Terima kasih 

Di sini, sebagai generasi muda LDII kami hanya ingin meluruskan persepsi 
sebagian masyarakat yang terlanjur keliru dengan menghakimi LDII sebagai aliran 
sesat. Saya ingin menegaskan bahwa berdasarkan tuntunan Allah dan Rosululloh 
SAW apa yang diajarkan LDII tidak sesat, Justru LDII berusaha menerapkan (dalam 
terminologi pilihan saya "menegakkan") agama Islam secara murni berdasarkan 3 
pilar kemurnian agama Islam 
(http://ldii-sidoarjo-jawatimur.blogspot.com/2009/09/ldii-menegakkan-kemurnian-agama-islam.html)
 

Sejauh ini dalih-dalih yang dikemukakan untuk "menyesatkan" LDII sama sekali 
tidak benar/  tidak sesuai dengan kenyataan. Seperti LDII mengkafirkan / 
menajiskan orang lain, tidak mau sholat kecuali di masjid sendiri dan lain 
sebagainya. Semua tuduhan tersebut sama sekali tidak benar. Tidak ada satu 
amalanpun yang di ajarkan dalam LDII menyimpang dari tuntunan Alloh dan Rosul 
(Quran dan Hadist). Karena yang di kaji dalam LDII tidak ada lain kecuali Al 
Qur'an dan Al Hadist. Simak materi dan pengajaran agama yang dilakukan oleh 
LDII melalui tulisan saya 
http://ldii-sidoarjo-jawatimur.blogspot.com/2009/11/pondok-pesantren-ldii-burengan-kediri.html
 dan 
http://ldii-sidoarjo-jawatimur.blogspot.com/2009/10/pengajian-kelompok-ldii-terbuka-untuk.html

Saya tidak mempermasalahkan gaya bahasa atau penampilan seseorang sebab tabiat 
dan kepribadian setiap orang memang berbeda-beda, "Lihatlah apa yang dikatakan 
jangan melihat siapa yang mengatakan". Demikian sabda sahabat Umar AS. Jadi 
sangat tidak tepat kalau kita menilai suatu golongan (LDII)  berdasarkan 
penampilan satu atau dua orang anggotanya tanpa melihat apa yang diajarkan. 


--- On Wed, 12/2/09, andryansyah rivai <[email protected]> wrote:

From: andryansyah rivai <[email protected]>
Subject: Re: [Is-lam] LDII Menegakkan Kemurnian Agama Islam di Indonesia
To: [email protected]
Date: Wednesday, December 2, 2009, 10:38 PM

Iya nih, gaya saya bicara dalam tulisan memang parah, dan saya memang sukanya 
dengar orang ceramah yang gayanya juga garang, kalau lunak malah ngantuk :)

Kebetulan saya juga besar di tempat ngaji yang saya baru sadar setelah pindah 
ke Yogya saat masuk SMA bahwa dulu itu budaya NU. Nah di Yogya itu saya 
seringnya dengar pandangan Muhammadiyah. Sekarang saya di Serpong, dan dalam 
penentuan waktu lebaran atau qurban, kok rasanya cocok dengan Al Azhar.

Saya paling suka bertanya kalau tidak mengetahui dengan pasti, jadi saya tidak 
menyimpulkan pak Risang orang LDII, karena postingannya juga masih "di tengah". 
Kalo sekarang jelas bahwa Bapak bukan warga LDII.

Kalau ada yang tahu, sebenarnya kesesatan LDII itu ada di mana saja?, sehingga 
beberapa MUI daerah menyatakan sesat.
 Saya pribadi hanya melihat 2 teman sekantor yang secara jelas menyatakan 
sebagai orang LDII dan keduanya buat saya sangat tidak cocok dengan keyakinan 
saya. Semoga jawaban itu menjadi esensi dari diskusi ini.

Wassalam,
andry

From: Risang Dipta Permana <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thu, December 3, 2009 1:02:40 PM
Subject: Re: [Is-lam] LDII Menegakkan Kemurnian Agama Islam di Indonesia


Saya tidak berkompeten mendefinisikan "Berdebat" dalam kitab Imam Ahmad yang 
saya kutip tersebut. Tapi saya mencoba mengutarakan pemahaman saya tentang 
"berdebat"... berdebat menurut saya adalah bantah-bantahan terhadap sesuatu hal 
dari perspektif masing-masing dan tidak merujuk pada suatu hal yang disepakati 
bersama (dalam hal ini Al-Qur'an dan As-Sunnah). Saya mengirim e-mail 
sebelumnya karena dahulu pernah terjadi juga debat... waktu itu sepertinya ada 
salah satu anggota milis yang menganut ahmadiyyah, dan kebetulan lagi 
hangat-hangatnya watwa MUI tentang Sesatnya Ahmadiyyah, terjadi perdebatan 
panjang dan tidak berujung.. kemudian saya potong dengan.. menanyakan langsung 
kepada yang bersangkutan apakah beliau merupakan anggota ahmadiyyah, dan jika 
memang benar saya meminta moderator
 untuk mengambil tindakan karena sudah di cap Sesat oleh MUI. Saya berharap 
diskusi yang terjadi di millis ini... kalo bisa, menunjukkan ke jalan yang 
benar, bukan berbantah-bantahan dan ujungnya tidak ada kesimpulan.. biasanya 
perdebatan dimulai dari saling mengolok...

Kalo ingin memberi tahu tentang sesuatu yang telah keluar dari norma agama, 
seperti jorok, tidak konsisten dlsb.. tentunya lebih baik dinyatakan dengan 
kata2 yang baik dan tidak menghakimi.

Dari Pertanyaan anda, sepertinya anda sudah menyimpulkan kalo saya merupakan 
"Warga LDII". Saya akan ceritakan, saya berasal solo, dibesarkan dalam budaya 
NU, kemudian mengaji ke Muhammadiyah, Waktu SMA sering bergaul dengan 
temen-temen yang LDII, kemudian kuliah di jogja dan mendapati begitu banyak 
gerakan, lembaga, dan ormas Islam yang sangat beraneka ragam... saya mencoba 
mendalami semuanya.. Kaitan cerita saya ini dengan topik yang kita bahas adalah 
cara orang LDII untuk meng-counter
 segala tuduhan dari dulu sampai sekarang hanya begitu-begitu saja dan cara Mas 
Andry dalam meladeni tidak pada esensi.. sehingga sedikit sekali manfaatnya.. 
Jawabannya saya bukan "Warga LDII"

Setelah sedikit menyelami berbagai gerakan organisasi Islam, pada dasarnya 
mereka hanyalah cabang2 jalan yang Insyaallah menuntun Ummat menuju Rahmatan 
lil alamin. Seperti halnya kita memilih baju, kita bisa memilih lengan panjang, 
pendek, warna putih, hitam, baju koko ataupun kaos oblong... tetapi jangan 
memilih baju yang tidak menutup aurat. Jadi jangan memilih "aliran" yang 
sesat.. seperti Ahmadiyyah.. dan setahu saya beberapa MUI daerah telah 
memfatwakan sesat terhadap LDII... mungkin anggota milis ini bisa meminta MUI 
pusat untuk mengadakan penelusuran dan penelitian terhadap LDII sehingga tidak 
terjadi keraguan di masyarakat...

Mohon maaf lancang berbicara dengan Ilmu yang sedikit.. semoga bermanfaat


regards,Risang Dipta Permana+6281393127309


Apa ya definisi suka berdebat itu? Diskusi itu termasuk berdebat atau tidak?

Kalau saya dibilang mengolok, ya saya terima saja. Buat saya, saya ingin 
menegaskan ketidak konsistennya teman saya yang mengatakan harus bersih dan 
suci, tetapi dia
 sendiri kalau mau ambil barang di tempat yang tinggi tidak mau melepas 
sepatunya ketika naik kursi. Bukankah itu artinya jorok!!!

Soal Masjid jorok, saya sekedar penyangatkan, bahwa kengototan teman saya untuk 
cari masjid LDII itu sangat tidak masuk akal. Emangnya Masjid lain tidak bersih 
dan Suci? Jadi sekali lagi kengototan orang LDII untuk selalu cari Masjid milik 
LDII sangat aneh dan tidak jelas dasar hukumnya. Itu saja yang saya ingin 
tegaskan.

Pingin tahu saja, apa pak Risang anggota LDII? Apakah Muhammadiyah menegakkan
 kemurnian Agama Islam di Indonesia? Apakah Al-Azhar juga menegakkan? Lalu 
mengapa memilih LDII sebagai wadah, padahal jelas anggotanya maunya pilih 
Masjid milik LDII untuk Sholat Jumat? Sulit masuk akal pemikiran saya.....

Wassalam,
andry




      






        Get your preferred Email name!  

Now you can @ymail.com and @rocketmail.com. 






      
-----Inline Attachment Follows-----

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam



      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke