Taqlid itu kan Iman level paling bawah ya. Ini sama seperti jaman kita-kita dulu waktu masih kecil. Ya dikasih tau orangtua begini ya dikerjain dengan cara seperti yg diajarkan orangtua, tanpa reserve, tak ada pengolahan lebih lanjut... pokoke lakoni. Itu memang pantas utk kematangan usia segitu. Namun dengan berjalannya waktu tentu akan terjadi perkembangan diri, pengalaman hidup bertambah, daya pikir mulai bekerja maksimal, kesadaran akan eksistensi pun mulai diobok-obok (kalo tdk salah ini mirip dalam film Dogma dari Mas Harry). Oleh karena itu dalam Islam menuntut ilmu adalah wajib hukumnya. agar terhindar dari taqlid buta tadi. Cara ibadah bisa saja sama dari kecil sampe dewasa, tapi yg berbeda adalah isi kesadaran dirinya. Sehingga perjalanan dari taqlid, bergerak ke ilmul yakin, trus ke ainul yakin, dan sampe ke puncak haqqul yakin.
Ini mah kata saya yg minim ilmu yak... :) 2009/5/4 Bango Samparan <[email protected]>: > > --- On Mon, 5/4/09, Harry Sufehmi <[email protected]> wrote: > >> Tapi di lain sisi, faktanya, memang mayoritas manusia belum >> mampu >> untuk berpikir kritis. Karena itu mereka membutuhkan >> dogma. >> Karena itu, dalam Islam kita diizinkan untuk taqlid. > > Benar, tapi taqlid di sini ternyata juga ada syaratnya, mengerti nash-nash > yang dijadikan dasarnya. > > Misalnya, seseorang taqlid, ketika tahiyat telunjuk mengacung ke depan dan > digerak-gerakan naik turun, nah dia harus tahu dasar yang dipakai untuk itu. > > Menarik kan, ini ilmunya fuqoha, jadi dalam taqlid-pun tetep ada perilaku > "mesti pinter" juga. > > Salam hangat > B. Samparan > > > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
