On 5/3/09, Bango Samparan <[email protected]> wrote: > Lha itu, kapital kan juga sudah dapat jatah tho mas. Lha kalau udah > diitung-itung, distribusi marginnya bisa seperti yang njenengan praktekkan. > > He...he, tapi saya untuk praktek ya masih minim je (itu saja di penerbitan), > soalnya pembelajaran saya cenderung jadi pengamat. Di kota saya, agak > prihatin nih soalnya, indomaret dan alfa, bersaingan mendirikan > berderet-deret mini market di pinggir-pinggir kota. Di sepanjang jalan > 2km-an saja, mosok ada 2 indomaret dan 2 alfamart. Rasanya dampaknya cukup > menenggelamkan warung-warung kecil di kampung-kampung. > > Salah satu masalah perekonomian kita yang tak selesai-selesai adalah adanya > dualisme sektor modern dan sektor tradisional yang uncoupled. Sektor modern > melaju tanpa memiliki keterkaitan dengan sektor tradisional.
Menarik sekali, kira-kira ada ide mas ? Gregetan saya dengan minimarket yang ada saat ini adalah karena sebetulnya menguasai dari hulu sampai hilir. Mulai dari produksi, sampai ke konsumen -- semuanya mereka kuasai. Alhasil, nyaris tidak ada wealth distribution di rantai distribusi mereka. Pewaralaba mereka memang dapat bagian - tapi itu SANGAT kecil sekali. Kita pernah diskusi dengan beberapa pewaralaba tsb, dan mereka shock begitu mengetahui berapa persentase profit yang kami (minimarket independen) bisa dapatkan. Sedangkan kami juga shock - persentase profit sekecil yang mereka dapatkan itu, bukannya malah merugi ? Setelah dihitung semua ongkos - sewa ruko/gedung, gaji pegawai, tagihan2, dst. Anyway, satu hal yang menarik yang saya lihat di Inggris - warung2 itu bisa hidup; walaupun juga ada hipermarket. Malah ada "pasar becek" juga. Yang mereka lakukan adalah : 1. Peretail besar tidak boleh masuk kota 2. Ada banyak peraturan yang "mengikat tangan" para peretail besar 3. Pengusaha kecil dibantu & didukung, misalnya dengan institusi "small business chamber", dan banyak skema2 yang mendorong kewirausahaan. 4. Pemberian lokasi2 usaha yang strategis utk para pengusaha kecil. Contoh: pasar becek yang saya sebutkan itu lokasinya tepat di tengah kota :-) Jadi demikian. Walaupun pada akhir2 pengamatan saya, poin 1 & 2 mulai dilonggarkan :-( Monggo kalau sampeyan ada ide2 lainnya, ada beberapa kawan kita yang aktif melakukan lobi2 pro pengusaha kecil di DPR, saya bisa bantu relay kepada ybs. Terimakasih. Salam, HS > > Salam hangat > B. Samparan > > > --- On Sun, 5/3/09, Harry Sufehmi <[email protected]> wrote: > >> From: Harry Sufehmi <[email protected]> >> Subject: Re: [is-lam] MLM Halal atau Haram? >> To: [email protected] >> Date: Sunday, May 3, 2009, 5:33 PM >> > Lha kalau gitu pakai normal >> profit aja mas. Dihitung-hitung saja biaya >> > seluruh faktor produksi/unit barang. >> >> Kelupaan - dalam perhitungan profit kami biasanya ada >> persentase untuk >> pengembangan usaha. >> >> Ini didasari pada semangat dari hadits Nabi saw "barang >> siapa yang >> hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia termasuk >> orang yang >> beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari >> kemarin, maka >> dia termasuk orang yang merugi," dst. >> >> Karena kita juga perlu ingat; the only constant is change. >> Jika kita >> terlena saja dengan yang sudah ada, sudah senang atau >> (na'udzubillah) >> merasa bangga/sombong dengannya; maka ya musti siap-siap >> kena libas >> oleh masa dan umat yang lainnya. >> >> >> >> Salam, HS _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
