ketika itu tidak naik dan membuatnya kalap. Ego itu juga akan membuat masukan & kritik dari saudaranya sendiri sekalipun tidak bisa diterima. Alih-alih diterima, malah dijawab dengan "tidak membaca semuanya", "hanya dibaca separuh2", dst. Semoga menjelaskan. Salam, HS >tentu masih ingat "Tiga Dara Pendekar > Siaw Lim" yaitu Siang Lan, Hwe Lan dan sibungsu Sui Lan (apakah demikain > namanya, sudah lama sekali, dulu waktu SMP hingga SMU memang saya suka baca > KPH, baru begitu masuk University tak cukup duit kost, maka hobi membaca > berhenti utk KPH, tapi tetap membaca dan sering ber-email ria). Pada serial > "Tiga Dara Pendekar Siaw Lim" ada kalimat yang sangat menarik diucapkan > sangat mendalam artinya yaitu kira-kira "1000 Sahabat Masih Terasa Sedikit, > Mengapa Harus Ditambah Seorang Musuh" Saya menulis adalah ingin sharing apa > yang pernah dipelajari, terutama dilemma antara seruan Rasulullah agar > ilmunya Islam diterima secara KAMIL/ MENYELURUH, tapi what to do, ternyata > ummat hanya mengambil penggalan penggalan-nya saja, yaitu Fiqih saja, lalu > mengatakan Tauhid Kafir, Fiqih saja lantas mengatakan Tasauf sesat. Maka > perlu diambil makna dari Kulit Buku Pengantar Sosilogi. Dimana saya coba > rubah paradigma berfikir dengan TIDAK MENILAI, tapi memberikan suatu > karakter buat: > > Ø Fiqih, yaitu salah, benar, baik & buruk, orang fiqih tegas (kalau > takut dikatakan kaku), kerja Fiqih cenderung mencari KESALAHAN, itu karakter > FIQIH. > > Ø Tasauf, yaitu akhlak mulia, dan penuh dengan cinta kasih, hidup > orang Tasauf adalah indah tanpa beban, sehingga seorang tasauf bisa > menikmati hidup yg penuh damai > > Ø Tauhid, ilmu ini tidak punya masalah, tapi orang yg belajarnya bisa > menimbulkan masalah, baik utk diri sendiri atau juga orang lain > > Tolong mas Bango, apakah ketiga bullets diatas sesuai dengan target tidak > MENILAI atau saya telah salah tulis, sehingga terdapat VALUE didalam bullet > diatas. Dengan kita tahu karakter ketiga ilmu diatas Fiqih, Tasauf & Tauhid > (FTT) maka akan nampak sekali, ketiga ilmu itu tidak boleh dipisahkan. > Ibarat Civil Engineering, STRUKTUR SEGITIGA TERTUTUP adalah Struktur yang > paling kokoh. Kalau mau memakan bahasa AWAM, tungku yg terbuat dari 3 buah > batu adalah yang terbaik. Kalau hanya dua batu, kuali masak akan tumpah, apa > lagi kalau satu batu, malahan kuali tidak bisa diletakan. Makanya tungku > untuk memasak adalah 3 batu yang paling kuat. Makanya ketiga ilmu FTT yang > punya 3 karakter yang berbeda jika telah dirangkul menjadi satu maka itulah > yang diinginkan rasulullah. Silahkan penggemar KPH mas BS kita tunggu > komentarnya. > > > > Alkhori M > > Alkhor Community > > Qatar > > > > -----Original Message----- > From: [email protected] [mailto:[email protected]] > On Behalf Of Bango Samparan > Sent: Thursday, February 26, 2009 4:37 PM > To: [email protected] > Subject: Re: [is-lam] Kulit buku sebuah pengantar SOSIOLOGI,sampiran > Engineering ajaran Islam > > > > Suhu Alkhori ini tampaknya punya jurus langkah ajaib, kayak jagoan di cersil > Para Pendekar Negeri Tayli. Abrakadabra, tiba-tiba sudah masuk ke wilayah > sosiologi. > > > > Saya jadi ingat Masri Singarimbun dan David H. Penny (ejaannya betul nggak > ya), yang tak pernah bisa sepakat mengenai apakah Daerah Sriharjo (betul > enggak ya lokasi penelitiannya, udah hilang sih bukunya) itu miskin atau > tidak. Padahal, dua-duanya sama menggunakan metode participation research, > yang cenderung sosiologis. Penny menyatakan Sriharjo miskin, Masri > menolaknya. Dan, faktanya banyak hasil penelitian sosiologis pada obyek yang > sama menghasilkan paparan realitas yang berbeda. Yah, moga-moga suhu Alkhori > - dengan jurus tasaufnya yang bisa membongkar yang tersembunyi itu - bisa > menangkap apa yang mau saya katakan. > > > > Lagipula suhu Alkhori tampaknya juga harus mengevaluasi, bukankah > tulisan-tulisan suhu sendiri bahkan dari awal mengandung kecenderungan untuk > melakukan PENILAIAN-PENILAIAN juga. Coba baca saja yang ini: > > > >> * Makin sering anda memenangi sebuah diskusi dengan > >> ber-ARGUMENTASI, > >> makin sombonglah diri anda dan akan banyak yg merasa tidak > >> senang, > >> terjauhlah diri dari DAKWAH > >> > >> * Sebaliknya makin banyak anda mengalah, makin SABAR > >> diri anda dan > >> makin bertambah matang cara berfikir dan tercapailah cita > >> cita DAKWAH > >> seperti yg diinginkan Rasulullah > > > > Padahal kalau tak ingin menilai fakta yang harus dikemukakan hanyalah: DIA > (SAYA) MENANG BERARGUMENTASI ATAU DIA (SAYA) KALAH BERARGUMENTASI DALAM > DISKUSI. Lalu, STOP, jangan ditambah-tambahi soal sabar, mengalah, dll. > > > > Nah, tampaknya suhu Alkhori ingin-ingin nih memasukkan diri sendiri pada > yang ke kedua kan? Sedangkan yang sedang memberi tanggapan ke tulisan > njenengan adalah yang pertama:-) > > > > Padahal berkenaan dengan dakwah Islam, KITA YA HARUS MENANG DALAM > BERARGUMENTASI, TAPI TIDAK SOMBONG. Rasulullah pun begitu, menaklukkan Mekah > tapi masuk dengan tanpa kesombongan. Ayat yang merujuk pada "harus memberi > argumentasi yang lebih baik" pun ada kan? > > > > Yang susah itu suhu, MENGAKUI KALAH DAN SALAH DENGAN BESAR HATI. Karena > salah satu definisi sombong di dalam Islam adalah: MENOLAK KEBENARAN. > > > > Salam hangat > > B. Samparan > > > > > > > > _______________________________________________ > > Is-lam mailing list > > [email protected] > > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > > _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
