saya coba utk menjawab, maaf jika tidak berkenan
1. menyampaikan sesuatu itu ada cara dan etikanya
   ("bahkan menyampaikan segala yg kita ketahui itu bisa diagganp 
dusta - diingatkan kembali oleh saudara / bang ahmad ridha, dlm 
salah satu emailnya)
2. saya berkesimpulan bahwa pada email sebelumnya dgn adanya sedikit 
intruksi utk memforward ke teman atau milis, lebih pada 
keikutsertaan kita ber"tendesius ria" bersama korban
3. mungkin dan bisa jadi akan lebih baik jika email tsb menambahkan 
seperti " utk diketahui, just sharing, just forward, fyi,dll)
(dgn mengetahui kesalahan yg ada "spt dlm kasus ini" mudah2an dapat 
menjadikan pelajaran buat yg lain, minimal utk tidak berbuat hal yg 
sama)
4. pergeseran zaman mebuat kebiasaan mengungkapkan aib (meskipun itu 
salah) utk konsumsi umum, adalah hal yug lumrah
(tidak dibenarkan kamu utk membuka aib saudaramu,, atau jika kamu 
menutupi aib saudaramu maka Ia akan menutupi aibmu) lagi2 saya lupa 
surat apa- itu lebih intisari
5. menutup aib seseorang (siapaun itu - keluarga, teman dll), tidak 
berarti sama halnya dgn melindungi kesalahan seseorang
(hal yg banyak tidak dipahami org2 dewasa ini, apalagi dilembaga 
peradilan yg ktnya demokrasi - atau KAPITALIS...?)
6. ada lebih baik jika kita mengikuti aturan main yg ada, misal dgm 
melaporkan ke KPK utk masalah korupsi. dgn intinya adalah bahwa 
kebenaran yg akan menang/terungkap dan karma akan berlaku
 (KARMA = istilah yg saya gunakan bahwa apapun yg kita lakukan 
baik/buruk pasti akan dibalasNYa, - sebagaimana IA membalas amal 
sebesar biji zarah PUN)
7. perbedaan persepsi itu perlu dan itu akan lebih membuat kita 
dewasa bersikap dan menangani masalah, dalam artian jika org punya 
pikiran berbeda dlm menangani msalah "tidak berarti ia 'mengijinkan' 
praktek pungli dan korup bukan?"
dalam salah satu bukunya M. FAuzil adhim menulis bahwa kita dewasa 
ini kebanyakan bersifat oversimplified dan gampang mengambil 
kesimpulan dari satu kasus saja - ktnya sih teori psikologi
yg terjadi karena kultur masyarakjat dan kebiasaan jelek2 yg melekat
8. menuntut pembasmian korupsi tidak berarti kita menolak menjalani 
cobaaNYa, dan agak kurang nyambung relevan menurut saya jadi mungkin 
saya ga komentar

9. ada hikmah " terkadang kita berpikir bahwa kemiskinan, kebodohan 
dll adalah cobaan yg diberikanNYA, sementara terkadang ada juga 
pemikiran bahwa kekayaan, ketampanan , kepintaran dll adalah rahmat 
yg diberikanNYa"
padahal antara keduanya bedanya sangat tipis, dan banyak yg tidak 
menyadari, dan banyak riwayat yg mengajarkan semisal betapa QARUN 
lupa dgn apa yg dimilinya
'mungkin maksud saya dgn kejadian yg menimpa saudara kita itu adalah 
bagian dari cobaan yg diberikanNYa dan seberapa besar keiklasannya 
menjalaninya (sebagaiomana kutipan ayat saya di email sebelumnya)
nah hal itu yg saya pikir ga ada relevansinya dgn pembasmian hal2 
korup / pungli itu mebuat kita menolak menjalani cobaaNYA


semoga ALlah meninggikan apa yg benar dari tulisan ini dan 
mengampuni apa yg salah,
mohon maaf atas semua-mua dan trims

andri
3A6- 2000

yg juga "malu" dan "muak"
wassalam

--- In [email protected], "edo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Maksudnya? Kita diam saja kalau dibohongi oleh orang2 yang 
berembel2 aparat? 
> Maaf kalau tidak berkenan... kalau semua orang berpikir seperti 
ini... bukankah ini berarti kita 'mengijinkan' praktek2 pungli dan 
korup?
> Apakah kalau kita menuntut supaya praktek2 aparat korup seperti 
itu dibasmi, berarti kita menolak untuk menjalani cobaan dari-Nya?
> 
> 
> edo
> yang juga malu dan muak dengan ulah aparat kita...
> 






Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL 
PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kasma1/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke