Betul Mas, kalo mau ngitung dosa mungkin sebagian besar orang akan
merasakan ambruk
timbangannya bahkan meskipun ribuan tahun beribadah sekalipun tak akan
sanggup mbayar kebaikan
dan kemurahan Allah swt kepada setiap hambaNYA. Pernah seseorang
mewejang dan mengatakan
sekalipun dosamu sebesar gunung janganlah sekali-kali hal itu menjadi
hambatan perjalananmu
menuju kepada Tuhan. Coba dirasa-rasakan kembali apa yang bisa engkau
tangkap dalam kalimat
ta'audz. Satu-satunya cara terhindar dari godaan syaithan atau
keburukan tidaklah dengan
berdiam diri ataupun membenci dan menyalahkan si syetan, namun kau
harus berlari berlindung
kepada Tuhan, atau dengan kata lain berlarilah menuju kebaikan.
Artinya, janganlah engkau
biarkan dirimu berpikir, berkata, dan berbuat yang mengarah pada
keburukan-keburukan. tetapi
pikirkan dan lakukan hal-hal yang baik-baik saja niscaya keburukan2
itu akan tak ditampakkan
didepanmu dan dengan demikian engkau akan memperoleh perlindunganNYA.
Kebaikan2 yg kau lakukan
itu janganlah dianggap sebagai pembersih kotoran2mu sebagaimana
hitungan rugi-laba dalam
perniagaan. Ingatlah bhw kebaikan2mu itu tidak bermakna apa-apa
kecuali bagi dirimu sendiri.
dan itu barulah semacam fase preparasi awal bagimu menuju pembersihan
(thaharah) diri,
sedangkan perjalanan ke depan masih sangat panjang dan berliku, yaitu
etape perjalanan menuju
Tuhan. Disini engkau akan berjalan dalam rangka mengenal Tuhan dengan
sebenar-benar pengenalan
(ma'rifatullahi), dan itu bukanlah tuhan yang selama ini ada dalam
wujud pikiran-pikiranmu
yang tak ubahnya ibarat berhala ghoib. Jika fase ini dapat terlampaui
maka dapatlah disebut
sebagai seorang mukmin atau hamba Allah yg sejati, jadi sebutan hamba
Allah itu tdk sembarang
sebutan. Meng-hamba kepada tuannya yg benar-benar sudah dikenalnya
dengan baik, sehingga Tuhan
dalam pengertianmu disini sudah bukan lagi tuhan menurut si ini atau
si itu lagi.... dan
engkau akan buktikan sendiri bahwa Qur'an yg diturunkan kepada
Rasulullah Muhammad SAW itu
tidak meleset. Dan selanjutnya engkau akan masuk pada fase perjalanan
dalam Tuhan yang populer
disebut sebagai keikhsanan...

Saya manggut2 trus nyeletuk kog kayak sekolahan aja ya mbah...?

Ya memang kita semua lagi sekolah kan... persis seperti dawuhnya
Rasulullah itu. Bedanya ada
yg mampu menganggap segala sesuatu itu sebagai bahan pelajaran hidup
dari Sang Maha Guru,
tetapi ada yg lain belum diberi kemampuan utk menganggap demikian
sehingga ia pilah-pilih cari
yg enak-enak dan yg cocok dengan kemauannya saja.

Lha trus gimana cara supaya bisa merasa semua ini berasal dari Sang
Maha Guru mbah?

Ya yg ditatap itu Sang Maha Gurunya, jangan tolah-toleh kiri-kanan.
Makanya kalo sekolah
posisikan dudukmu di baris terdepan biar gak ngantuk atawa sibuk
ngobrol dgn teman2mu yang
dibelakang itu.

Waduh mbah... saya malah pilih duduk belakang supaya gampang kabur
eee.... !...@#$%^%$#@


