On 5/4/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote:
> waduh... secara tdk langsung kog malah jadi pesimis saya... :) :)
> Apalagi beberapa waktu lalu SBY sempat kasih himbauan utk meningkatkan
> perilaku konsumsi masyarakat, dan yang ditunjuk itu bukan pasar becek,
> tapi mall mall besar itu. Pihak mana yg memberikan kontribusi besar
> dalam penerimaan sektor pajak maka ya dialah yg akan dijadikan sebagai
> anak emas. bukan kah begitu polanya Mas?


Eh kalau soal pajak, para pengusaha kecil ini saya kira bisa JAUH
lebih besar kontribusinya dari para peretail gede itu.

Karena mereka tidak punya akuntan, tidak paham loopholes pada sistim
pajak NKRI, dst.

Cuma, kontribusi mereka itu terpencar pada jutaan NPWP. Sedangkan para
peretail besar itu terkonsentrasi pada beberapa NPWP. Jadinya lebih
visible.

Belum lagi kalau kita bicara soal penghidupan masyarakat - betapa amat
banyak rakyat yang terhidupi dari warung-warung kecil itu. Setiap
warung kecil mungkin memberi makan pemilik + istri + 4 orang anaknya +
keponakan + dst.

Anyway, ini adalah bukti kurangnya visibility mereka (pengusaha kecil)
di level politik tingkat atas. Ini adalah PR besar untuk kita semua.



Salam, HS



> 2009/5/4 Harry Sufehmi <[email protected]>:
>> On 5/3/09, Bango Samparan <[email protected]> wrote:
>>> Lha itu, kapital kan juga sudah dapat jatah tho mas. Lha kalau udah
>>> diitung-itung, distribusi marginnya bisa seperti yang njenengan
>>> praktekkan.
>>>
>>> He...he, tapi saya untuk praktek ya masih minim je (itu saja di
>>> penerbitan),
>>> soalnya pembelajaran saya cenderung jadi pengamat. Di kota saya, agak
>>> prihatin nih soalnya, indomaret dan alfa, bersaingan mendirikan
>>> berderet-deret mini market di pinggir-pinggir kota. Di sepanjang jalan
>>> 2km-an saja, mosok ada 2 indomaret dan 2 alfamart. Rasanya dampaknya
>>> cukup
>>> menenggelamkan warung-warung kecil di kampung-kampung.
>>>
>>> Salah satu masalah perekonomian kita yang tak selesai-selesai adalah
>>> adanya
>>> dualisme sektor modern dan sektor tradisional yang uncoupled. Sektor
>>> modern
>>> melaju tanpa memiliki keterkaitan dengan sektor tradisional.
>>
>> Menarik sekali, kira-kira ada ide mas ?
>>
>> Gregetan saya dengan minimarket yang ada saat ini adalah karena
>> sebetulnya menguasai dari hulu sampai hilir.
>> Mulai dari produksi, sampai ke konsumen -- semuanya mereka kuasai.
>> Alhasil, nyaris tidak ada wealth distribution di rantai distribusi
>> mereka.
>>
>> Pewaralaba mereka memang dapat bagian - tapi itu SANGAT kecil sekali.
>> Kita pernah diskusi dengan beberapa pewaralaba tsb, dan mereka shock
>> begitu mengetahui berapa persentase profit yang kami (minimarket
>> independen) bisa dapatkan.
>> Sedangkan kami juga shock - persentase profit sekecil yang mereka
>> dapatkan itu, bukannya malah merugi ? Setelah dihitung semua ongkos -
>> sewa ruko/gedung, gaji pegawai, tagihan2, dst.
>>
>> Anyway, satu hal yang menarik yang saya lihat di Inggris - warung2 itu
>> bisa hidup; walaupun juga ada hipermarket. Malah ada "pasar becek"
>> juga.
>> Yang mereka lakukan adalah :
>>
>> 1. Peretail besar tidak boleh masuk kota
>> 2. Ada banyak peraturan yang "mengikat tangan" para peretail besar
>> 3. Pengusaha kecil dibantu & didukung, misalnya dengan institusi
>> "small business  chamber", dan banyak skema2 yang mendorong
>> kewirausahaan.
>> 4. Pemberian lokasi2 usaha yang strategis utk para pengusaha kecil.
>> Contoh: pasar becek yang saya sebutkan itu lokasinya tepat di tengah
>> kota  :-)
>>
>> Jadi demikian. Walaupun pada akhir2 pengamatan saya, poin 1 & 2 mulai
>> dilonggarkan  :-(
>>
>> Monggo kalau sampeyan ada ide2 lainnya, ada beberapa kawan kita yang
>> aktif melakukan lobi2 pro pengusaha kecil di DPR, saya bisa bantu
>> relay kepada ybs.
>> Terimakasih.
>>
>>
>> Salam, HS
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke