Ngomongin soal koalisinya PKS ya? Jadi pengin ikutan komentar ...

Waktu coblosan bupati bogor kemaren saya agak kaget dengan saksi dari PKS. Kok 
tidak biasa-biasanya kader PKS ngotot (hemat saya, perilaku demikian bukan 
perilaku kader PKS). Setelah saya perhatikan ... ooooo, karena dia berkoalisi 
dengan partai A, ya sudah ....

Untuk saya pribadi, akhirnya kok ya .... no idea ...

Tokoh Islam semacam Eggy Sujana bagi saya (posternya ada di beberapa tempat) -- 
misalnya, bisa jadi bahan pertimbangan lain.

Wassallam / Jaerony.-
** bukan kader apalagi simpatisan siapa-siapa ******

  ----- Original Message ----- 
  From: amin widada 
  To: [email protected] ; [email protected] 
  Sent: Thursday, March 05, 2009 2:25 PM
  Subject: Re: [Ar-Royyan-8756] Fw: Anis Matta: Soal Sultan, hanya penjajakan


  Mungkin trik marketing (by design), tapi kalau saya mikirnya kok karena tiap 
individu/elit punya ide macem2 dan bebas mengekspresikannya (out of the box, 
istilah Pak Jaerony). Soal keputusan final ya tergantung dewan syuronya yang 99 
orang itu.
  Tapi itu lebih bagus, daripada partai lain yang tergantung 1 orang, pengurus 
lain mau usul ide sendiri ketakutan setengah mati, apalagi kalau sampai 
dimarahi di tv kayak mubarok kemarin .... :-)

  --amin


  Pada 5 Maret 2009 13:59, lana sularto <[email protected]> menulis:

          Kalo yg kliatan rukun sih golkar, tapi ya ingat PKS itu banyak main 
trik akhir2 ini, mungkin aja biar orang pada nyoblos PKS, trus kalo dah dapet 
kursi, baru deh nentuin pilihannya yang laen ..:)


          --- On Thu, 3/5/09, PRANA <[email protected]> wrote:

            From: PRANA <[email protected]> 

            Subject: Re: [Ar-Royyan-8756] Fw: Anis Matta: Soal Sultan, hanya 
penjajakan

            To: [email protected]
            Date: Thursday, March 5, 2009, 1:39 AM 



            Tapi kalau sampai harus berkolaborasi, kira-kira siapa yang paling 
cocok ya ?
              ----- Original Message ----- 
              From: amin widada 
              To: [email protected] 
              Sent: Thursday, March 05, 2009 12:08 PM
              Subject: Re: [Ar-Royyan-8756] Fw: Anis Matta: Soal Sultan, hanya 
penjajakan


              Bisa, pak. 
              Kan (katanya) kalau minimal dapat 20% kursi legislatif. 
              Ayo dukung aja kalau gitu ... :-)

              Btw, berita dari Jogja, PKS tidak termasuk yang mendukung HBX. 
Memangnya lupa kalau istri HBX anti UU Porno ... :-)

              --amin

               
              Pada 5 Maret 2009 11:08, PRANA <[email protected]> 
menulis:

                Bisa gak ya... PKS jalan sendiri aja ?


                ----- Original Message ----- From: "Agus Rasyidi" 
<[email protected]>
                To: <[email protected]>
                Sent: Thursday, March 05, 2009 8:30 AM
                Subject: [Ar-Royyan-8756] Fw: Anis Matta: Soal Sultan, hanya 
penjajakan



                  Anis Matta: Soal Sultan, hanya penjajakan
                  Wednesday, 04 March 2009 00:00 WIB

                  R FERDIAN ANDI R
                  WASPADA ONLINE

                  Rumor tentang keretakan di tubuh PKS kembali menyeruak ke 
tengah publik. Kondisi ini dipicu oleh penyebutan nama Sultan Hamengku Buwono X 
sebagai capres dari PKS, sesaat partai dakwah itu mengundang Ketua Umum DPP 
Partai Golkar Jusuf Kalla.

                  Adalah Anis Matta, sekjen PKS yang kali pertama mewacanakan 
anggota Dewan Penasehat Partai Golkar Sultan HB X sebagai capres dari PKS. 
Padahal, wacana JK-Hidayat jauh sebelumnya bergerak meluas. Lebih dari itu, 
silaturahim politik antara JK-Hidayat (Golkar-PKS) pun telah dimulai.

                  Maka tak mengherankan bila Anis langsung mendapat tudingan 
insubordinat dengan DPP PKS. Anis juga dituduh sedang bermanuver politik tanpa 
sepengetahuan DPP PKS.

                  Untuk menjawab rumors tersebut, redaksi mengkonfirmasi 
perihal munculnya nama Sultan HB X. Apa motivasinya? Bagaimana implikasi 
politis atas penyebutan nama tersebut? Bagaimana pula pertanggungjawaban Anis 
Matta atas segenap manuvernya menjelang Pemilu 2009 ini? Berikut ini wawancara 
lengkapnya:

                  Bagaimana wacana tentang PKS menggandeng Sultan bisa muncul?

                  Tidak... ini dialog aja. Penjajakan, itu saja. Kita 
komunikasi dengan JK, dengan Sultan, SBY, semua komunikasi.

                  Muncul anggapan bahwa langkah Anda ini berseberangan dengan 
fungsionaris partai lainnya, termasuk Presiden PKS?

                  Kita ini belum ada keputusan partai. Jadi semuanya masih 
berkomunikasi. Saya juga masih berkomunikasi. Itu saja yang terjadi.

                  Apakah Anda sudah berkomunikasi dengan Presiden PKS Tifatul 
Sembiring terkait dengan gagasan mengusung Sultan?

                  Ya sudah. Setelah pertemuan resmi itu Kamis (26/2) malam, 
pagi-pagi saya menghadap.

                  Termasuk membahas soal ketidakhadiran Anda dalam acara 
diskusi Kamis malam itu?

                  Kalau soal forum itu, kita bagi tugas saja. Karena kita semua 
adalah calon anggota legislatif. Jadi kita juga lagi sibuk.

                  Menurut sumber kami, pengajuan nama Sultan oleh Anda ini 
terkait dengan faksi yang muncul di PKS, yaitu faksi kesejahteraan. Bagaimana 
Anda menjelaskannya?

                  Itu dramatisasi yang berlebihan. PKS kan komunitas 
intelektual, punya tradisi musyawarah (syura) yang kuat dan kukuh. Kita adalah 
komunitas yang punya tradisi organisasi yang kuat.

                  Tapi apakah Anda sadar, bahwa dengan mewacanakan Sultan untuk 
menjadi presiden akan membuat berantakan bangunan komunikasi bagi di PKS maupun 
Golkar?

                  Saya kira tidak. Karena semua kebijakan partai. Sebelumnya 
Suryadharma Ali, kemudian Pak Jusuf Kalla, SBY, Megawati, semua kita ajak 
komunikasi. Kadang bareng-bareng, kadang sendiri-sendiri. Tapi semua kan 
penjajakan, sebelum mengambil keputusan.

                  Apakah Anda tidak khawatir, memunculkan nama Sultan tak lama 
setelah pertemuan JK dengan petinggi PKS, akan memunculkan sentimen negatif?

                  Saya kira tidak. Ini komunikasi politik yang biasa dan wajar 
saja.

                  Tapi wacana Anda tentang Sultan itu formal kan, bukan 
kepentingan Anis Matta pribadi?

                  Bukan ini kebijakan partai. Semuanya juga kita undang.

                  Bukankah hanya ada empat pimpinan partai politik yang 
diundang dalam diskusi rutin malam Jumat di kantor DPP PKS dan di situ tidak 
ada nama Sultan HB X sama sekali?

                  Ya. Kalau yang formal ya empat pimpinan partai politik itu. 
Tapi kita juga ada pertemuan informal. Masak semua pertemuan harus formal, iya 
kan ?

                  Jadi semua yang Anda lakukan itu diketahui partai?

                  Oh ya, kita sama-sama. Jadi ini kebijakan bersama.

                  Sebenarnya apa sih yang dimaui PKS dalam membangun koalisi 
pasca pemilu legislatif nanti?

                  Kita ingin membangun silaturahim politik yang luas. Artinya, 
kita berkomunikasi dengan semua juga untuk membangun tradisi politik baru yang 
dewasa, sehingga kita bisa berkomunikasi dan berkompetisi dalam waktu yang sama 
tanpa perlu merusak hubungan kita. Itu saja.

                  Apa akhir dari silaturahim politik ini?

                  Kebijakan PKS nanti akan ditentukan oleh dua faktor. Pertama, 
oleh perolehan suara PKS dalam pemilu legisaltif 9 April mendatang. Kedua, 
agenda koalisinya apa. Jadi koalisi ini adalah koalisi agenda. Meski perolehan 
suara tetap penting untuk menentukan posisi.

                  Anda dikenal di publik bahkan di internal PKS, sebagai 
politisi cerdas yang melampaui kader lainnya, khususnya soal manuver politik. 
Manuver Anda disebut beyond da'wah?

                  Kita di PKS ini cuma prajurit. Disuruh apa jadi, di suruh di 
lapangan jadi.

                  Jadi seluruh aktivitas dan manuver Anda diketahui dan 
berpijak pada keputusan partai?

                  Ya.





         



Kirim email ke