Anis Matta: Soal Sultan, hanya penjajakan
Wednesday, 04 March 2009 00:00 WIB

R FERDIAN ANDI R
WASPADA ONLINE

Rumor tentang keretakan di tubuh PKS kembali menyeruak ke tengah publik. Kondisi ini dipicu oleh penyebutan nama Sultan Hamengku Buwono X sebagai capres dari PKS, sesaat partai dakwah itu mengundang Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla.

Adalah Anis Matta, sekjen PKS yang kali pertama mewacanakan anggota Dewan Penasehat Partai Golkar Sultan HB X sebagai capres dari PKS. Padahal, wacana JK-Hidayat jauh sebelumnya bergerak meluas. Lebih dari itu, silaturahim politik antara JK-Hidayat (Golkar-PKS) pun telah dimulai.

Maka tak mengherankan bila Anis langsung mendapat tudingan insubordinat dengan DPP PKS. Anis juga dituduh sedang bermanuver politik tanpa sepengetahuan DPP PKS.

Untuk menjawab rumors tersebut, redaksi mengkonfirmasi perihal munculnya nama Sultan HB X. Apa motivasinya? Bagaimana implikasi politis atas penyebutan nama tersebut? Bagaimana pula pertanggungjawaban Anis Matta atas segenap manuvernya menjelang Pemilu 2009 ini? Berikut ini wawancara lengkapnya:

Bagaimana wacana tentang PKS menggandeng Sultan bisa muncul?

Tidak... ini dialog aja. Penjajakan, itu saja. Kita komunikasi dengan JK, dengan Sultan, SBY, semua komunikasi.

Muncul anggapan bahwa langkah Anda ini berseberangan dengan fungsionaris partai lainnya, termasuk Presiden PKS?

Kita ini belum ada keputusan partai. Jadi semuanya masih berkomunikasi. Saya juga masih berkomunikasi. Itu saja yang terjadi.

Apakah Anda sudah berkomunikasi dengan Presiden PKS Tifatul Sembiring terkait dengan gagasan mengusung Sultan?

Ya sudah. Setelah pertemuan resmi itu Kamis (26/2) malam, pagi-pagi saya menghadap.

Termasuk membahas soal ketidakhadiran Anda dalam acara diskusi Kamis malam itu?

Kalau soal forum itu, kita bagi tugas saja. Karena kita semua adalah calon anggota legislatif. Jadi kita juga lagi sibuk.

Menurut sumber kami, pengajuan nama Sultan oleh Anda ini terkait dengan faksi yang muncul di PKS, yaitu faksi kesejahteraan. Bagaimana Anda menjelaskannya?

Itu dramatisasi yang berlebihan. PKS kan komunitas intelektual, punya tradisi musyawarah (syura) yang kuat dan kukuh. Kita adalah komunitas yang punya tradisi organisasi yang kuat.

Tapi apakah Anda sadar, bahwa dengan mewacanakan Sultan untuk menjadi presiden akan membuat berantakan bangunan komunikasi bagi di PKS maupun Golkar?

Saya kira tidak. Karena semua kebijakan partai. Sebelumnya Suryadharma Ali, kemudian Pak Jusuf Kalla, SBY, Megawati, semua kita ajak komunikasi. Kadang bareng-bareng, kadang sendiri-sendiri. Tapi semua kan penjajakan, sebelum mengambil keputusan.

Apakah Anda tidak khawatir, memunculkan nama Sultan tak lama setelah pertemuan JK dengan petinggi PKS, akan memunculkan sentimen negatif?

Saya kira tidak. Ini komunikasi politik yang biasa dan wajar saja.

Tapi wacana Anda tentang Sultan itu formal kan, bukan kepentingan Anis Matta pribadi?

Bukan ini kebijakan partai. Semuanya juga kita undang.

Bukankah hanya ada empat pimpinan partai politik yang diundang dalam diskusi rutin malam Jumat di kantor DPP PKS dan di situ tidak ada nama Sultan HB X sama sekali?

Ya. Kalau yang formal ya empat pimpinan partai politik itu. Tapi kita juga ada pertemuan informal. Masak semua pertemuan harus formal, iya kan ?

Jadi semua yang Anda lakukan itu diketahui partai?

Oh ya, kita sama-sama. Jadi ini kebijakan bersama.

Sebenarnya apa sih yang dimaui PKS dalam membangun koalisi pasca pemilu legislatif nanti?

Kita ingin membangun silaturahim politik yang luas. Artinya, kita berkomunikasi dengan semua juga untuk membangun tradisi politik baru yang dewasa, sehingga kita bisa berkomunikasi dan berkompetisi dalam waktu yang sama tanpa perlu merusak hubungan kita. Itu saja.

Apa akhir dari silaturahim politik ini?

Kebijakan PKS nanti akan ditentukan oleh dua faktor. Pertama, oleh perolehan suara PKS dalam pemilu legisaltif 9 April mendatang. Kedua, agenda koalisinya apa. Jadi koalisi ini adalah koalisi agenda. Meski perolehan suara tetap penting untuk menentukan posisi.

Anda dikenal di publik bahkan di internal PKS, sebagai politisi cerdas yang melampaui kader lainnya, khususnya soal manuver politik. Manuver Anda disebut beyond da'wah?

Kita di PKS ini cuma prajurit. Disuruh apa jadi, di suruh di lapangan jadi.

Jadi seluruh aktivitas dan manuver Anda diketahui dan berpijak pada keputusan partai?

Ya.




------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke