Jasad memang ada batas kontraknya, tetapi fenomena tidak pernah mati,
dia akan selalu hidup menembus relung-relung hati, tersematkan begitu
saja. Fenomena2 akan selalu mengambil bentuk-bentuk uniknya bagi
sesiapa yang ridho untuk digunakan. Nilai-nilai semangat vitalitas
hidup dan menjaga kehidupan bersama akan selalu tetap tegar
bagaimanapun besarnya usaha-usaha yg hendak menghancurkan.

Disisi lain, hidup penuh dengan topeng kemunafikan, ketidakjujuran,
destruktif, impulsif, inilah yang akan menemui kematiannya, meskipun
ia nya bertengger pada tubuh-tubuh seorang raja sekalipun. Ia akan
musnah tak berbekas dan dikatakan sebagai sia-sia lah hidupnya.

Semoga mereka hidup berbahagia mendapatkan tempat yang layak disisi Tuhannya.

Bagi siapa saja yang ditinggalkan, sudahkah kita menjalankan destiny
yang kita emban dengan ridho, ataukah masih bingung mencari-cari
destiny apa yang diembankan kepundak kita masing-masing? Sebaiknya
segera dikejar mumpung masih diberi kesempatan.

Buat Mas Echy, saya nggak tahu bagaimana hrs bercerita soale ini badan
masih nempel ee mas.... :))


Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


2009/8/7 Echy Pamungkas <[email protected]>:
> Assalamu'alaikum Wr Wb
>
> Sebenarnya saya nggak pengen latah dengan ikut memperbincangkan kematian
> Mbah Surip yang doyan kopi dan rokok. Tapi, pagi ini ada yang menggelitik,
> ketika WS Rendra juga meninggal, di pekan yang sama dan dimakamkan di
> pemakaman yang sama dengan Mbah Surip, yaitu di Bengkel Teaternya Rendra
> sendiri dan sama-sama basic-nya seni.
>
> Allah memang yang paling paham alur skenario dari seluruh sandiwara yang ada
> di dunia ini. Termasuk untuk apa Allah baru memunculkan Mbah Surip setelah
> sekian lama si Mbah ini nyemplung di dunia seni yang dia pahami dengan
> caranya. Dan Allah belum memberlakukan Hukum Gossen pada ketenaran Mbah
> Surip, karena saat di klimaks, episode tentang mbah surip-pun tamat alias
> "the end".
>
> Beberapa hari menjelang meninggal, Mbah Surip berkelakar kalau meninggal
> ingin dimakamkan di Bengkel Teater Rendra di bawah pohon jengkol. Setelah
> meninggal, keinginannyapun diluluskan Sang Burung Merak. Uniknya, tiga hari
> kemudian "Si Tuan Rumah" ikut berpulang.
>
> Siapa yang tidak mengenal Rendra. Sejak mengenal puisi di Taman
> Kanak-kanak, anak-anak juga dikenalkan puisi-puisinya. Buku-buku Bahasa
> Indonesia dan Sastra mengukir nama dan puisinya. Meskipun setahu saya,
> semakin tahun Rendra hanya dikenal secara eksklusif oleh kalangan seniman
> (baca- seniman tertentu).
>
> Si Mbah dan Si Merak mungkin fenomena. Sayangnya keterbatasan otak saya,
> belum bisa terlalu banyak menyimpulkan risalah kematian kedua fenomena itu.
> Mungkin ada yang bisa bantu?
>
> Wassalamu'alaikum Wr Wb
> Echy Pamungkas
>
> ________________________________
> Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang!
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>
>
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke