3. mungkin dan bisa jadi akan lebih baik jika
email tsb menambahkan
seperti " utk diketahui, just sharing, just forward,
fyi,dll)
(dgn mengetahui kesalahan yg ada "spt dlm kasus ini" mudah2an
dapat
menjadikan pelajaran buat yg lain, minimal utk tidak berbuat hal yg
sama)
4. pergeseran zaman mebuat kebiasaan mengungkapkan aib (meskipun
itu
salah) utk konsumsi umum, adalah hal yug lumrah
(tidak dibenarkan
kamu utk membuka aib saudaramu,, atau jika kamu
menutupi aib saudaramu
maka Ia akan menutupi aibmu) lagi2 saya lupa
surat apa- itu lebih
intisari
5. menutup aib seseorang (siapaun itu - keluarga, teman dll),
tidak
berarti sama halnya dgn melindungi kesalahan seseorang
(hal yg
banyak tidak dipahami org2 dewasa ini, apalagi dilembaga
peradilan yg
ktnya demokrasi - atau KAPITALIS...?)
6. ada lebih baik jika kita mengikuti
aturan main yg ada, misal dgm
melaporkan ke KPK utk masalah korupsi. dgn
intinya adalah bahwa
kebenaran yg akan menang/terungkap dan karma akan
berlaku
(KARMA = istilah yg saya gunakan bahwa apapun yg kita lakukan
baik/buruk pasti akan dibalasNYa, - sebagaimana IA membalas amal
sebesar biji zarah PUN)
7. perbedaan persepsi itu perlu dan itu akan
lebih membuat kita
dewasa bersikap dan menangani masalah, dalam artian
jika org punya
pikiran berbeda dlm menangani msalah "tidak berarti ia
'mengijinkan'
praktek pungli dan korup bukan?"
dalam salah satu bukunya
M. FAuzil adhim menulis bahwa kita dewasa
ini kebanyakan bersifat
oversimplified dan gampang mengambil
kesimpulan dari satu kasus saja -
ktnya sih teori psikologi
yg terjadi karena kultur masyarakjat dan
kebiasaan jelek2 yg melekat
8. menuntut pembasmian korupsi tidak berarti
kita menolak menjalani
cobaaNYa, dan agak kurang nyambung relevan menurut
saya jadi mungkin
saya ga komentar
9. ada hikmah " terkadang kita
berpikir bahwa kemiskinan, kebodohan
dll adalah cobaan yg diberikanNYA,
sementara terkadang ada juga
pemikiran bahwa kekayaan, ketampanan ,
kepintaran dll adalah rahmat
yg diberikanNYa"
padahal antara keduanya
bedanya sangat tipis, dan banyak yg tidak
menyadari, dan banyak riwayat yg
mengajarkan semisal betapa QARUN
lupa dgn apa yg dimilinya
'mungkin
maksud saya dgn kejadian yg menimpa saudara kita itu adalah
bagian dari
cobaan yg diberikanNYa dan seberapa besar keiklasannya
menjalaninya
(sebagaiomana kutipan ayat saya di email sebelumnya)
nah hal itu yg saya
pikir ga ada relevansinya dgn pembasmian hal2
korup / pungli itu mebuat
kita menolak menjalani cobaaNYA
semoga ALlah meninggikan apa yg
benar dari tulisan ini dan
mengampuni apa yg salah,
mohon maaf atas
semua-mua dan trims
andri
3A6- 2000
yg juga "malu" dan
"muak"
wassalam
--- In
[email protected], "edo"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Maksudnya? Kita diam saja
kalau dibohongi oleh orang2 yang
berembel2 aparat?
> Maaf kalau
tidak berkenan... kalau semua orang berpikir seperti
ini... bukankah ini
berarti kita 'mengijinkan' praktek2 pungli dan
korup?
> Apakah kalau
kita menuntut supaya praktek2 aparat korup seperti
itu dibasmi, berarti
kita menolak untuk menjalani cobaan dari-Nya?
>
>
>
edo
> yang juga malu dan muak dengan ulah aparat kita...
>
Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED]
YAHOO! GROUPS LINKS