On 5/4/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote: > Belanja di pasar tradisional itu bisa banyak ditemui nilai tambah > lho..... apa lagi kalo pasarnya sepi. > Harga misal 1000 maka sampeyan bisa memutuskan bayar 2000, 3000 atau > 5000, meskipun sudah disepakati harganya 1000. Dan itu lah nilai > tambahnya.... he..he..he...
Hehehe... jadi ingat ibu2 / bapak2 yang kalau belanja sayur di abang2 / pasar becek, menawar harganya bisa setengah hidup dan setengah mati. Eeh, begitu ke hipermarket, sayur yang sama dengan harga lebih mahal sama sekali tidak ditawar. Langsung masuk keranjang belanjaan dan dibayar :-) Saya coba lakukan hal yang sama ke abang2 / di pasar becek itu. Ketika itu saya membeli belimbing untuk mertua saya. Saya tanya berapa harga sekilo, si kakek bilang sekian, lalu saya katakan tolong bungkus 2 kilo. Si kakek agak kaget, sepertinya kalau ada yang tidak menawar, justru aneh ya. Sampai di rumah mertua, saya bilang coba timbang belimbing ini, mustinya 2 kilo. Saudara saya lalu bingung karena, biasanya timbangannya selalu kurang, kali ini malah lebih dari 2 kilo :-) Paman saya ada yang menutup peternakan ayamnya karena saingan-saingan beliau memainkan timbangan, dengan cara meningkatkan kadar air di daging ayam produksi mereka. Paman saya tidak mau bermain demikian, dan lebih memilih menutup peternakan ayamnya (total ada ratusan ribu ekor ayam). Alhamdulillah rezekinya tidak lari kemana-mana, kini beliau aktif di agrobisnis dan usaha rental. Lebih murah memang tidak selalu lebih berkah. Salam, HS _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