:)
salam hangat

2009/8/8 Echy Pamungkas <[email protected]>:
> Iya Mas Dewa,
>
> kalau ingat kematian Michael Jackson kemarin jadi miris, kegemerlapan dunia
> dia peroleh, tapi kesengsaraan sejak masa kanak-kanak tidak pula beranjak
> hingga akhir hayatnya.
>
> Semoga berita-berita kematian orang-orang terkenal itu bisa kita ambil
> hikmahnya. artinya, kita harus siap kapanpun maut menjemput. artinya siap
> bukan berarti siap bunuh diri, tapi kita harus siap dengan konsekuensi
> kematian seperti harus mempertanggungjawabkan dosa-dosa kita, siap dengan
> konsekuensi jika timbangan dosa kita jauh lebih banyak, dan konsekuensi
> dunia yang kita tinggalkan...apakah kita memberikan tauladan baik bagi
> generasi selanjutnya atau hanya menjadi bahan cibiran yang kemudian
> dilupakan orang....
>
> Wallahu'alam bishowab.
>
> Wassalamu'alaikum wr wb
> Echy Pamungkas
>
> --- Pada Jum, 7/8/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> menulis:
>
> Dari: Dewa Gede Permana <[email protected]>
> Judul: Re: [Is-lam] Si Mbah Nggendong Merak
> Kepada: [email protected]
> Tanggal: Jumat, 7 Agustus, 2009, 4:00 PM
>
> Jasad memang ada batas kontraknya, tetapi fenomena tidak pernah mati,
> dia akan selalu hidup menembus relung-relung hati, tersematkan begitu
> saja. Fenomena2 akan selalu mengambil bentuk-bentuk uniknya bagi
> sesiapa yang ridho untuk digunakan. Nilai-nilai semangat vitalitas
> hidup dan menjaga kehidupan bersama akan selalu tetap tegar
> bagaimanapun besarnya usaha-usaha yg hendak menghancurkan.
>
> Disisi lain, hidup penuh dengan topeng kemunafikan, ketidakjujuran,
> destruktif, impulsif, inilah yang akan menemui kematiannya, meskipun
> ia nya bertengger pada tubuh-tubuh seorang raja sekalipun. Ia akan
> musnah tak berbekas dan dikatakan sebagai sia-sia lah hidupnya.
>
> Semoga mereka hidup berbahagia mendapatkan tempat yang layak disisi
> Tuhannya.
>
> Bagi siapa saja yang ditinggalkan, sudahkah kita menjalankan destiny
> yang kita emban dengan ridho, ataukah masih bingung mencari-cari
> destiny apa yang diembankan kepundak kita masing-masing? Sebaiknya
> segera dikejar mumpung masih diberi kesempatan.
>
> Buat Mas Echy, saya nggak tahu bagaimana hrs bercerita soale ini badan
> masih nempel ee mas.... :))
>
>
> Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
>
>
> 2009/8/7 Echy Pamungkas <[email protected]>:
>> Assalamu'alaikum Wr Wb
>>
>> Sebenarnya saya nggak pengen latah dengan ikut memperbincangkan kematian
>> Mbah Surip yang doyan kopi dan rokok. Tapi, pagi ini ada yang menggelitik,
>> ketika WS Rendra juga meninggal, di pekan yang sama dan dimakamkan di
>> pemakaman yang sama dengan Mbah Surip, yaitu di Bengkel Teaternya Rendra
>> sendiri dan sama-sama basic-nya seni.
>>
>> Allah memang yang paling paham alur skenario dari seluruh sandiwara yang
>> ada
>> di dunia ini. Termasuk untuk apa Allah baru memunculkan Mbah Surip setelah
>> sekian lama si Mbah ini nyemplung di dunia seni yang dia pahami dengan
>> caranya. Dan Allah belum memberlakukan Hukum Gossen pada ketenaran Mbah
>> Surip, karena saat di klimaks, episode tentang mbah surip-pun tamat alias
>> "the end".
>>
>> Beberapa hari menjelang meninggal, Mbah Surip berkelakar kalau meninggal
>> ingin dimakamkan di Bengkel Teater Rendra di bawah pohon jengkol. Setelah
>> meninggal, keinginannyapun diluluskan Sang Burung Merak. Uniknya, tiga
>> hari
>> kemudian "Si Tuan Rumah" ikut berpulang.
>>
>> Siapa yang tidak mengenal Rendra. Sejak mengenal puisi di Taman
>> Kanak-kanak, anak-anak juga dikenalkan puisi-puisinya. Buku-buku Bahasa
>> Indonesia dan Sastra mengukir nama dan puisinya. Meskipun setahu saya,
>> semakin tahun Rendra hanya dikenal secara eksklusif oleh kalangan seniman
>> (baca- seniman tertentu).
>>
>> Si Mbah dan Si Merak mungkin fenomena. Sayangnya keterbatasan otak saya,
>> belum bisa terlalu banyak menyimpulkan risalah kematian kedua fenomena
>> itu.
>> Mungkin ada yang bisa bantu?
>>
>> Wassalamu'alaikum Wr Wb
>> Echy Pamungkas
>>
>> ________________________________
>> Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang!
>> _______________________________________________
>> Is-lam mailing list
>> [email protected]
>> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>>
>>
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>
> ________________________________
> Akses email lebih cepat.
> Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru
> yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>
>
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke