Merujuk kepada kualitas pelayanan RS di tanah air, tak heran (heran tak) banyak warga NKRI yang berobat keluar negeri, misalnya sejumlah RS di Penang dan Kuala Lumpur bagi warga Aceh dan Sumut, serta Malaka bagi warga Sumatra bagian tengah dan selatan.
Menurut sejumlah pasien rumah sakit dari Indonesia yang sempat singgah ke tempat saya di KL, katanya, dengan senyuman pelayanan dari dokter dan sejumlah pekerja RS tersebut sudah merupakan bagian dari obat yang diberikan. Sebagai contoh RS-RS di Penang untuk pasien dari Aceh dan Sumut. Sebelum berangkat calon pasien sudah memperoleh info tentang RS dan dokter serta nomor handphone health guide dari kawan-kawan yang sudah pernah menikmati layanan dari RS-RS tersebut. Jadi sebelum berangkat mereka sudah mengubungi health guide via SMS. Dengan layanan AirAsia dan Firefly (bukan promosi) calon pasien sudah ditunggu di airport tujuan. Dicarikan taksi, dicarikan apartemen, dan kemudian ditanyakan dokter untuk penyakit apa (kalau sudah punya rujukan nama dokter tinggal sebutkan nama dokter tujuan). Kemudian diurus sampai ketemu dokter. Ditawarkan lagi kalau mau sight seeing setelah pengobatan, tentunya dengan bayaran lagi. Namun pasien sangat puas. Selesai berobat diantar lagi ke airport sampai goodbye. Sebagian RS di Indonesia (tidak semuanya ya), bila anggota keluarga yang dioperasi, para kerabat pasien mesti standbye di luar ruang operasi untuk membeli obat ke apotik (apotik mana saja asal obatnya ada), sementara si pasien di atas meja operasi. Belum kembali yang cari obat resep pertama tadi, resep kedua keluar, giliran kerabat yang lain marathon. Begitu seterusnya. Begitu juga untuk urusan transfuse darah. Kerabatnya yang harus mengemis ke PMI. Seperti tidak ada link antara RS dengan Bank Darah PMI. Pada hal kan tinggal pasang selang aja ya, kaya PAM. :). Kemudian kalau beruntung dapat darah dari PMI, mesti ada lagi anggota keluarga yang bertugas ngeram darah itu diketiaknya supaya temperaturnya naik. Duh.. cukup dulu keluahnnya ya ... solusinya apa ya,, hanya pintar ngeluh doank. Salam HANGAT, Wong -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of hamami Sent: 08 Juni 2009 11:03 To: [email protected] Subject: Re: [Is-lam] RS Omni Sebaiknya Jangan Dirujuk Lagi Cerita2 yang tidak sedap berkenaan dengan perilaku RS itu sudah terlalu sering didengar, Cuma saja selama ini gak ada institusi yang menindak. Hal itu biasanya baru menjadi perhatian manakala ada yang berani mengexposenya, semisal kasus ibu Prita. Mungkin kita masih ingat kasus/cerita memilukan beberapa tahun lalu, anak pemulung yg bernama Khoirunnisa. Dimana dalam kondisi yang sudah tidak bernyawa sempat dibawa ke-mana2 oleh sang bapak dengan menggunakan gerobak untuk mencarai tempat pemakaman. Sterlah terciar dibanyak media, barulah para pejabat kebakaran jenggot (gimana yang gak punya jenggot, ya...). Ini adalah masalah social yang memerlukan penyikapan tegas dari pemrintah, berkaitan dengan fungsà social RS. Wassalam -----Original Message----- From: Yandi Dwiputra F [mailto:[email protected]] Sent: Monday, June 08, 2009 7:46 AM To: [email protected] Subject: Re: [Is-lam] RS Omni Sebaiknya Jangan Dirujuk Lagi makanya mas penyakit itu jangan dipelihara..... boikot RS yang paling efektif itu dengan menjaga kesehatan diri. -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]]on Behalf Of Bango Samparan Sent: Sunday, June 07, 2009 11:22 PM To: [email protected] Subject: Re: [Is-lam] RS Omni Sebaiknya Jangan Dirujuk Lagi Waktu istri kawan saya melahirkan anak pertamanya, pembukaan agak lambat, akhirnya di operasi cesar. Kena deh sekitar 5jt-an. Kata dia statistiknya, dari 24 kelahiran hari itu, 16 cesar. Waktu melahirkan anak kedua, jauh-jauh hari tak nasehatkan tuh istri sering disuruh jalan-jalan. Mendekati hari H, dia bilang lagi pembukaan lambat, udah diancam sama dokter, 3 hari kagak nongol tuh bayi, cesar. Kawan saya langsung teler berat, wong hidup pas-pasan. Waktu telpon saya, dia sudah megap-megap. Lalu saya itanya strimu jalan-jalannya gimana tho. Dia bilang, ya kalau ke pasar yang dekat rumah jalan, ke warung, tapi tidak ada acara jalan-jalan rutin khusus. Wo dasar. Sekarang tuh istri suruh jalan-jalan terus, kalau lelah istirahat, agak seger jalan lagi. Trus begitu yah. Alhamdulillah, tuh bayi akhirnya nongol sendiri. Lumayan hanya kena 1jt-an. Nah mas, kenapa dokter sekarang kok suka ngancam-ngancam gitu? Kasus anak diare lain lagi. Banyak temen, saking sayang sama anaknya, begitu diari dan muntah, langsung dibawa ke rumah sakit. Begitu diperiksa, wah bos, tuh anak harus nginep. Ngineplah 2-4 hari. Biayanya, yang jelas bagi kebanyakan temen-temen saya, ya jadi membuat mereka hutang kanan kiri. Nah mas, kenapa dokter sekarang, belum apa-apa, suka menginepkan pasiennya? Untuk kasus-kasus tertentu, lucunya, kalau ditanya mengenai sakitnya apa, hampir pasti selintutan. Nah mas, kenapa dokter sekarang, mayoritas begitu? Catatan: Kasus-kasus yang saya sampaikan tuh mas di RS Islam lho, yang satu milik Muhammadiyah, yang satu milik persatuan haji. Salam hangat B. Samparan _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam __________ NOD32 4117 (20090530) Information __________ This message was checked by NOD32 antivirus system. http://www.eset.com _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
